Pengelola Sampah Hasilkan Jutaan Rupiah, Dahulu Ditolak Warga dan Pejabat

- Jumat, 10 September 2021 | 17:11 WIB
[Ilustrasi sampah] Bank Sampah Mandiri Tematik Magot di Desa Cileunyi Wetan, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung, bisa menghasilkan uang ratusan juta rupiah. (Pixabay/Hans Braxmeier)
[Ilustrasi sampah] Bank Sampah Mandiri Tematik Magot di Desa Cileunyi Wetan, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung, bisa menghasilkan uang ratusan juta rupiah. (Pixabay/Hans Braxmeier)

CIELUNYI, AYOBANDUNG.COM — Bank Sampah Mandiri Tematik Magot di Desa Cileunyi Wetan, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung, bisa menghasilkan uang ratusan juta rupiah hanya dengan mengelola sampah di dua RT (Rukun Tetangga).

Sebelum bisa sukses, warga setempat pernah menolak bekerja sama dengan bank sampah itu. Kemudian setelah sukses mengelola, pejabat pun banyak yang datang.

Ketua Bank Sampah Mandiri Tematik Magot Deni Sulaeman mengatakan, bank sampah yang dikelola masyarakat itu mulai berjalan pada akhir 2019 dan baru efektif berjalan pada 2020 awal.

"Keinginan mengelola sampah itu jauh sebelum akhir 2019, sudah diutarakan kepada RW namun tidak ditindaklanjuti," ujar Deni kepada Ayobandungc.com, Jumat, 10 September 2021.

Di RW 7 Desa Cileunyi Wetan, kata Deni, tidak ada layanan angkutan sampah. Alhasil, masyarakat biasanya membuang sampah secara sembarangan, atau dibuang ke perumahan DPRD yang tidak jadi-jadi, juga ke lahan-lahan kosong pinggir jalan.

Pada november 2019, dilakukan pemilihan RW. Keinginan mengelola sampah skala lingkungan kembali diutarakan Deni kepada ketua RW baru.

"Disambut baik oleh RW baru. Kebetulan juga ada program pengelolaan sampah tematik dari Dinas LH melalui program raksa desa," ujarnya.

Konsep pengelolaan sampah lingkungan dengan biokonversi magot kemudian disampaikan kepada pihak Desa Cileunyi Wetan.

Pada waktu itu, pihak desa bahkan tidak mengetahui konsep pengelolaan sampah memanfaatkan lalat hitam tersebut.

"Orang desa juga tidak tahu apa itu magot. Saya jelaskan, akhirnya diterima. Namun untuk mencegah ada kecemburuan sosial, program pengelolaan sampah tematik tersebut dilombakan kepada seluruh RW," katanya.

Hal tersebut dikarenakan dari program Pengelolaan Sampah Tematik, pihak Dinas LH akan memberikan bantuan senilai Rp33 juta untuk pembangunan infsrastuktur dan sarana pendukung.

Setiap RW melakukan presentasi pengelolaan sampah menggunakan sistem biokonversi magot. Semua presentasi dinilai sangat bagus oleh pihak Desa.

"Kami bisa menang, saat pihak desa menanyakan modal Rp33 juta itu bisa BEP (Break Even Poin) berapa lama. Semuanya tidak ada yang menjawab, saya jawab 1 tahun," katanya.

Deni sebelumnya memang sudah tidak asing dengan ternak magot, sehingga sudah paham mengelola belatung sampai bisa menghasilkan uang.

Bank Sampah Pernah Ditolak Warga

Meski mendapat bantuan program, tidak lantas rencana bisa mengelola sampah sendiri menjadi mulus. Kendala yang dihadapi adalah lahan untuk dijadikan tempat pengelolaan.

Bahkan saat rapat RW, tidak semua warga setuju. Beberapa orang bahkan menolak mentah-mentah dengan alasan sampah itu bau dan menjijikan.

"Saya bilang yang mau ikut, ayo, yang tidak mau juga tidak apa-apa. Ada beberapa orang yang ikut," katanya.

Setelah berbicara di tingkat RW, akhirnya ditentukan lahan untuk mengelola sampah adalah sebuah tanah wakaf untuk dijadikan tempat pemakaman. Lahan tersebut kemudian dibersihkan.

"Tapi ternyata pihak ahli waris tidak menginginkan lahannya digunakan untuk mengolah sampah. Untungnya ada H Ujang, dia mengikhlaskan lahannya untuk dijadikan tempat pengolahan," ungkapnya.

Lahan yang lumayan luas tersebut kemudian diolah. Sampai akhirnya dana Rp33 juta dari Dinas LH Kabupaen Bandung turun.

Dana tersebut bukan dalam bentuk uang, melainkan berupa pembangunan sarana dan prasarana.

Tanah Pengelolaan Sampah Akhirnya Diinjak Pejabat

Kawasan RW 7 sebelumnya jarang menjadi perhatian. Bahkan cenderung diacuhkan.

Deni berujar, jangankan pejabat tingkat Kabupaten, untuk kelas Kepala Desa saja jarang menginjakan kaki di tempat tersebut.

Namun, setelah pengelolaan sampah berjalan dan sampai menghasilkan uang, tidak sedikit pejabat datang untuk melihat proses pengelolaan sampah menggunakan sistem biokonversi magot tersebut.

"Sekarang, banyak yang datang. Bahkan mau dijadikan penelitian oleh IPDN. Kemarin-kemarin juga ada dari DPRD Jawa Barat ke sini setelah meninjau TPPAS Legok Nangka," ujanya.

Pengelolaan sampah di Bank Sampah Mandiri Tematik Magot dilakukan oleh sekitar 15 orang warga. Sampah di 2 RT diambil secara bergiliran, kemudian dipilah. Sampah anorganik sebagian ditimbun untuk dijual, sisanya dibakar.

Sementara sampah organik digunakan untuk pakan magot. Magot yang dihasilkan digunakan untuk pakan ternak seperti ayam, angsa, kalkun, bebek, dan ikan.

Ternak yang dihasilkan kemudian dijual. Tidak jarang telur magot juga dijual dengan harga lumayan tinggi.

Jika ditotalkan, selama setahun terakhir sudah bisa menghasilkan uang lebih dari Rp100 juta, janji bisa BEP Rp33 juta tersebut sudah bisa dilampaui.

Uang hasil penjualan, sebagian digunakan untuk pengembangan seperti membangun kandang, membangun saung dan lainnya. Sebagian lagi dibagikan kepada pengurus.

"Kami tidak memungut biaya penarikan kepada masyarakat. Memang menyediakan kencleng seikhlasnya," imbuhnya. [*]

Baca Juga: Biokonversi Magot, Metode Pengelolaan Sampah Penghasil Uang Ratusan Juta

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X