Dilarang Tabuh Gong di Kampung Mahmud: Azab Bencana akan Muncul!

- Rabu, 15 September 2021 | 19:03 WIB
Kampung Adat Mahmud merupakan pusat penyebaran Islam di Bandung. (Ayobandung.com/Mildan Abdalloh)
Kampung Adat Mahmud merupakan pusat penyebaran Islam di Bandung. (Ayobandung.com/Mildan Abdalloh)

MARGAASIH, AYOBANDUNG.COM — Menabuh gong sudah jadi hal tabu, sejak ratusan tahun lalu, bagi masyarakat di Kampung Mahmud, Desa Rahayu, Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung.

Bahkan larangan menabuh gong menjadi aturan di kampung itu, sejak berabad lalu.

"Di Kampung Mahmud, memang memiliki aturan tidak boleh menabuh gong," ujar Sekretaris Yayasan Situs Mahmud, Husni Muhtar, Rabu 15 September 2021.

Aturan tersebut telah ditetapkan oleh Eyang Dalem Haji Abdul Manaf, ulama yang pertama kali menempati Kampung Mahmud.

Bukan tanpa alasan aturan diterapkan, melainkan terdapat sejarah di dalamnya yang kental dengan pemerintahan Bandung.

Dijelaskan Husni, Eyang Dalem Haji Abdul Manaf merupakan pewaris tahta Bupati Bandung pada akhir abad 17.

Namun, pada waktu itu Eyang Dalem tidak menginginkan tahta Bupati Bandung, karena berada dalam pengawasan Belanda.

Eyang Dalem Haji Abdul Manaf tetap dipaska untuk menjadi Bupati Bandung, bahkan sampai dipaksa akan dilantik.

Karena tidak menginginkan jabatannya berada di bawah Belanda, Eyang Dalem Haji Abdul Manaf, kata Husni, berdoa kepada Allah Swt. supaya prosesi pelantikannya gagal.

Hingga tiba saatnya tiba, prosesi pelantikan Bupati Bandung biasanya ditandai dengan tradisi memukul Gong.

"Pada saat gong dipukul, tiba-tiba terjadi bencana besar. Hujang besar disertai angin besar dan petir," ujarnya.

Bencana besar setelah gong dipukul tersebut digunakan oleh Eyang Dalem Haji Abdul Manaf untuk melarikan diri.

Dalam pelariannya, beliau berikrar akan mencari tempat yang tidak pernah bisa diinjak oleh Belanda.

"Belanda paling tidak suka masuk ke Rawa, karena dengan tubuh besar akan merepotkan apabila masuk ke daerah rawa. Kampung inilah yang dipilih oleh Eyang Dalem Haji Abdul Manaf untuk dijadikan tempat bermukim," paparnya.

Nama Mahmud yang disematkan pada Kampung tersebut pun diambil dari sebuah perkampungan di Tanah Suci.

Menurut Husni, pada awal menempati kampung itu, beliau berdoa Kepada Allah Stw. dan mendapat petunjuk harus mendapatkan tanah dari Mekah.

Alhasil, Eyang Dalem Haji Abdul Manaf bertolak ke Tanah Suci. Oleh-oleh dari Makkah adalah tanah yang ditaburkan di Kampung yang kemudian diberi nama Mahmud.

Nama kampung itu, Mahmud, sama persis dengan kampung di Makkah, di mana tanah aslinya diambil.

Larangan menabuh gong sampai sekarang tetap dipertahankan dan tidak ada masyarakat yang melanggarnya.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X