Cerita Pendek: PUASA TANPA KEPALA KELUARGA

- Sabtu, 2 April 2022 | 14:04 WIB
Ilustrasi cerita pendek Puasa Tanpa Kepala Keluarga. (Selma)
Ilustrasi cerita pendek Puasa Tanpa Kepala Keluarga. (Selma)



USAI mandi, Masdi duduk bersila di teras depan rumah panggung.

Dua tangannya lalu berkali-kali menggulung ujung bawah kain celana panjang hitam kusam sampai di lutut. Hingga terlihatlah urat-urat kaki warna hijau-kebiruan yang nyembul di betis kaki kirinya. Perlahan, diusap-usapnya betis—dimulai dari mata kaki hingga ke bawah lutut. Dirasakannya pegal-pegal di betis. Lalu, diraihlah balsam di jendela di pinggir daun pintu. Diolesinya dengan pelahan juga rata, tetapi betis kaki kanannya tidak diolesinya dengan balsam karena ada luka menganga yang belum kering di betis bekas terkena ujung cangkul.

Tatapannya lalu menerawang kosong ke depan rumah, berupa hamparan sawah yang baru ditanami bibit padi—masih jauh dari panen.

Dia kemudian memijit-mijit pinggang sebelah kiri-kanannya secara bersamaan dengan kedua tangannya, kemudian diolesi lagi balsam. Masdi yang berusia 40-an ini kembali menerawang. Dengan suara parau akibat masih keletihan setelah mencangkul di sawah, lalu berkata pada Ida istrinya yang sedang berada di dapur, “Kau sedang apa? Pijatin bahuku ya.”

Ida menyahut, “Iya tunggu sebentar, tanggung.”

Beberapa saat kemudian, sayuran daun singkong bercampur parutan kelapa, matang pula di atas katel—yang seperti biasa dimasak dengan api dari kayu bakar. Ida gegas ke teras depan, langsung memulai memijit. Masdi merasakan kenyamanan.

“Mencangkul di sawah itu payah. Badan kotor terkena lumpur, bertemu ular, lintah, kecapaian kepanasan, tetapi uang sedikit karena upahnya jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga kita. Ya memang sudah segitu upahnya, sudah standar di mana-mana, tidak bisa ditawar-tawar lagi. Rina anak kita kini sudah kelas 6. Aku ingin dia tetap terus bersekolah. Namun nanti, pemenuhan kebutuhan sekolahnya dari mana?” Masdi bicara panjang.

“Sabar tanpa batas, Kang. Segini mungkin rezeki kita saat ini.” Lalu, Ida tersontak kaget saat melihat di pergelangan kaki Masdi ada luka menganga.

“Kang?”

“Ya ini terkena cangkul, tadinya mau mencangkul lintah di lumpur, tetapi meliuk terus, akhirnya mengenai mata kaki.”

Halaman:

Editor: Dudung Ridwan

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Carita Pondok: BOROK

Sabtu, 2 Juli 2022 | 10:26 WIB

Cerita Pendek: TIANG LISTRIK

Sabtu, 25 Juni 2022 | 07:00 WIB

Carita Pondok: MORO SAWARGA

Sabtu, 18 Juni 2022 | 09:13 WIB

Carita Pondok: LATAR LAYAR

Sabtu, 4 Juni 2022 | 10:59 WIB

Carita Pondok: DINA TUNGTUNG SIMPE

Sabtu, 21 Mei 2022 | 06:14 WIB

Cerita Pendek: SAJAK LI BAI YANG SEKARAT

Sabtu, 14 Mei 2022 | 09:45 WIB

Carita Pondok: SANEKALA

Sabtu, 7 Mei 2022 | 07:39 WIB

Cerita Pendek: PERTEMUAN PADA SUATU MALAM

Sabtu, 30 April 2022 | 11:31 WIB

Cerita Pendek: KISAH YANG TAK BERKESUDAHAN

Sabtu, 16 April 2022 | 10:48 WIB

Sastra Sunda: DEMONSTRASI

Sabtu, 9 April 2022 | 11:25 WIB

Cerita Pendek: PUASA TANPA KEPALA KELUARGA

Sabtu, 2 April 2022 | 14:04 WIB

Sastra Sunda: LALAKON KOPLOK

Sabtu, 26 Maret 2022 | 08:20 WIB

Cerita Pendek: JERAT BUBAT

Sabtu, 19 Maret 2022 | 05:05 WIB

Sastra Sunda: LEUNGITEUN

Sabtu, 12 Maret 2022 | 10:32 WIB

Cerita Pendek: DERA LARA

Sabtu, 5 Maret 2022 | 06:47 WIB

Sastra Sunda: SRIKANDI ZAMAN NOW

Sabtu, 26 Februari 2022 | 15:12 WIB

Lugiena De jadi Pinunjul Hadiah Sastra LBSS 2022

Selasa, 22 Februari 2022 | 08:17 WIB

Cerita Pendek: PERTEMUAN

Sabtu, 19 Februari 2022 | 11:09 WIB
X