Cerita Pendek: SESUATU YANG TIDAK DIKETAHUI HALAYUDA

- Sabtu, 28 Mei 2022 | 07:00 WIB
Ilustrasi cerpen Sesuatu yang Tidak Diketahui Halayuda. (Dodi Rosadi)
Ilustrasi cerpen Sesuatu yang Tidak Diketahui Halayuda. (Dodi Rosadi)


Oleh: Risen Dhawuh Abdullah

TIDAK dapat dibohongi, raut muka Halayuda memancarkan penyesalan walau kepalanya sedang mendidih. Halayuda menyadari ia telah memaksakan kehendak orang lain. Memaksa tabib itu untuk menuruti apa yang menjadi keinginannya; menerima usulannya untuk tinggal sementara waktu di Wilwatikta hingga Gusti Prabu Dyah Wijaya sembuh dari sakitnya. Penolakan tabib itu, sama sekali tidak bisa ia terima.

Halayuda duduk di sebuah kursi jati berukir, di ruang depan kediamannya. Jendela yang terbuka, membuatnya dapat melihat pepohonan nan rindang yang ada di luar. Sementara istrinya duduk di dekatnya, dengan penuh kesabaran terus berusaha memberikan pengertian atas apa yang terjadi. Tidak jauh dari tempat Halayuda duduk, seorang lelaki berdiri dengan kepala menunduk. Ia tampak ketakutan. Lelaki itu tidak lain Ra Tanca, salah satu anak buah emas Halayuda.

“Andai saja kakang tidak ada embel-embel akan melamarnya, tentu Nyai Paricara akan menyanggupi menjadi tabib di kedaton, mengabdi pada Gusti Prabu. Dan kakang tetap akan mendapatkan nama baik, kakang telah mengambil andil dalam kesembuhan Gusti Prabu,” ucap istri Halayuda penuh kesabaran.

Ujaran istrinya masih belum dapat mengembalikan warna wajahnya ke semula. Di tempurung kepalanya, kata-kata penolakan tabib itu semakin terukir jelas. Kepada istrinya Halayuda tidak mau mengakui kalau yang telah ia lakukan bukan sesuatu yang benar, baginya tabib itu sudah terlampau lancang, dan ia berani mengatakan kalau tabib itu telah menghina martabat kerajaan Wilwatikta.

Halayuda beranjak dari duduknya, menghampiri Ra Tanca dan menunjuk dengan telunjuknya. Amarahnya tak kunjung mereda. Di mata Ra Tanca telunjuk itu terlihat begitu kaku, tegang. Ra Tanca merasa telunjuk itu anak panah yang meluncur ke arah wajahnya. “Kau Tanca, kau benar-benar membuatmu malu, mau ditaruh di mana mukaku? Kepada Gusti Prabu aku sudah menyampaikan kalau tabib itu mau diangkat sebagai tabib kedaton, dan aku juga sudah berkata kepada beliau kalau aku akan menikahinya.”

Ra Tanca tentu tidak mungkin membalas apa yang keluar dari mulut Halayuda. Jika itu terjadi, meski dengan cara yang baik-baik, akan memperkeruh keadaan.

“Sudahlah, Kakang. Nyai Paricara berhak menentukan pilihan. Kakang sendiri yang salah, mengapa mau melamarnya dan bilang yang tidak-tidak kepada Gusti Prabu? Aku tidak cemburu, tapi Nyai Paricara? Dari sorot matanya, aku bisa merasakan kalau hati Nyai Paricara sehalus sutra, ia tidak mudah menyakiti orang. Dan bisa jadi, dia bukan jenis orang yang silau oleh gemerlap, Kakang.”

Istri Halayuda meninggalkan kursi, dan memosisikan diri lebih dekat dengan Halayuda.  
“Mengapa kau malah membela tabib itu? Seharusnya kau mencarikan jalan keluar terhadap apa yang sedang menimpaku, bukan malah membela dia dan menyalahkanku!” teriak Halayuda. “Ini tidak bisa dibiarkan!”

Ra Tanca tak punya sedikit pun nyali untuk mengangkat kepala. Sedari ia melaporkan mengenai kakak angkatnya yang tidak lain adalah tabib itu, ia terus menunduk. Halayuda melangkah keluar, menuju teras yang lumayan luas. Ketegangan masih begitu terasa di ruangan. Ra Tanca terpaksa menikmatinya.

Halaman:

Editor: Dudung Ridwan

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Carita Pondok: SAJERONING ATI

Sabtu, 13 Agustus 2022 | 08:54 WIB

Cerita Pendek: DI DEPAN JENAZAH BAPAK

Sabtu, 6 Agustus 2022 | 09:07 WIB

Carita Pondok: MANG INTA MUNGGAH HAJI

Sabtu, 30 Juli 2022 | 06:13 WIB

Cerita Pendek: KADIR DAN SELAWAT KERUPUK UDANG

Sabtu, 23 Juli 2022 | 12:00 WIB

Carita Pondok: NU HARAYANG DITIKAH

Sabtu, 16 Juli 2022 | 10:06 WIB

Cerita Pendek: GARA-GARA TELEVISI

Sabtu, 9 Juli 2022 | 10:10 WIB

Carita Pondok: BOROK

Sabtu, 2 Juli 2022 | 10:26 WIB

Cerita Pendek: TIANG LISTRIK

Sabtu, 25 Juni 2022 | 07:00 WIB

Carita Pondok: MORO SAWARGA

Sabtu, 18 Juni 2022 | 09:13 WIB

Carita Pondok: LATAR LAYAR

Sabtu, 4 Juni 2022 | 10:59 WIB

Carita Pondok: DINA TUNGTUNG SIMPE

Sabtu, 21 Mei 2022 | 06:14 WIB

Cerita Pendek: SAJAK LI BAI YANG SEKARAT

Sabtu, 14 Mei 2022 | 09:45 WIB

Carita Pondok: SANEKALA

Sabtu, 7 Mei 2022 | 07:39 WIB

Cerita Pendek: PERTEMUAN PADA SUATU MALAM

Sabtu, 30 April 2022 | 11:31 WIB

Cerita Pendek: KISAH YANG TAK BERKESUDAHAN

Sabtu, 16 April 2022 | 10:48 WIB

Sastra Sunda: DEMONSTRASI

Sabtu, 9 April 2022 | 11:25 WIB

Cerita Pendek: PUASA TANPA KEPALA KELUARGA

Sabtu, 2 April 2022 | 14:04 WIB

Sastra Sunda: LALAKON KOPLOK

Sabtu, 26 Maret 2022 | 08:20 WIB
X