Cerita Pendek: TAWA DINI HARI

- Sabtu, 3 September 2022 | 09:11 WIB
Ilustrasi cerpen Tawa Dini Hari. (Dodi Rosadi)
Ilustrasi cerpen Tawa Dini Hari. (Dodi Rosadi)

Cerpen Hikmat Gumelar

TEPAT ketika burung hantu dari pohon sawo terdengar untuk kedua kalinya, Parno diganti. Parno sendiri menampik. Sopir angkutan pedesaan ini yakin benar, setelah hanya menang empat putaran dari puluhan putaran, sekarang giliran sebaliknya. Aku akan menang. Menang. Terus menang. Namun, ludas sudah uangnya.

Parno ragu. Tidak percaya. Ia rogoh dua saku depan dan dua saku belakang celananya. Hampa. Begitu pula dua saku jaketnya. Pada ke mana duitku? Disamber tuyul?

Ya. Sebagian besar uangnya memang diambil tuyul. Tapi tuyulnya tuyul kartu tiga lawan mainnya. Itulah yang juga membuatnya bermain gegabah hingga ia terus kalah dan sudah berutang ke tiga lawan mainnya. Total utangnya Rp800.000. Ini belum utangnya ke warung Bi Anah. Ia sudah berutang empat mangkuk mie rebus, dua belas bungkus kacang asin, tujuh gelas kopi, dan lima bungkus rokok. Semua itu harganya tiga kali lipat harga pasaran.

Meski begitu, Parno berani menambah utangnya. Tapi tak seorang pun yang sudi memberinya lagi pinjaman. Parno ngotot. “Demi Alloh, pasti dibayar! Duitku masih banyak di rumah. Demi Alloh!”

“Kalau masih banyak duitmu, ambil saja dulu,” Tohar yang duduk berhadapan dengan Parno berujar datar sambil menjentikkan abu rokok ke asbak.

Parno tak bisa lagi bangun. Ia sudah bergegas menembus gelap jalan sedepa diapit kebun singkong dan rumpun bambu. Ketika tiba di remang bawah pohon sukun, ia berhenti. Mengatur napas sambil mata dibantu terang bohlam lima belas watt memerhatikan pintu pagar bambu, jalan tumpukan bata lebar sedepa, beranda bata menunggu disemen, dan pintu kayu cokelat belum dicat. Ia lalu hati-hati mengayun kaki. Hati-hati membuka pintu yang tak dikunci, seperti dimintanya ke Yani, istrinya yang tengah hamil tujuh bulan.

Ia lebih hati-hati lagi ketika membuka pintu lemari pakaian di sebelah ranjang tempat Yani berbaring. Ia sumringah ketika menjauhi pintu pagar tanpa Yani terbangun.

“Sukses!” cetusnya sambil mengangkat dua tangan mengepal.

Tapi tak sampai setengah jam, habis sudah tiga belas lembar ratusan ribu. Bukan berhenti, Parno malah kembali ke rumahnya. Bahkan dengan setengah berlari hingga anjing di rumah Mukson yang terletak di samping mulut jalan sedepa terkejut dan sontak menyalak. Parno pun terkejut dan langsung melesat. Ia buru-buru membuka pintu depan dan pintu lemari dengan napas ngos-ngosan.

“Sudah dua kali.”

Parno terkejut lagi. Yani ternyata belum tidur. Ia merasa hawa lebih panas dari biasanya. Daster kedua sudah seperti daster pertama, kuyup oleh luapan keringatnya. Punggung dan pinggulnya pun pegal-pegal lebih dari malam-malam silam. Ia amat ingin Parno memijatinya. Atau paling tidak menemaninya berbaring. Syukur jika sambil mengelus-ngelus pinggul dan punggungnya. Tetapi setelah magrib, ketika ia mencuci piring, Parno menyelinap pergi.

