Penyebab Marak Boneka Pengemis di Bandung: Mereka Sebenarnya Malu Dikasihani

- Senin, 20 September 2021 | 19:51 WIB
Boneka pengemis di Kota Bandung semakin bertebaran, hampir di setiap perempatan dan lokasi strategis kita dapat menjumpainya. (Ayobandung.com/Muslim Yanuar Putra)
Boneka pengemis di Kota Bandung semakin bertebaran, hampir di setiap perempatan dan lokasi strategis kita dapat menjumpainya. (Ayobandung.com/Muslim Yanuar Putra)
LENGKONG, AYOBANDUNG.COM — Boneka pengemis di Kota Bandung semakin bertebaran, hampir di setiap perempatan dan lokasi strategis kita dapat menjumpainya.
 
Lalu apa sebenarnya motif di balik banyaknya orang menjadi boneka di lampu merah ini?. 
 
Fenomena ini berbanding lurus dengan data Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung melalui Dinas Sosial mencatat setidaknya 59.700 orang berstatus warga miskin baru. 
 
Penambahan jumlah ini diakibatkan oleh dampak buruk pandemi Covid-19.
 
Kepala Dinas Sosial Kota Bandung, Tono Rusdiantono mengatakan, jumlah warga miskin baru tersebut belum ada dalam data terpadu kesejahteraan sosial (DTKS) yang jumlahnya mencapai 139 ribuan pada Selasa, 7 September 2021.
 
Salah satunya Firman (35), ia rela beralih profesi menjadi boneka pengemis lantaran diberhentikan paksa oleh tempat dahulu ia bekerja. 
 
Dulu Firman bekerja sebagai asisten dapur di salah satu kedai yang sekarang tutup akibat pandemi. Setelah berbulan tanpa penghasilan yang pasti, ia diajak temannya untuk menjadi boneka pengemis di perempatan. 
 
"Awalnya diajakin temen, buat nyewa kostum boneka trus joget joget di lampu merah atau tempat ramai. Sehari saya sewa kostum ini 40.000 rupiah, sehari saya bisa dapat Rp75.000-100.000. Gak tentu," ujar Firman kepada Ayobandung.com pada Senin, 20 September 2021.
 
Meski begitu, ada beberapa boneka lain yang memang memiliki sendiri kostum boneka yang digunakan.
Menurut Firman, sebagian orang lain memilih untuk membeli sendiri agar penghasilan lebih besar dibanding menyewa kepada orang lain. 
 
"Ada yang punya sendiri, kalau saya karena belum ada modal jadi nyewa. Terus kan bisa pilih juga kostumnya biar gak bosen," tambahnya. 
 
Firman menambahkan, terkadang ia harus berlari tunggang langgang ketika ada petugas satpol PP menghampiri untuk melakukan razia Gepeng (Gembel dan Pengemis).
 
Ia pun menceritakan kejadian lucu ketika mengalami dikejar satpol PP di daerah Cihapit. 
 
"Pernah saya dikejar Pol PP, saya ga sadar karena sirinenya dimatikan. Tiba-tiba sudah ada di belakang saya, akhirnya saya lari karena takut dirazia. Eh malah kesandung dan jatoh ke selokan," ujarnya sambil terkekeh. 
 
 
Selain itu, Firman menceritakan suka duka menjadi boneka pengemis ini.
 
Seperti ada orang yang memberinya makanan, memberi uang sebesar Rp50 ribu, hingga anak kecil yang memaki-maki dirinya karena kostumnya kumal. 
 
"Banyak, Kang, suka dukanya, tapi kalau ada mah pingin kerja lagi seperti biasa. Ada rasa ga enak juga tiap hari minta-minta menghadap belas kasihan orang lain. Tapi ya kesempatan memang belum menghampiri," tambah Firman. [*]
 
 

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Jadwal Sholat Bandung Hari Ini 16 Oktober 2021

Sabtu, 16 Oktober 2021 | 04:00 WIB

Cantiknya Warna Warni Mural di Babakan Siliwangi

Jumat, 15 Oktober 2021 | 13:23 WIB

Kebakaran di Pagarsih Hanguskan Lima Rumah

Kamis, 14 Oktober 2021 | 11:41 WIB

Update Covid-19 Bandung, Kasus Tersisa 102

Kamis, 14 Oktober 2021 | 07:30 WIB
X