Cerita Pendek: PERTEMUAN PADA SUATU MALAM

- Sabtu, 30 April 2022 | 11:31 WIB
Ilustrasi cerpen Pertemuan pada Suatu Malam. (Selma)
Ilustrasi cerpen Pertemuan pada Suatu Malam. (Selma)

Oleh: Mahan Jamil Hudani

SEJENAK obrolan kami terhenti lagi. Aku menatap paras perempuan lembut di depanku. Ndari seperti malu saat tatapan tajamku seakan menelanjangi parasnya. Ia hanya diam dan menunduk seperti membiarkanku puas menikmati parasnya yang pernah hilang selama lima belas tahun. Saat itu kami baru lulus dari sebuah perguruan tinggi di kota ini.

Pertemuanku dengan Ndari malam ini yang bermula sore tadi memang sungguh suatu hal yang tak kusangka-sangka. Aku bahkan tak membayangkan jika bisa mengajaknya makan malam di sebuah resto tak jauh dari kampusku. Dulu semasa kuliah aku tak pernah berani makan di sini karena kantongku pasti tak akan mampu menjangkaunya padahal aku selalu melewati dan menatapinya setiap hari. Malam ini apa yang pernah aku khayalkan selama menjadi mahasiswa, terjadi juga. Meski tentu saja dengan keadaan dan suasana yang berbeda.

Aku sendiri hampir tak menyangka juga jika aku bisa menginjakkan kaki di kota ini. Kota yang indah dan menyimpan begitu banyak kenangan. Hampir dua windu telah kutinggalkan. Kantor sedang mengirimku kemari selama beberapa hari untuk sebuah urusan pekerjaan. Sore tadi aku menyempatkan diri untuk mengunjungi kampusku, bertemu dengan beberapa dosen yang dulu pernah dekat di hatiku. Tak kusangka jika aku bertemu Ndari yang sedang melegalisir ijazah dan keperluan lain. Sebuah karunia yang luar biasa.

Ndari kini seorang ibu yang matang dengan dua orang anak. Ia telah menjadi seorang guru di kotanya, sebuah kabupaten kecil yang jaraknya sekitar lima hingga enam jam naik kendaraan dari kota ini. Ia datang sendiri ke kota ini dan menginap di rumah salah seorang kerabat jauhnya. Begitulah ia tadi bercerita setelah jeda cukup lama ketika pertama kali kami baru tiba dan duduk bersama menghadap satu meja.

“Kau tahu saja makanan yang sangat aku suka,” katanya masih malu-malu tapi tanpa bisa menutupi roman mukanya yang terlihat bahagia.

“Iya, aku telah lama menyimpannya di kepala dan berharap suatu ketika bisa menghidangkan atau setidaknya memesannya untukmu.”

“Bagaimana bisa seperti itu?” Ndari kembali bertanya.

“Nanti kau juga akan tahu.”

Satu hal yang membuatku bahagia adalah karena ia bersedia kuajak bertemu malam ini di resto ini. Dan aku sungguh telah memberinya kejutan dengan memesan makanan kesukaannya. Tentu aku sangat menghargai kesediaannya bertemu denganku tanpa aku memiliki maksud macam-macam. Bagaimanapun dia adalah seorang yang telah memiliki suami. Pertemuan ini semata sebuah reuni dua orang yang pernah menjadi teman satu kampus selama sekitar empat tahun.

Halaman:

Editor: Dudung Ridwan

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Carita Pondok: BOROK

Sabtu, 2 Juli 2022 | 10:26 WIB

Cerita Pendek: TIANG LISTRIK

Sabtu, 25 Juni 2022 | 07:00 WIB

Carita Pondok: MORO SAWARGA

Sabtu, 18 Juni 2022 | 09:13 WIB

Carita Pondok: LATAR LAYAR

Sabtu, 4 Juni 2022 | 10:59 WIB

Carita Pondok: DINA TUNGTUNG SIMPE

Sabtu, 21 Mei 2022 | 06:14 WIB

Cerita Pendek: SAJAK LI BAI YANG SEKARAT

Sabtu, 14 Mei 2022 | 09:45 WIB

Carita Pondok: SANEKALA

Sabtu, 7 Mei 2022 | 07:39 WIB

Cerita Pendek: PERTEMUAN PADA SUATU MALAM

Sabtu, 30 April 2022 | 11:31 WIB

Cerita Pendek: KISAH YANG TAK BERKESUDAHAN

Sabtu, 16 April 2022 | 10:48 WIB

Sastra Sunda: DEMONSTRASI

Sabtu, 9 April 2022 | 11:25 WIB

Cerita Pendek: PUASA TANPA KEPALA KELUARGA

Sabtu, 2 April 2022 | 14:04 WIB

Sastra Sunda: LALAKON KOPLOK

Sabtu, 26 Maret 2022 | 08:20 WIB

Cerita Pendek: JERAT BUBAT

Sabtu, 19 Maret 2022 | 05:05 WIB

Sastra Sunda: LEUNGITEUN

Sabtu, 12 Maret 2022 | 10:32 WIB

Cerita Pendek: DERA LARA

Sabtu, 5 Maret 2022 | 06:47 WIB

Sastra Sunda: SRIKANDI ZAMAN NOW

Sabtu, 26 Februari 2022 | 15:12 WIB

Lugiena De jadi Pinunjul Hadiah Sastra LBSS 2022

Selasa, 22 Februari 2022 | 08:17 WIB

Cerita Pendek: PERTEMUAN

Sabtu, 19 Februari 2022 | 11:09 WIB
X