Yani sudah menduga. Pasti ke warung Bi Anah. Mau ia datang ke warung di belakang sekolah madrasah ibtidaiyah itu dan meminta Parno pulang. Tapi ia ingat kejadian ketika hamilnya baru dua bulan. Sebelum ia membuka mulut, Parno sudah menyemprotnya. Bahkan Parno melakukannya sambil melompat dari kursi.

Balik sia! Balik! Ngerakeun salaki!” bentak Parno sambil menampar pipi kanannya dan terus mendorongnya hingga dia hampir jatuh.

Sejak itu, jangankan malam-malam datang ke warung Bi Anah, mencegah Parno untuk tak ke tempat itu saja tak mau ia lakukan. Ke siapa pun, ia juga tak mau bicara tentang kecanduan judi suaminya.  Bahkan pun ketika ibu mertuanya memintanya untuk mengingatkan Parno mengenai hukum judi menurut Islam dan akibatnya bagi rumah tangga.

“Kalau tidak diingatkan kamu, istrinya, anak itu akan makin bablas. Bisa-bisa dia bablas langsung ke neraka jahanam. Apa kamu mau suamimu begitu?”

“Ya, tidak atuh, Bu.”

“Makanya kamu ingatkan. Anak itu entah kemasukan apa. Ingat ingatkan sumamimu itu. Judi itu haram. Judi itu menghancurkan rumah tangga. Kamu juga tahu itu kan?”

“Iya, Bu.”

“Kamu juga merasakan akibatnya kan?”

“Iya, Bu.”

“Makanya jangan diam saja. Kamu kan punya mulut. Ingat ingatkan suamimu itu.”

Yani mengangguk. Tapi ia tak pernah melakukan apa yang diminta ibu mertuanya. Di depan orang-orang di warung Bi Anah saja, dan sebelum mulutnya terbuka, Parno sudah menyemprotnya, menampar pipinya, dan mendorong-dorongnya hingga dia mau tersungkur.

Pasti lebih lagi, Yani membayangkan, jika ia mewujudkan permintaan ibu mertuanya di rumah. Parno bisa jadi akan langsung menjambak rambutnya. Menamparinya. Bahkan tak mustahil rak piring akan dijungkirkan.

Tapi kini Yani sudah yakin waktunya melahirkan sudah dekat. Tinggal hitungan hari, bahkan mungkin saja tinggal hitungan jam. Bayinya sudah amat pintar dan rajin menendang-nendang bagian dalam perutnya. Memang ada Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan. Tapi rahim itu bukan aquarium. Rahim itu seperti dunia ini, penuh misteri. Manusia paling mumpuni pun paling hanya mampu menyingkapnya sejumput saja. Kelahiran pun adalah kejadian yang bertalian dengan  berbagai kejadian. Siapa pun paling hanya bisa memahaminya, bahkan mengetahuinya, kecil, sebagian kecil saja.

Selalu dari itu ada banyak, amat banyak yang tak bisa dijangkau dan diukur. Selalu ada yang harus ditanggung di luar yang sudah dihitung dangan perhitungan canggih sekalipun. Begitu Yani berulang mendengar ibunya dan bibinya bicara di berbagai saat dan tempat.

Parno juga tahu itu. Tapi tak peduli. Mata dan telinganya tertutup kartu-kartu remi. Kerja kerasnya setiap hari di jalan yang bahkan menyimpan risiko kehilangan nyawanya terutama adalah untuk memburu dan mendapatkan tuyul di warung Bi Anah. Bahkan ketika menyetir pun, tuyul itu terus gentayangan di dalam kepalanya.

Yani bergidik setiap kali disergap bayangan demikian. Beberapa kali bahkan ia disergap bayangan angkutan yang kencang dikemudikan Parno tetiba belok kiri dan menabrak pohon mahoni. Atau tiba-tiba belok kanan menabrak bagian depan truk yang sama tengah melaju kencang.

