Fenomena Open BO: Seluk-Beluk Hedonisme Pelacuran di Bandung

- Minggu, 10 Oktober 2021 | 19:43 WIB
[Ilustrasi] Open BO, kata ini belakangan sering rasanya kita dengar. Baik dalam gurauan tongkrongan maupun makna asli dari pengguna jasa Open BO. (Pixabay/Tumisu )
[Ilustrasi] Open BO, kata ini belakangan sering rasanya kita dengar. Baik dalam gurauan tongkrongan maupun makna asli dari pengguna jasa Open BO. (Pixabay/Tumisu )
 
LENGKONG, AYOBANDUNG.COM — Open BO, kata ini belakangan sering rasanya kita dengar. Baik dalam gurauan tongkrongan maupun makna asli dari pengguna jasa Open BO.
 
Seringnya, Open BO digunakan sebagai singkatan atau komunikasi kode dalam dunia prostitusi.
 
Di masyarakat, Open BO memiliki 2 arti, yang mana sama-sama konotasinya ke prostitusi online.
 
Yang pertama adalah Open Booking Out, sementara artinya yang kedua adalah Open Booking Online.
 
 
Dengan dua makna tersebut, tak mengejutkan kenapa prang-orang kerap menganggap istilah Open BO memiliki konotasi negatif.
 
Alhasil, jika ada istilah Open BO di sebuah jejaring media sosial, kemungkinan itu artinya si orang tersebut terlibat dalam prostitusi online.
 
Sebagai contoh, di jejaring media sosial Twitter kita bisa mudah menemukan para pelaku Open BO ini.
 
Cukup dengan memasukkan tagar #OpenBO, hasil pencarian akan menampilkan foto-foto wanita menggoda lengkap dengan tarif dan nomor yang bisa dihubungi.
 
Meski begitu, pelaku Open BO ini terbagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama adalah kelompok yang biasa menjajakan dirinya secara mandiri.
 
Kedua, kelompok pelaku yang memiliki mucikari untuk mencarikan calon pelanggannya.
 
 
Kelompok pertama berarti pelaku mempromosikan, mengerjakan, hingga meraih hasil untuk dirinya sendiri tanpa ada perantara.
 
Sedangkan untuk kelompok kedua dia memilih "mamih", julukan bagi mucikari untuk memudahkan mencari pelanggan.

Pengakuan Mamih Soal Fenomena Open BO di Bandung

[Ilustrasi Prostitusi Online] Open BO, kata ini belakangan sering rasanya kita dengar. Baik dalam gurauan tongkrongan maupun makna asli dari pengguna jasa Open BO. (Ayobandung.com)

Sebut saja X. Salah satu mucikari yang memiliki 5 "anak" ini punya sistem tersendiri untuk menjajakan para wanita asuhannya.
 
Namun, ada yang berbeda dengan sistem yang X gunakan. Empat dari lima anak asuhnya tidak melayani Open BO sekali kencan.
 
4 anak asuhnya ini ia "jual" kepada kliennya dengan sistem bulanan!
 
 
Menurutnya, dalam satu bulan ia memberi tarif sekitar Rp10-12 Juta bagi klien yang ingin menggunakan jasa anak buahnya.
 
"Klien harus transfer ke aku dulu, soalnya kan anak-anak aku mah jarang di-BO. Kebanyakan satu bulanan," ujar X kepada Ayobandung.com pada Minggu, 10 Oktober 2021.
 
X menuturkan, bahwa anak asuhnya rata-rata ia kenal saat ia masih bergelut di bidang sales.
 
 
Ia melanjutkan, mengapa memilih untuk berfokus bulanan, karena faktor keamanan dan kemudahan. 
 
"Kalo yang bulanan itu enak, cuma ribet di awal doang. Kesananya tinggal jalan aja, semacam udah dikontrak lah," tambahnya.
 
Meski begitu, jika ada klien yang tertarik untuk Open BO secara long time, X memasang tarif Rp3,54 juta untuk pelayanan dari jam 8 malam hingga pagi hari untuk menemani klien di hotel.
 
 
Sedangkan untuk tarif short time, ia menerapkan tarif 1,5 juta.
 
Selanjutnya, X mendapatkan bagian sebesar 20 persen dari satu anak asuhnya. Sistem bagi hasil ini ia terapkan untuk mendapat keuntungan dari jasanya mencarikan klien bagi anak asuhnya.
 
"Kalau penghasilan dari sini sih, ga pernah saya pake buat beli makanan atau minuman. Paling beli barang aja," tambahnya.
 
 
5 anak asuh yang dimilikki oleh X rata rata berusia 20-an. Relatif muda untuk mereka yang bertaruh nasib di dunia seks komersial.
 
Bahkan, salah satu anak asuh X berusia ada yang lebih belia dari yang ainnya, masih 19 tahun-an.
 
"Anak-anak aku mah ga ada yang di atas 25 tahun, ga mau ngejual ibu-ibu mah. Kalo umur 25 ke atas tuh males, ga bisa diarahin," lanjut X sembari terkekeh.
 
 
Selain itu, X juga sering menerima orderan dari calon-calon kliennya untuk menyediakan wanita yang bisa menemani untuk beberapa orang sekaligus.
 
Biasanya, pesanan semacam itu ia terima jika ada bos dari luar kota yang sedang berkunjung ke Kota Bandung.
 
Yang membedakan anak asuh X dengan pelaku Open BO di media sosial adalah pelayanan dan faktor keamanan.
 
 
Menurutnya, setiap anak asuhnya diwajibkan untuk menggunakan alat pelindung sex untuk menjaga kesehatan klien dan anak asuhnya.
 
Lebih lanjut, faktor yang mempengaruhi anak asuhnya memilih Open BO tak lain faktor ekonomi dan kebutuhan gaya hidup yang tinggi.
 
"Faktor ekonomi, terus pengen hedon. Jadi bisa dibilang gaya hidup yang tinggi menjadi alasan untuk mereka memilih Open BO," pungkasnya. [*]
 

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Update Omicron Kota Bandung, 80 Kontak Erat Dites PCR

Senin, 24 Januari 2022 | 13:17 WIB

Kasus 6 Omicron Bandung Tersebar, Ini Update Terbaru

Senin, 24 Januari 2022 | 13:09 WIB

Kasus Covid Bandung Naik Dua Kali Lipat dalam 4 Hari

Senin, 24 Januari 2022 | 10:42 WIB

Dinkes Catat 3.743 Kasus DBD Bandung Sepanjang 2021

Minggu, 23 Januari 2022 | 13:45 WIB
X