Cerita Pendek: GARA-GARA TELEVISI

- Sabtu, 9 Juli 2022 | 10:10 WIB
Ilustrasi cerpen Gara-Gara Televisi. (Dodi Rosadi)
Ilustrasi cerpen Gara-Gara Televisi. (Dodi Rosadi)

Cerita Pendek Rumadi

BARANG laknat itu telah datang dan diletakkan di ruang tengah. Semula semuanya baik-baik saja ketika barang laknat itu dibeli bapak dengan tabungannya sendiri. Ibu juga sangat senang dengan kedatangannya. Aku pun bergembira, karena setiap minggu, aku bisa beramai-ramai bersama teman-temanku menonton kartun dari pagi hingga siang.

Hingga bapak malas melakukan apa pun, membuat suara ibu menggema hingga ke tetangga. Barang laknat itu telah mengubah hidup bapak. Padahal aku, adikku, dan ibuku, baik-baik saja.

Bapak memang selalu bangun agak siang, saat matahari telah tinggi. Sekitar pukul setengah tujuh. Sementara ibu selalu bangun pukul lima pagi, menyiapkan sarapan buat kami, membersihkan rumah, kemudian berangkat ke sawah saat pukul enam pagi. Semuanya telah siap ketika bapak telah bangun dari tidurnya.

Kemarahan ibu bermula saat ia pulang dari sawah, sekitar pukul sepuluh pagi, kotoran sapi belum ada yang membuangnya. Garuk dan ekrak masih berada di tempat masing-masing. Dan ibu melihat tidak ada ember yang biasa digunakan untuk memberi minum sapi dan kambing kami. Tidak ada jerami di bak makanan mereka. Ibu mendengus kesal. Meski ibu tetap membersihkan kotoran sapi dan kambing, kemudian menaruh jerami di bak makan masing-masing.

Saat aku pulang sekolah, kudengar ibu bertengkar hebat dengan bapak. Tidak ada yang mengalah. Bahkan sempat kudengar ancaman, jika bapak tidak berhenti bermalas-malasan maka tv itu akan dijual atau dipecahkan saja. Pecahkan saja kalau berani kata bapak.

Keduanya bertengkar hingga adikku menangis, karena belum pernah mereka bertengkar sedahsyat itu. Maka ibu memanggilku dengan suara yang lantang. Aku mendekat dan ibu menempeleng kepalaku. Ke mana saja kau? tanyanya. Kau budek atau pura-pura tak dengar? Kenapa kau biarkan adikmu menangis? Panas di pipi, meski begitu, aku tahu harus segera mengajak adikku keluar supaya tidak membuat ibu lebih marah lagi.

Bapak menjadi rajin seperti semula hanya beberapa hari saja. Karena setelahnya, bapak kembali malas membuang kotoran sapi dan kambing. Bapak lebih memilih menghidupkan televisi, menonton entah apa, yang membuatnya betah berjam-jam di layar kaca. Pernah suatu kali saat aku sedang pelajaran olahraga, dan guru olahragaku mengajak keliling kampung, aku melihat bapak baru berangkat. Padahal jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Biasanya bapak akan berangkat tepat pukul tujuh. Maka kupikir benda laknat itulah penyebabnya.

Bapak dan ibu saling diam. Bapak hanya meletakkan nafkahnya di meja makan tanpa omongan. Dan kulihat ibu tidak pernah menyentuh uang itu hingga berlembar-lembar uang rupiah terkumpul di meja makan. Ibu tetap tidak mau menjamahnya. Saat kutahu uang itu masih utuh, dan ibu enggan mengambilnya (karena ibu mendapatkan uang sendiri dari hasil menjadi buruh tani), aku mengambil satu lembar lima ribuan tanpa sepengetahuan bapak dan ibu. Hatiku gemetaran. Berdebar bukan main, dan aku segera menyelipkannya di saku celana.

Halaman:

Editor: Dudung Ridwan

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Sapedah Hias

Selasa, 16 Agustus 2022 | 16:34 WIB

Carita Pondok: SAJERONING ATI

Sabtu, 13 Agustus 2022 | 08:54 WIB

Cerita Pendek: DI DEPAN JENAZAH BAPAK

Sabtu, 6 Agustus 2022 | 09:07 WIB

Carita Pondok: MANG INTA MUNGGAH HAJI

Sabtu, 30 Juli 2022 | 06:13 WIB

Cerita Pendek: KADIR DAN SELAWAT KERUPUK UDANG

Sabtu, 23 Juli 2022 | 12:00 WIB

Carita Pondok: NU HARAYANG DITIKAH

Sabtu, 16 Juli 2022 | 10:06 WIB

Cerita Pendek: GARA-GARA TELEVISI

Sabtu, 9 Juli 2022 | 10:10 WIB

Carita Pondok: BOROK

Sabtu, 2 Juli 2022 | 10:26 WIB

Cerita Pendek: TIANG LISTRIK

Sabtu, 25 Juni 2022 | 07:00 WIB

Carita Pondok: MORO SAWARGA

Sabtu, 18 Juni 2022 | 09:13 WIB

Carita Pondok: LATAR LAYAR

Sabtu, 4 Juni 2022 | 10:59 WIB

Carita Pondok: DINA TUNGTUNG SIMPE

Sabtu, 21 Mei 2022 | 06:14 WIB

Cerita Pendek: SAJAK LI BAI YANG SEKARAT

Sabtu, 14 Mei 2022 | 09:45 WIB

Carita Pondok: SANEKALA

Sabtu, 7 Mei 2022 | 07:39 WIB

Cerita Pendek: PERTEMUAN PADA SUATU MALAM

Sabtu, 30 April 2022 | 11:31 WIB

Cerita Pendek: KISAH YANG TAK BERKESUDAHAN

Sabtu, 16 April 2022 | 10:48 WIB

Sastra Sunda: DEMONSTRASI

Sabtu, 9 April 2022 | 11:25 WIB

Cerita Pendek: PUASA TANPA KEPALA KELUARGA

Sabtu, 2 April 2022 | 14:04 WIB
X