Tentu saja Yani amat tak ingin bayangan-bayangan itu menjadi kenyataan. Tapi ia hanya bisa berdoa dengan bibir gemetar dan pelupuk mengucurkan air mata. “Gusti, hampura dosa abdi. Hampura dosa salaki abdi. Gusti, Gusti...”

Dua kali Parno memergoki Yani ketika demikian. Namun tak pula berubah. Bahkan sejak kehamilan Yani menginjak lima bulan, setiap malamnya habis di warung Bi Anah. Sejak itu, ia baru pulang jika dari masjid sudah mengalun azan subuh.

Yani tak tahan lagi. Apalagi ia pun amat ingin merasakan kesakitan dan kebahagiaan ibunya ketika melahirkannya. Ia amat ingin mendengar tangis dan tawa bayinya. Ia amat ingin merasakan mulut bayi menghisap puting susunya. Ia amat ingin bernyanyi menidurkan bayinya. Ia amat ingin mengajari bayinya merangkak, duduk, melangkah. Ia amat yakin semua itu pasti akan mengubah rumahnya. Maka ia merasa tak boleh terus bungkam. Ia merasa harus bicara.

“Uang itu kan untuk biaya lahiran anak pertama kita, Kang.”

“Tapi kapan? Kamu kan belum melahirkan.”

“Sudah dekat, Kang.”

“Sudah dekat! Sudah dekat! Yang tahu lahir dan mati mah hanya Gusti. Jangan sok tahu!”

Yani sudah menyiapkan diri. Tapi ia sama sekali tak mengira akan begitu reaksi Parno. Dan dari opal cermin pintu lemari, ia melihat muka suaminya merah membara seperti bata di pembakaran. Ia juga melihat dua tangan Parno mengepal kuat. Ia juga ingat piring dan gelas dilemparkan Parno hanya karena sambal yang dibuatnya kurang pedas. Inilah yang menjadikannya tak bisa berbuat lain kecuali kuat-kuat menggigit bibir menahan ledakan tangisnya.

“Lagi pula wanita hamil mah wajib jaga kesehatan. Bukan melek semalam suntuk seperti kokok beluk.”

Yani memejamkan pelupuk yang terasa penuh bubuk merica. Bantingan pintu depan ia rasakan menghantam perutnya. Bendungannya pun jebol. Tangisnya menyembur.

Parno mendengarnya. Tapi tak peduli. Ia kembali setengah berlari menuju warung Bi Anah di tepi selokan. Tujuh belas lembar ratusan ribu pun kembali habis tak sampai setengah jam.

“Sial! Ini gara-gara si Yani. Dasar perempuan betok! Cucuk wungkul!”

Tiga lawannya tertawa. Begitu juga Bi Anah dan tujuh orang yang nongkrong menonton. Parno tidak tersinggung. Ia malah senang karena merasa mereka membenarkannya, memihaknya. Apalagi setelahnya tiga lawannya mau meminjaminya uang.

Tapi kini tak ada seorang pun yang begitu. Padahal uangnya dan uang pinjamannya telah mereka keruk. Parno pun bergolak. Apalagi ke Tohar yang menyuruhnya ambil uang kalau memang masih banyak di rumahnya. Parno ingin melompat dan menggasaknya. Namun Hendra batuk. Juragan sayuran yang siap menggantikannya ini berbadan tinggi kekar. Dan ia sudah berdiri persis di belakang kursi Parno. Jadilah terpaksa Parno mengangkat pantatnya.

“Kopi, Bi,” kata Parno sambil menuju kursi dekat kaleng kerupuk.

“Gak akan mabuk ngopi terus,” gurau Bi Anah.

“Aman, Bi. Mabuk mah kalau ngunyah kecubung.”

Ledakan tawa kembali memenuhi ruang tengah warung Bi Anah.

“Ya, iya. Mabuk kan kalau ngunyah kecubung mah, ya, Mang Dimong?”

