Kabupaten Bandung Bayar Rp30 Miliar untuk Buang Sampah ke TPPAS Legok Nangka

- Jumat, 3 September 2021 | 18:31 WIB
Tempat Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah (TPPAS) Regional Legok Nangka. Membuang sampah ke Tempat Pembuangan dan Pengolahan Akhir Sampah (TPPAS) Regional Legok Nangka dinilai tidak efisien bagi Kabupaten Bandung. (Dok. Humas Pemkot Bandung)
Tempat Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah (TPPAS) Regional Legok Nangka. Membuang sampah ke Tempat Pembuangan dan Pengolahan Akhir Sampah (TPPAS) Regional Legok Nangka dinilai tidak efisien bagi Kabupaten Bandung. (Dok. Humas Pemkot Bandung)

SOREANG, AYOBANDUNG.COM — Membuang sampah ke Tempat Pembuangan dan Pengolahan Akhir Sampah (TPPAS) Regional Legok Nangka dinilai tidak efisien bagi Kabupaten Bandung.

Menurut Ketua Komisi C DPRD Kabupaten Bandung, Yanto Setianto, tidak efisiensinya bagi Kabupaten Bandung membuang sampah ke TPPAS Legok Nangka dikarenakan biaya operasional yang mahal.

"Setiap tahun, Kabupaten Bandung harus membayar tipping fee sebesar Rp30 miliar," ujar Yanto, Jumat 3 Agustus 2021.

Hitungan tersebut masih bersifat kasar, mengingat diperkirakan akan ada biaya lain. Salah satunya adalah keharusan membeli armada baru.

Dijelaskan Yanto, untuk menuju ke lokasi TPPAS, armada pengangkut harus menempuh jalan dengan kemiringan lebih dari 15 derajat. Armada yang ada saat ini akan berat jika harus melewati jalan tersebut.

"Artinya harus melakukan pengadaan armada baru yang harganya juga mahal," ucapnya.

Yanto melanjutkan, seharusnya tipping fee Legok Nangka bisa lebih murah. Pasalnya, sampah yang dikirim ke TPPAS Legoknangka akan dijadikan bahan bakar untuk pembangkit listrik, artinya pihak pengelola akan mendapat keuntungan dari penjualan listrik.

"Kita yang sediakan bahan baku, kita yang harus bayar. Itu kan swasta, mereka tidak ingin rugi dan ambil risiko," katanya.

Dari pada harus membuang uang ke TPPAS Legok Nangka, Pemkab Bandung sebaiknya membuat tempat pengolahan sampah sendiri. Walaupun tetap harus membayar tipping fee, namun setidaknya biaya tersebut akan menjadi PAD.

"KDN (Kompensasi Dampak Negatif) dari Legok Nangka tidak bisa menjadi PAD, karena itu untuk masyarakat sekitar. Lain halnya jika memiliki TPA sendiri, akan menjadi PAD," ujarnya.

Cimahi Rogoh Kocek Lebih Dalam Buang Sampah ke Legok Nangka

Pemerintah Kota Cimahi merogoh kocek lebih dalam untuk biaya pengangkutan sampah ke Tempat Pembuangan dan Pengolahan Akhir Sampah (TPPAS) Legok Nangka, Kabupaten Bandung.

Total biaya yang harus disiapkan untuk mengangkut sampah sekitar 150 ton per hari yakni Rp23 miliar setiap tahun. Angka ini lebih besar dibandingkan ongkos angkutan ke TPA Sarimukti yang hanya Rp16 miliar.

"Penanganan sampah Legok Langka kurang lebih 150 ton per hari estimasi yang diangkutnya. Estimasi biaya sekitar Rp 23 miliar," terang Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Cimahi, Lilik Setyaningsih saat ditemui Ayobandung.com, Rabu, 18 Agustus 2021.

Estimasi pengeluaran biaya pengangkutan sampah dari Kota Cimahi itu hanya untuk Kompensasi Jasa Pelayanan (KJP) dan Kompensasi Dampak Negatif (KDN). Jika ke TPA Sarimukti, terang Lilik, biaya pelayanan yang meliputi pengangkutan, KJP dan KDN hanya Rp198.255 per ton. Sedangkan bila ke TPPAS dengan item serupa mencapai Rp423.168 per ton. 

"Estimasi biaya ke Legok Nangka itu sudah dihitung dengan subsidi dari Pemprov Jabar. Kalau gak disubsidi bakal lebih besar lagi biayanya," sebut Lilik.

Saat ini, volume timbulan sampah setiap harinya mencapai 270 ton lebih setiap harinya. Sementara yang bisa diangkut ke TPA Sarimukti hanya sekitar 220 ton per hari. Sisanya ada yang didaur ulang di berbagai Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) dan oleh warga. 

Lilik melanjutkan, beberapa tahun ke depan pihaknya mengestimasikan volume sampah di Kota Cimahi mencapai 300 ton setiap harinya. Namun untuk sementara ini sampah yang akan diangkut ke TPPAS Legok Nangka minimalnya 150 ton per hari. 

Artinya, pihaknya memiliki pekerjaan rumah untuk mendaur ulang sisa sampah yang tak dibuang TPPAS Legok Nangka. "Dalam perjanjian 150 per hari. Berarti kita harus mampu melakukan daur ulang sisanya," ujarnya.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X