Cerita Pendek: SAJAK LI BAI YANG SEKARAT

- Sabtu, 14 Mei 2022 | 09:45 WIB
Ilustrasi cerpen Sajak Li Bai yang Sekarat. (Dodi Rosadi)
Ilustrasi cerpen Sajak Li Bai yang Sekarat. (Dodi Rosadi)

Oleh: Vito Prasetyo

LI BAI menarik pedati waktu, terlunta-lunta di tubuh sajaknya yang sekarat. Pedati itu kian berat, berjuta barel arak melumuri tubuhnya. Sinar matahari pun meruncing tajam, menghunjam bait-bait duka yang menyelimuti kisah cinta Li Bai. Mungkin saja, hari-harinya serasa perjalanan cemas dan gelisah.

Di pinggir Sungai Mekong, riuh air sungai mengalir membasahi tatapan kosong Li Bai. Aliran sungai itu serupa kidung ingatan yang tak lagi merdu. Nadanya meracau bagai buih arak yang memabukkan. Entah kenapa, Li Bai semakin terbuai dalam sajak-sajak rindu dan seakan menghangatkan pikirannya tatkala sebotol arak mendampingi bait-bait sajaknya.

Sungai Mekong yang panjangnya sekitar 2.700 mil dan mengalir dari sebelah tenggara Provinsi Qing Hai, seakan menumbuhkan peradaban hidup dari masa ke masa. Dan Li Bai meyakini aliran Sungai Mekong seperti sebuah filosofi hidup yang mengalir, seperti kisah cinta yang selalu tumbuh di setiap masa.

Hampir tiap malam Li Bai duduk di tepi Sungai Mekong, memandang indahnya rembulan. Setiap sudut sungai tumbuh bambu-bambu yang diempaskan angin dan berderit seperti kidung cinta. Tatapan Li Bai seakan dipenuhi bayangan seorang gadis yang menari-nari dalam bait-bait puisinya.

Seorang gadis berkulit putih berpapasan dengan Li Bai beberapa hari lalu. Tanpa sengaja, Li Bai seakan menatap pesona itu di tengah kerumunan orang-orang yang memadati pasar. Kulit gadis itu sebening sinar yang memancar aroma wangi. Setiap lekukan tubuh gadis itu, serupa diksi indah yang telah menelusup sampai ke jiwa Li Bai. Siapakah gadis itu? Pikiran Li Bai berkecamuk ingin segera mengenalnya.

Tiba-tiba seorang laki-laki bernama Zhao Mingcheng datang menghampiri Li Bai. “Aku ingin membuat puisi bersamamu, Li Bai.”

“Puisi tentang apa, Zhao Mingcheng?”

“Puisi tentang kematianku.”

“Kenapa engkau berkata seperti itu?”

Halaman:

Editor: Dudung Ridwan

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Carita Pondok: BOROK

Sabtu, 2 Juli 2022 | 10:26 WIB

Cerita Pendek: TIANG LISTRIK

Sabtu, 25 Juni 2022 | 07:00 WIB

Carita Pondok: MORO SAWARGA

Sabtu, 18 Juni 2022 | 09:13 WIB

Carita Pondok: LATAR LAYAR

Sabtu, 4 Juni 2022 | 10:59 WIB

Carita Pondok: DINA TUNGTUNG SIMPE

Sabtu, 21 Mei 2022 | 06:14 WIB

Cerita Pendek: SAJAK LI BAI YANG SEKARAT

Sabtu, 14 Mei 2022 | 09:45 WIB

Carita Pondok: SANEKALA

Sabtu, 7 Mei 2022 | 07:39 WIB

Cerita Pendek: PERTEMUAN PADA SUATU MALAM

Sabtu, 30 April 2022 | 11:31 WIB

Cerita Pendek: KISAH YANG TAK BERKESUDAHAN

Sabtu, 16 April 2022 | 10:48 WIB

Sastra Sunda: DEMONSTRASI

Sabtu, 9 April 2022 | 11:25 WIB

Cerita Pendek: PUASA TANPA KEPALA KELUARGA

Sabtu, 2 April 2022 | 14:04 WIB

Sastra Sunda: LALAKON KOPLOK

Sabtu, 26 Maret 2022 | 08:20 WIB

Cerita Pendek: JERAT BUBAT

Sabtu, 19 Maret 2022 | 05:05 WIB

Sastra Sunda: LEUNGITEUN

Sabtu, 12 Maret 2022 | 10:32 WIB

Cerita Pendek: DERA LARA

Sabtu, 5 Maret 2022 | 06:47 WIB

Sastra Sunda: SRIKANDI ZAMAN NOW

Sabtu, 26 Februari 2022 | 15:12 WIB

Lugiena De jadi Pinunjul Hadiah Sastra LBSS 2022

Selasa, 22 Februari 2022 | 08:17 WIB

Cerita Pendek: PERTEMUAN

Sabtu, 19 Februari 2022 | 11:09 WIB
X