“Iya, Pak Sopir,” Dimong sekadar menimpali.

“Tuh, kan kata Mang Dimong pun mabuk mah kalau ngunyah kecubung. Tapi, Bi.”

“Apa, Pak Sopir?”

“Sudah dibuat kopinya?”

“Belum.”

“Jitu.”

“Ko jitu, Pak Sopir?”

“Ini mata tiba-tiba berat, Bi.”

“Halah. Ini kan masih sore. Baru setengah dua belas.”

“Iya. Gak tahu kenapa. Mata ko gak biasanya lembek begini.”

“Ya, sudah. Tidurlah. Besok nyopir kan,” kata Hendra tanpa berpaling dari kartu-kartu di tangannya.

Parno berdiri. Pamit. Langkahnya berat. Sandal jepitnya terasa sebagai sepatu lars. Ia berhenti di mulut jalan sedepa. Duit buat lahiran ludas. Utang setinggi Tampomas. Si Yani pasti tahu. Dan ia tak mau tahu angkutan sepi. Penumpang habis dirampok angkutan daring. Haram jadah! Apa yang harus kulakukan? Masa harus nyegik? Masa harus...?

Tetiba terdengar lagi suara burung hantu.

“Setan!” umpat Parno dengan jantung berdebar.

Angin kemarau pun menampar-nampar. Dan gesekan batang-batang bambu terdengar seperti isak tangis. Sontak ia bergegas memilih jalan pintas. Menerobos kebun singkong yang siap dipanen.

Cahaya langit surut. Parno tengadah. Bulan separuh hampir lenyap dikerkah rahang awan jelaga. Dan tetiba terdengar lagi anjing melolong panjang. Seluruh bulu kuduknya serempak tegak.

Di desanya, lolong anjing yang disebut babaung itu totonden. Tengara petaka. Sontaklah Parno lari seperti kerbau diburu harimau. Ia tak peduli sandal jepitnya terlepas. Ia tak peduli mukanya ditampari ujung pohon-pohon singkong. Ia mendadak menghentikan larinya pas di bawah pohon sukun.

Pelupuknya terbelalak. Bola matanya seolah hendak melompat. Yani tampak sedang membuka pintu dari luar. Rambutnya yang separuh punggung tak digelung seperti tadi dua kali ia lihat, tapi tergerai dan basah. Begitu pun dasternya. Seluruhnya basah. Dan itu bukan karena luapan keringat.

“Kamu mandi?!”

“Iya. Gerah.”

“Tapi ini tengah malam! Malam Jumat lagi.”

“Tadi Ceu Tina ke sini.”

“Mau apa dia ke sini?”

Tidak seperti biasanya, Yani berani menatap mata Parno. Tatapannya pun setajam pisau raut.

Keruan Parno diam-diam dicengkeram perasaan aneh, amat aneh. Apalagi ia lihat Yani sama sekali tak kedinginan. Padahal, seluruh tubuhnya jelas betul basah kuyup. Butiran air masih terus berjatuhan dari rambutnya, dari dasternya, dari jari-jari tangannya. Dan Yani pun menyampaikan yang ditanyakan Parno dengan suara penuh percaya diri.

Disampaikannya bahwa Tina ingat ketika ia menjelang melahirkan anaknya yang pertama. Sekujur badannya pegal-pegal. Udara terasa seperti di tengah rumah terbakar. Suaminya, Bambang, mengguyurnya di sumur belakang rumahnya yang adalah warisan turun temurun.

Sumur itu sumur tua. Keramat. Peninggalan Embah Sabur, seorang dari lima kuwu yang mati diberondong peluru serdadu Belanda di sasak Monjot, jembatan yang dibangun penjajah untuk mrlanggengkan penjajahan.

