Cerita Pendek: LELAKI TANPA ATAP LANGIT DAN TANPA ALAS BUMI

- Sabtu, 17 September 2022 | 09:19 WIB
Ilustrasi cerpen Lelaki Tanpa Atap Langit Tanpa Alas Bumi. (Dodi Rosadi)
Ilustrasi cerpen Lelaki Tanpa Atap Langit Tanpa Alas Bumi. (Dodi Rosadi)

Cerita pendek: Kak Ian

SEBENARNYA aku tidak begitu percaya yang namanya sebuah kebetulan, terlebih lama waktunya pun sudah berlalu, beberapa tahun silam. Namun jika itu merupakan sebuah takdir, itu lain hal. Siapa pun tidak akan mengelaknya.

Seperti kami alami saat itu. Awal dari semua peristiwa yang terjadi. Mungkin bisa dikatakan takdir. Entah.

Hari itu hujan begitu deras. Semua kota dilanda oleh banjir, akibat debit air hujan yang semakin meninggi. Hingga membuat segala aktivitas warga kota terganggu. Entah, bagi mereka yang ingin ke kantor, ke kampus, ke sekolah, ke pasar, ke rumah sakit maupun ke tempat hiburan. Semua terhalang dan terhambat oleh banjir yang tidak bisa dielakkan lagi.

Begitu pun yang terjadi di rumah kami. Derasnya hujan mengakibatkan banyaknya genangan air yang mengendap. Mau tidaknya, barang-barang elektronik dan mudah basah sudah tentu dipindahkan ke lantai atas. Kebetulan rumah kami bertingkat. Jadi kemungkinan bila barang-barang itu ada di lantai atas bisa lebih aman. Begitu pikiran kami.

Tapi kami bingung untuk mengangkatnya. Tentu butuh tenaga tambahan untuk hal itu. Karena kami hanya tinggal berdua; aku dan ibu. Sedangkan ayah dinas ke luar kota sudah seminggu yang lalu. Jadi tidak mungkin kami menelepon ayah apalagi minta bantuan padanya.

Ibu saat itu kulihat sangat kebingungan. Dalam kondisi seperti ini, tidak mungkin kami melakukannya berdua. Apalagi barang-barang elektronik dan mudah basah cukup banyak serta berat untuk diangkat ke lantai atas rumah kami. Aku pun tidak mungkin kan menyuruh ibu ikut mengangkat barang-barang itu semua untuk menghindari dari kepungan air yang sudah masuk ke dalam rumah kami?

Tuhan ternyata mendengar keinginan kami. Dalam kondisi dan keadaan seperti itu, tetiba datang malaikat penolong. Tapi aku sedikit agak sebal kenapa juga malaikat penolong kami itu harus lelaki asing yang selalu tidur di pos keamanan sebagai tempat tinggalnya. Ternyata dialah malaikat penolongnya!

Memang pos keamanan itu tidak jauh dari rumah kami. Hanya berjarak 100 meter. Jadi tahu jika tiap malam lelaki itu akan singgah di sana. Padahal kami yang tinggal di komplek perumahan tidak tahu siapa sebenarnya dirinya itu. Semua tidak memedulikan kehadirannya.

Terpenting lelaki itu tidak membuat keributan ataupun kekacauan di komplek perumahan ini, biarkan saja malah lebih aman. Hitung-hitung sebagai penambah penjaga keamanan di tempat ini. Begitulah hasil rundingan para penghuni komplek perumahan saat mengetahui keberadaannya. Semua pun menerima keputusan itu.

Halaman:

Editor: Dudung Ridwan

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Malati Kari Bodasna

Sabtu, 3 Desember 2022 | 10:00 WIB

Cerita Pendek: PEREMPUAN YANG INGIN MENYULAM BIBIRNYA

Sabtu, 26 November 2022 | 10:01 WIB

Carita Pondok: VILA CANTIKA

Sabtu, 19 November 2022 | 06:43 WIB

Cerita Pendek: GROOTE POST WEG 17

Sabtu, 12 November 2022 | 14:00 WIB

Carita Pondok: HIJI WENGI SISI TALAGA

Sabtu, 5 November 2022 | 08:36 WIB

Cerita Pendek: KABUT KEMBANG RANDU

Sabtu, 29 Oktober 2022 | 06:59 WIB

Carita Pondok: KURUPUK UDANG DINA TOPLES

Sabtu, 22 Oktober 2022 | 11:38 WIB

Cerita Pendek: PERSELINGKUHAN

Sabtu, 15 Oktober 2022 | 08:06 WIB

Carita Pondok: GUPAY PANUNGTUNG

Sabtu, 8 Oktober 2022 | 13:28 WIB

Dongeng Pendek Sunda: Hayang Aya Kumisan

Kamis, 6 Oktober 2022 | 16:51 WIB

Dongeng Pendek Sunda: Putri Sawidak Loro

Selasa, 4 Oktober 2022 | 15:27 WIB

Dongeng Pendek Sunda: Sangu Sesa

Senin, 3 Oktober 2022 | 16:30 WIB

Carita Pondok: LENGLANG-LENGLANG SAWAH URANG

Sabtu, 24 September 2022 | 08:44 WIB

Carita Pondok: MARSIH

Sabtu, 10 September 2022 | 07:18 WIB

Cerita Pendek: TAWA DINI HARI

Sabtu, 3 September 2022 | 09:11 WIB

Carita Pondok: TANGKAL DARAJAT

Sabtu, 27 Agustus 2022 | 10:47 WIB

Cerita Pendek: RADIO

Sabtu, 20 Agustus 2022 | 11:44 WIB
X