Benteng Belanda Cililin, Tembok Pertahanan Kolonial yang Dibangun dengan Upah Murah

- Jumat, 24 September 2021 | 16:29 WIB
benteng Gedong Belanda di Kampung Cimalik RT 04, RW 05, Desa Karanganyar, Kecamatan Cililin. (Ayobandung.com/Restu Nugraha)
benteng Gedong Belanda di Kampung Cimalik RT 04, RW 05, Desa Karanganyar, Kecamatan Cililin. (Ayobandung.com/Restu Nugraha)

NGAMPRAH, AYOBANDUNG.COM -- Jejak penjajahan kolonial Belanda di Bandung Barat masih berdiri kokoh hingga kini. Salah satunya benteng Gedong Belanda di Kampung Cimalik RT 04, RW 05, Desa Karanganyar, Kecamatan Cililin.

Selain jadi bukti pertahanan militer Belanda di wilayah selatan. Benteng tersebut juga jadi saksi bisu Kerja Rodi dan sistem upah murah yang diterapkan pemerintah kolonial.

Kasi Sejarah dan Cagar Budaya pada Disparbud Bandung Barat, Asep Diki Hidayat mengatakan proses pembangunan benteng tersebut dikerjakan oleh masyarakat Bumi Putera yang dibayar sebesar 3 sen per hari.

"Bisa jadi dari pemerintah Hindia Belanda upahnya sesuai standar waktu itu. Tapi mungkin disunat oleh para pejabat lokal," papar Diki, Jumat 24 September 2021.

Benteng Gedong Belanda di Kampung Cimalik RT 04, RW 05, Desa Karanganyar, Kecamatan Cililin. (Ayobandung.com/Restu Nugraha)

Situs Gedong Belanda itu merupakan bangunan atau benteng bersejarah peninggalan kolonial Belanda yang seluruhnya berjumlah 5 buah, mulai dibangun pada 1912 dan selesai 1918.

"Benteng itu dibangun pada tahun 1912 dan selesai 6 tahun kemudian (1918)," ungkapnya.

Diki menjelaskan, pembanguan benteng tersebut atas perintah Kerajaan Kolonial Belanda bertujuan untuk mempertahankan tanah hasil jajahannya di Indonesia.

Diketahui Belanda saat ini menerapkan sistem tanam paksa atau cultuurstelsel. Dengan aturan itu para petani pribumi wajib menyisihkan sebagian lahannya untuk ditanami komoditas ekspor atau bekerja suka rela menggarap tanah pemerintah.

Halaman:

Editor: Fira Nursyabani

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X