Warga Beberkan Penyebab Andir Sering Banjir Lumpur

- Senin, 20 September 2021 | 19:11 WIB
Rumah-rumah yang ditinggalkan pemiliknya di Kampung Andir, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung. Warga membeberkan penyebab Kelurahan Andir sering terserang banjir lumpur. Biang Keroknya ada di masalah pengerukan. (Ayobandung.com/Mildan Abdalloh)
Rumah-rumah yang ditinggalkan pemiliknya di Kampung Andir, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung. Warga membeberkan penyebab Kelurahan Andir sering terserang banjir lumpur. Biang Keroknya ada di masalah pengerukan. (Ayobandung.com/Mildan Abdalloh)

Warga membeberkan penyebab Kelurahan Andir sering terserang banjir lumpur. Biang Keroknya ada di masalah pengerukan.

BALEENDAH, AYOBANDUNG.COM — Sejumlah proyek penanganan banjir sedang dilakukan di Kelurahan Andir, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung.

Di antaranya adalah pembangunan tanggul beton, pengerukan, dan pembangunan danau retensi.

Bagi warga Andir, penanganan tersebut menjadi sebuah harapan terhentinya banjir yang selalu menggenang di daerah tersebut.

Junaedi (65) salah seorang warga Ciputat, Kelurahan Andir, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung bertutur, meluapnya air Sungai Citarum, selain karena debit air yang meningkat saat musim hujan, juga tidak terlepas dari sendimentasi.

"Setiap banjir, pasti membawa lumpur," ujar Jenaedi, Senin 20 September 2021.

Pengerukan menjadi salah satu solusi untuk mengurangi luapan air Sungai Citarum ke pemukiman warga.

Dahulu kala, Sungai Citarum sangatlah dalam, namun seiring dengan waktu, sendimentasi terus menyebabkan pendangkalan hingga dasar sungai dengan pemukiman nyaris tidak berbeda.

Pada tahun 1985 terjadi banjir yang besar di Kecamatan Baleendah. Setahun kemudian, pemerintah melakukan penanganan pencegahan banjir dengan cara mengeruk Sungai Citarum.

"Tahun 1986 dilakukan pengerukan. Lumpur dari pengerukan Sungai Citarum dibawa ke daerah lain untuk dijadikan pengurukan. Ada ribuan truk tanah yang diangkut," paparnya.

Hasil dari upaya tersebut sangat terasa oleh warga Andir. Bahkan kata Jaenudin, selama 5 tahun kampung halamannya tidak tergenang banjir.

Momen keberhasilan mencegah banjir sampai 5 tahun menjadi catatan bagi Junaedi, saat ini pengerukan dilakukan terus menerus, namun tanah yang dikeruk tidak diangkut ke daerah lain, melainkan hanya dialihkan ke bagian pinggir untuk dijadikan tanggul.

Tidak begitu lama, tanah tersebut kembali masuk ke sungai walaupun dalam jumlah tidak terlalu banyak.

Sendimentasi masih menjadi masalah, banjir pun tetap datang ketika hujan turun dengan intensitas tinggi.

"Di bagian tengah juga tidak dikeruk, hanya diubek-ubek. Mungkin supaya lumpurnya terbawa arus. Jadinya tetap banjir," katanya.

Harapan lain adalah pembangunan tanggul dari beton. Junaedi berpapar, tanggul tersebut akan mampu menahan air Citarum. Namun masih menyisakan pertanyaan besar bagi dirinya.

"Di sini ada sejumlah pintu air. Kalau tidak ditutup, kemungkinan besar tetap akan masuk. Tidak tahu nantinya akan ada pompa air atau tidak. Jadi masih tetap was was banjir akan kembali terjadi saat musim hujan sekarang," katanya.

Pun dengan pembangunan danau retensi. Pengalaman dari pembangunan danau retensi Cieunteung, banjir tetap terjadi walaupun dengan adanya danau tersebut sedikit mereduksi dampak, baik lama genangan maupun banjir datang secara lambat.

Baca Juga: Puluhan Rumah di Andir Ditinggalkan Pemiliknya, Dibiarkan Sampai Lapuk

Terlepas dari semua itu, Junaedi dan penduduk Baleendah lainnya menginginkan agar banjir bisa diselesaikan.

Paling tidak, dalam kurun waktu tertentu, seperti penanganan pada 1986 yang mampu menghentikan banjir selama 5 tahun. [*]

Baca Juga: Warga Andir Bercocok Tanam di Tanggul Sungai Citarum, Hasilnya untuk Bekal Saat Banjir

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X