Cerita Pendek: TATAPAN MATA

- Sabtu, 28 Agustus 2021 | 07:48 WIB
Ilustrasi cerita pendek Tatapan Mata (Heinry Kurniawan)
Ilustrasi cerita pendek Tatapan Mata (Heinry Kurniawan)

Oleh Rumadi

MATA kami bersitatap. Itu adalah untuk pertama kalinya. Betapa dadaku bergemuruh riuh, dan aku bingung apa yang harus aku lakukan. Aku tidak bisa melakukan yang sebagaimana ibu perintahkan jika suatu hari aku bertemu dan bertatapan mata dengannya, yaitu lari. Kakiku serasa tertancap di tanah. Ingin menyapa, lidahku kelu, suaraku tercekat di tenggorokan. Namun satu yang berbeda dari apa yang diceritakan oleh Ibu, sorot mata itu tidak semengerikan yang disampaikan. Jika kita menatapnya lebih dalam, sorot mata itu bening belaka. Bahkan ada semacam sulur-sulur sinar yang bercahaya yang memancar.

Namanya Mak Ru. Usianya sudah lebih dari lima puluh. Hidup seorang diri di perbatasan kampung, dan rumahnya merupakan rumah paling ujung, seperti penanda perbatasan desa. Rumahnya menyendiri terpencil, seolah ia adalah orang yang terasing, mengasingkan diri, atau diasingkan.

Tak satu pun penduduk desa kami peduli dengan kehadirannya, bahkan dalam acara selamatan, hajatan semacam nikahan, Mak Ru tidak pernah dikirimi undangan. Makanan pun tidak. Sebegitu bencinya penduduk desaku terhadap Mak Ru.

Konon, ia adalah manusia paling berdosa. Tidak ada yang tahu asal-usul yang pasti, tetapi kehadirannya di desa ini seperti hendak menabur noda-noda hitam di atas kain putih yang bercahaya. Aku berusaha mengingat segalanya tentang Mak Ru dari cerita yang pernah disampaikan Ibu, atau dari tetangga dan teman-teman.

"Kenapa menatapku semacam itu?"

Mak Ru bertanya. Suaranya dalam dan tegas. Meski perempuan suara itu menggelegar yang membuyarkan lamunanku. Aku membuka mulut, hendak menjawab, dan tak ada sepatah kata pun yang kuucapkan.

Ia sedang memanggul karung yang berisi rumput. Ia baru saja mencari rumput untuk pakan ternaknya. Ia berjalan melewatiku, dan aku menghirup udara dalam-dalam. Konon, ketika Mak Ru lewat, akan ada bau busuk yang menyeruak. Dan bau busuk yang diceritakan serupa mitos belaka. Aku hanya mencium bau keringat. Bahkan samar-samar kuhirup aroma melati.

Sore hari begini, tentu bukan sesuatu yang ganjil. Namun aku masih terpaku di tempatku berdiri, hingga akhirnya Mak Ru telah jauh. Beberapa teman menghampiri, sebelumnya mereka hanya mengintip dari balik pohon-pohon besar yang tumbuh di sekitar kanan dan kiri jalan. Tentu mereka menanyaiku macam-macam dan pertanyaan apakah kau baik-baik saja? Aku hanya mengangguk pelan, dan kemudian berjalan pulang dengan langkah gegas.

Halaman:

Editor: Dudung Ridwan

Tags

Terkini

Cerita Pendek: SUATU HARI TANPA ISTRI

Sabtu, 9 Oktober 2021 | 11:46 WIB

Sastra Sunda: LAWUNG DI BASISIR CIUJUNG

Sabtu, 2 Oktober 2021 | 10:32 WIB

Sastra Sunda: LAGU PANINEUNGAN

Sabtu, 18 September 2021 | 09:42 WIB

Cerita Pendek: INTEROGASI

Sabtu, 11 September 2021 | 10:33 WIB

Sastra Sunda: MAPAG UDAT-UDAT BALEBAT

Sabtu, 4 September 2021 | 10:04 WIB

Cerita Pendek: TATAPAN MATA

Sabtu, 28 Agustus 2021 | 07:48 WIB

Sastra Sunda: NU CÉPLAK JEUNG SEUHAH

Sabtu, 21 Agustus 2021 | 09:13 WIB

Cerpen: Mantra Kuno di Kajoetangan

Sabtu, 14 Agustus 2021 | 12:06 WIB

Sastra Sunda: KATURUG KATUTUH

Sabtu, 7 Agustus 2021 | 10:15 WIB

Sastra Sunda: MAPAG HIBAR PANGHAREPAN

Sabtu, 24 Juli 2021 | 13:59 WIB

Sastra Sunda: ÉLÉGI PANDEMI

Sabtu, 10 Juli 2021 | 10:47 WIB

Nu Dijilbab Kayas

Selasa, 22 Juni 2021 | 14:59 WIB
X