Cerita Pendek: DI DEPAN JENAZAH BAPAK

- Sabtu, 6 Agustus 2022 | 09:07 WIB
Ilustrasi cerita pendek DI DEPAN JENAZAH BAPAK (Dodi Rosadi)
Ilustrasi cerita pendek DI DEPAN JENAZAH BAPAK (Dodi Rosadi)

Apakah kamu menahan sakit? Atau malu? Atau merasakan keduanya?

Aku masih terpaku, berdiri mematung memandang sosok yang dulu sangat kukagumi sedang terbaring tak berdaya. Tanganmu beringsut, membuka kain yang menutup wajahnya. Tulang pipinya menonjol, bahu kekar tempatku dulu biasa duduk saat masih kecil terlihat tinggal tulang tanpa otot. Wajahnya sepucat ubin yang dinginnya menjalar hingga ke hatiku. Lelaki gagah itu kini terbaring dengan tubuh ringkih. Dia terlihat lebih tua dari usianya. Aku memandang lelaki berusia 48 tahun itu dengan lekat hingga pandanganku menembus kejadian malam tujuh tahun lalu.

Malam hujan kala itu, aku pulang setelah empat tahun merantau di Jakarta. Setelah turun dari angkutan umum, aku masih harus berteduh di teras sebuah pertokoan yang sudah tutup. Bohlam dari gerobak penjual gorengan di selasar pertokoan tampak terayun-ayun. Angin malam membuat cahayanya berpantulan. Seorang laki-laki, yang mengenakan jaket tebal sedang duduk di belakang gerobak seperti mencari hangat dari kompor yang masih menyala yang sedang menggoreng sesuatu di dalam wajan. Tebersit rasa kasihan, selarut ini dia masih berjibaku mencari rezeki.

Aku teringat bapak. Sejak ibu meninggal, dia selalu duduk di dekat jendela. Matanya memandang jalan seolah sedang menunggu seseorang. Selama ini mereka tidak pernah terpisah. Ibu selalu menyediakan apa pun keperluan bapak. Bapak sangat bergantung padanya. Tentu saja bapak sangat merasa kehilangan, tidak ada yang bisa membantunya menyiapkan sarapan, menyeduhkan kopi atau sekedar menemaninya berbincang sore hari.

Sebagai anak satu-satunya, aku menguatkan hati memintanya menikah lagi. Bagiku, kebahagiaannya lebih penting. Tak apalah aku punya ibu tiri, toh, setelah lepas SMA aku akan melanjutkan kuliah di kota lain. Aku tidak mau bapak kesepian. Bapak menolak, perasaannya pada ibu masih tumpah ruah. Ibu yang membersamainya sejak susah. Ketika usahanya merangkak naik, ibu justru pergi. Aku mengalah, paham betul bahwa memaksa bapak menikah lagi hanya membuat masalah baru. Tapi penolakan itu saat aku masih SMA, karena malam di hari pertama aku pulang setelah empat tahun merantau untuk kuliah, aku mengetahui bapak sudah menikah dengan pernikahan yang tidak kuharapkan.

“Katakan bahwa kau sudah memaafkannya.”

Suara parau darimu menarik kesadaranku kembali. Bapak masih terbaring di sana dengan mata terpejam. Aku ingin menoleh kepadamu tapi dadaku terasa nyeri.

Tanganku mengepal. Aku ingin berbalik dan keluar dari ruangan beraroma melati dan kenanga yang tercium tajam ini, tetapi justru sebaliknya. Tiba-tiba saja kakiku melangkah mendekat, tiba-tiba saja aku bersimpuh di sebelah jasad bapak, tiba-tiba saja tanganku terulur menyentuh kulitnya yang pucat dan aku merasa kamu sedang menertawaiku.

Satu per satu, orang-orang dalam ruangan beranjak meninggalkan kita berdua. Oh, bukan. Tentu saja bukan kita berdua, tapi ada dia, bocah lelaki berusia tujuh tahun yang sedari tadi menatapku. Mungkin dia bertanya-tanya kenapa wajahku terlihat mirip dengannya.

“Maafkan kami, Ray. Kami memang salah. Tapi ...”

Halaman:

Editor: Dudung Ridwan

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Sapedah Hias

Selasa, 16 Agustus 2022 | 16:34 WIB

Carita Pondok: SAJERONING ATI

Sabtu, 13 Agustus 2022 | 08:54 WIB

Cerita Pendek: DI DEPAN JENAZAH BAPAK

Sabtu, 6 Agustus 2022 | 09:07 WIB

Carita Pondok: MANG INTA MUNGGAH HAJI

Sabtu, 30 Juli 2022 | 06:13 WIB

Cerita Pendek: KADIR DAN SELAWAT KERUPUK UDANG

Sabtu, 23 Juli 2022 | 12:00 WIB

Carita Pondok: NU HARAYANG DITIKAH

Sabtu, 16 Juli 2022 | 10:06 WIB

Cerita Pendek: GARA-GARA TELEVISI

Sabtu, 9 Juli 2022 | 10:10 WIB

Carita Pondok: BOROK

Sabtu, 2 Juli 2022 | 10:26 WIB

Cerita Pendek: TIANG LISTRIK

Sabtu, 25 Juni 2022 | 07:00 WIB

Carita Pondok: MORO SAWARGA

Sabtu, 18 Juni 2022 | 09:13 WIB

Carita Pondok: LATAR LAYAR

Sabtu, 4 Juni 2022 | 10:59 WIB

Carita Pondok: DINA TUNGTUNG SIMPE

Sabtu, 21 Mei 2022 | 06:14 WIB

Cerita Pendek: SAJAK LI BAI YANG SEKARAT

Sabtu, 14 Mei 2022 | 09:45 WIB

Carita Pondok: SANEKALA

Sabtu, 7 Mei 2022 | 07:39 WIB

Cerita Pendek: PERTEMUAN PADA SUATU MALAM

Sabtu, 30 April 2022 | 11:31 WIB

Cerita Pendek: KISAH YANG TAK BERKESUDAHAN

Sabtu, 16 April 2022 | 10:48 WIB

Sastra Sunda: DEMONSTRASI

Sabtu, 9 April 2022 | 11:25 WIB

Cerita Pendek: PUASA TANPA KEPALA KELUARGA

Sabtu, 2 April 2022 | 14:04 WIB
X