Berbeda dengan kuwu-kuwu lain, Embah Sabur tidak langsung mati. Ia baru mati setelah kembali diberondong pelor ketika ia berenang menuju tepi. Dan sebelum mengembuskan napas pamungkasnya, Embah Sabur mengucap lantang, “Sumurku tidak akan pernah kering. Airnya akan terus memadamkan api angkara murka.”

Ucapan Embah Sabur itu bertuah. Air sumurnya berkhasiat seperti air zamzam. Terbukti setelah diguyur, badan Tina tidak lagi pegal-pegal. Udara pun terasa sejuk. “Terus Ceu Tina datang untuk...”

“Ah, tahyul!”

“Terserah mau percaya atau tidak. Hanya orang yang...”

“Tahyul itu musrik! Musrik!”

“Mau ngomong apa pun terserah. Manusia itu...”

“Sudah jangan terus ngebacot. Sekarang aku tanya. Benar kamu diguyur si Tina?!”

“Benar!”

Baca Juga: Cerita Pendek: RADIO

Parno mengambil telepon genggam dari saku jaket. Dia menelepon Tina. Setelah tujuh kali, teleponnya baru diangkat. “Tina.”

“Bukan. Ini Bambang.”

“Oh, Kang Bambang. Tina ada?”

“Ada. Ini lagi tidur.”

“Jangan bohong.”

“Ko bohong? Dari setelah Isya pun dia sudah meringkuk. Dia capek setelah...”

Lutut Parno gemetar. Dia terjatuh. Kepalanya membentur sandaran sofa. Yang sekujur tubuhnya masih basah kuyup tertawa melihatnya. Tawanya terdengar ganjil di tengah senyap dini hari. ***


Bermukim di kaki Gunung Manglayang, Hikmat Gumelar menulis puisi, esai, cerpen, & drama. Sekarang Koordinator Program Institut Nalar Jatinangor ini tengah riset perihal sastra & ekologi.

Halaman:

Editor: Dudung Ridwan

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Malati Kari Bodasna

Sabtu, 3 Desember 2022 | 10:00 WIB

Cerita Pendek: PEREMPUAN YANG INGIN MENYULAM BIBIRNYA

Sabtu, 26 November 2022 | 10:01 WIB

Carita Pondok: VILA CANTIKA

Sabtu, 19 November 2022 | 06:43 WIB

Cerita Pendek: GROOTE POST WEG 17

Sabtu, 12 November 2022 | 14:00 WIB

Carita Pondok: HIJI WENGI SISI TALAGA

Sabtu, 5 November 2022 | 08:36 WIB

Cerita Pendek: KABUT KEMBANG RANDU

Sabtu, 29 Oktober 2022 | 06:59 WIB

Carita Pondok: KURUPUK UDANG DINA TOPLES

Sabtu, 22 Oktober 2022 | 11:38 WIB

Cerita Pendek: PERSELINGKUHAN

Sabtu, 15 Oktober 2022 | 08:06 WIB

Carita Pondok: GUPAY PANUNGTUNG

Sabtu, 8 Oktober 2022 | 13:28 WIB

Dongeng Pendek Sunda: Hayang Aya Kumisan

Kamis, 6 Oktober 2022 | 16:51 WIB

Dongeng Pendek Sunda: Putri Sawidak Loro

Selasa, 4 Oktober 2022 | 15:27 WIB

Dongeng Pendek Sunda: Sangu Sesa

Senin, 3 Oktober 2022 | 16:30 WIB

Carita Pondok: LENGLANG-LENGLANG SAWAH URANG

Sabtu, 24 September 2022 | 08:44 WIB

Carita Pondok: MARSIH

Sabtu, 10 September 2022 | 07:18 WIB

Cerita Pendek: TAWA DINI HARI

Sabtu, 3 September 2022 | 09:11 WIB

Carita Pondok: TANGKAL DARAJAT

Sabtu, 27 Agustus 2022 | 10:47 WIB

Cerita Pendek: RADIO

Sabtu, 20 Agustus 2022 | 11:44 WIB
X