Cerpen: Mantra Kuno di Kajoetangan

- Sabtu, 14 Agustus 2021 | 12:06 WIB
Ilustrasi cerpen Mantra Kuno di Kajoetangan. (Heinry Kurniawan)
Ilustrasi cerpen Mantra Kuno di Kajoetangan. (Heinry Kurniawan)

Oleh: Vito Prasetyo

ARJUNA Wiwaha duduk di tepi bukit pasanggrahan, seakan ingin menumpahkan rasa cintanya ke aliran air sungai yang mengalir deras seperti melagukan kidung bambu dan rerumputan ilalang dan menyenandungkan asmara. Entah ke mana lagi harus dicarinya Ken Dedes, perempuan penuh aroma asmara, hingga seluruh lelaki negeri Astina merindukan senyumannya.

Sudah berapa ratus judul puisi yang ditulis Arjuna Wiwaha, untuk membaca tatapan mata Ken Dedes. Hingga berwindu-windu lamanya ia hanya menghabiskan penantiannya bersama larik malam dalam mimpi-mimpi bisu. Dan entah sudah berapa banyak mangkuk serbat yang dihabiskannya untuk menawarkan kegilaan pikirannya, agar ingatannya dapat terlepas dari beban itu.

“Aku melihat wajahmu seperti sinar rembulan di mangkuk ini.”

Pikirannya sudah penuh dengan perasaan berandai-andai. Ia telah lupa bahwa masanya tidak mungkin menyatu dengan masa Ken Dedes. Tetapi riuh udara yang senantiasa menerpanya, seakan bayangan roh Ken Dedes telah datang bersama embusan angin. Arjuna Wiwaha, yang merasa sebagai turunan dewa, merasa mampu menelusuri perjalanan masa akan datang.

Raja Tumapel yang pada saat itu dipegang oleh Tunggul Ametung, setiap tahun mengadakan lomba. Perhelatan lomba yang diadakan bermacam-macam, agar penduduk yang dipimpinnya dapat merasakan kesenangan. Termasuk lomba membaca geguritan, yang pemenangnya mendapatkan hadiah seorang perempuan cantik, dan dapat mempersuntingnya. Lomba ini terisar ke seluruh pelosok negeri, dan Arjuna Wiwaha mendengarnya.

Bagai mimpi di siang bolong, Arjuna Wiwaha akan tampil bersama wanita yang sangat dikagumi di seluruh negeri, Ken Dedes. Mangkuk di hadapannya seakan melukis wajah Ken Dedes. Arjuna Wiwaha melewati malam dalam penat gelisah yang begitu panjang. Matanya menatap langit-langit kamar seakan di situ ada bayangannya dengan wanita tercantik di negeri itu. Arjuna Wiwaha tak mampu lagi membedakan minuman, antara serbat dan arak Antara sadar dan tidak, mungkin karena pengaruh minuman arak yang terlalu banyak, Arjuna Wiwaha seakan melihat kematian.

Aroma bunga sepanjang perjalanan menuju kuburan, bagai bait-bait sajak yang begitu menyayat. Pesta yang seharusnya berlangsung dengan meriah, menjadi sebuah kesedihan bagi Arjuna Wiwaha. Siang ini, matahari sungguh menyengat sinarnya, seketika langit gelap. Kepergian Tunggul Ametung yang tiba-tiba seperti tidak ada yang percaya. Sebilah keris sakti telah membunuh Tunggul Ametung.

“Seharusnya aku bergembira atas kepergian adipati.” Arjuna berbicara sendiri pada dirinya.

Halaman:

Editor: Dudung Ridwan

Sumber: Vito Prasetyo

Tags

Terkini

Cerita Pendek: SUATU HARI TANPA ISTRI

Sabtu, 9 Oktober 2021 | 11:46 WIB

Sastra Sunda: LAWUNG DI BASISIR CIUJUNG

Sabtu, 2 Oktober 2021 | 10:32 WIB

Sastra Sunda: LAGU PANINEUNGAN

Sabtu, 18 September 2021 | 09:42 WIB

Cerita Pendek: INTEROGASI

Sabtu, 11 September 2021 | 10:33 WIB

Sastra Sunda: MAPAG UDAT-UDAT BALEBAT

Sabtu, 4 September 2021 | 10:04 WIB

Cerita Pendek: TATAPAN MATA

Sabtu, 28 Agustus 2021 | 07:48 WIB

Sastra Sunda: NU CÉPLAK JEUNG SEUHAH

Sabtu, 21 Agustus 2021 | 09:13 WIB

Cerpen: Mantra Kuno di Kajoetangan

Sabtu, 14 Agustus 2021 | 12:06 WIB

Sastra Sunda: KATURUG KATUTUH

Sabtu, 7 Agustus 2021 | 10:15 WIB

Sastra Sunda: MAPAG HIBAR PANGHAREPAN

Sabtu, 24 Juli 2021 | 13:59 WIB

Sastra Sunda: ÉLÉGI PANDEMI

Sabtu, 10 Juli 2021 | 10:47 WIB

Nu Dijilbab Kayas

Selasa, 22 Juni 2021 | 14:59 WIB
X