Cerita Pendek: JERAT BUBAT

- Sabtu, 19 Maret 2022 | 05:05 WIB
Ilustrasi cerpen Jerat Bubat. (Dodi Rosadi.)
Ilustrasi cerpen Jerat Bubat. (Dodi Rosadi.)

Oleh: Teni Ganjar Badruzzaman

RASANYA aku baru saja bisa terlelap ketika tiba-tiba Kanjeng Putri Dyah Pitaloka Citraresmi mengguncangguncangkan bahuku. Perlahan kubuka mata yang terasa berat. Tampaklah wanita secantik bidadari tepat di hadapanku. “Segera bersiaplah!” katanya seraya tersenyum, “kapal ini sebentar lagi akan menepi.”

Dengan kesadaran yang belum sepenuhnya pulih, gegas aku melakukan semua yang dititahkan sang putri. Ini hari keempat aku dan rombongan dari Kerajaan Pajajaran mengarungi Laut Jawa. Berlayar ke timur, mencapai Selat Madura. Perjalanan kami lanjutkan ke muara Brantas. Hingga akhirnya kapal ini  tiba di Trowulan, ibu kota Majapahit.

Perjalanan panjang ini tentu amat berat untukku. Maka, saat pertama kali berhasil menyentuh daratan, hanya perasaan lega yang terbit di dada. Perlahan kuinjakkan kaki yang telanjang ini hingga terbenam di pasir.

Lidah ombak menjulur-julur, menjilat kain sampingku hingga basah. Aku segera menuntun Kanjeng Putri Dyah Pitaloka Citraresmi untuk turun dari kapal. Putri kebanggaan Pajajaran yang sebentar lagi akan menjadi permaisuri Kanjeng Raja Hayam Wuruk, putra mahkota dari Kerajaan Majapahit. Ya, kedatangan kami dari tanah Pasundan ini adalah untuk melangsungkan pernikahan mereka yang akan digelar di Istana Majapahit.

Bagiku, pengabdian tak ubahnya detak jantung. Sementara kesetiaan selayak embusan napas. Kuserahkan seluruh jiwa dan ragaku untuk mengabdi kepada keluarga Yang Mulia Prabu Lingga Buana. Akulah yang melayani semua kebutuhan Putri Dyah Pitaloka Citraresmi semenjak ia masih kanak-kanak. Maka ke mana pun sang putri pergi, aku pasti akan setia menemani.

Sejenak setelah menginjak daratan, rombongan Pajajaran pun disambut baik oleh utusan dari Majapahit. Kami dipersilakan untuk beristirahat, melepas penat setelah berhari-hari terapung di lautan, di tempat yang sudah mereka siapkan: sebuah pesanggrahan yang terletak di daerah yang disebut Bubat.

Semenjak tiba di pesanggrahan Bubat, entah kenapa perasaan lega yang sebelumnya kurasakan tiba-tiba saja sirna. Berganti rasa cemas yang entah datang dari mana. Suasana Bubat yang baru saja diguyur hujan membuat hatiku semakin sendu. Hawa dingin menyergap, disusul kabut tebal yang datang tak diundang membuat suasana semakin mencekam. Bulu kudukku tiba-tiba saja meremang ketika dari kejauhan samar-samar terdengar lolongan anjing yang amat memilukan.

“Nyai, tolong rapikan rambutku!”

Halaman:

Editor: Dudung Ridwan

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Carita Pondok: BOROK

Sabtu, 2 Juli 2022 | 10:26 WIB

Cerita Pendek: TIANG LISTRIK

Sabtu, 25 Juni 2022 | 07:00 WIB

Carita Pondok: MORO SAWARGA

Sabtu, 18 Juni 2022 | 09:13 WIB

Carita Pondok: LATAR LAYAR

Sabtu, 4 Juni 2022 | 10:59 WIB

Carita Pondok: DINA TUNGTUNG SIMPE

Sabtu, 21 Mei 2022 | 06:14 WIB

Cerita Pendek: SAJAK LI BAI YANG SEKARAT

Sabtu, 14 Mei 2022 | 09:45 WIB

Carita Pondok: SANEKALA

Sabtu, 7 Mei 2022 | 07:39 WIB

Cerita Pendek: PERTEMUAN PADA SUATU MALAM

Sabtu, 30 April 2022 | 11:31 WIB

Cerita Pendek: KISAH YANG TAK BERKESUDAHAN

Sabtu, 16 April 2022 | 10:48 WIB

Sastra Sunda: DEMONSTRASI

Sabtu, 9 April 2022 | 11:25 WIB

Cerita Pendek: PUASA TANPA KEPALA KELUARGA

Sabtu, 2 April 2022 | 14:04 WIB

Sastra Sunda: LALAKON KOPLOK

Sabtu, 26 Maret 2022 | 08:20 WIB

Cerita Pendek: JERAT BUBAT

Sabtu, 19 Maret 2022 | 05:05 WIB

Sastra Sunda: LEUNGITEUN

Sabtu, 12 Maret 2022 | 10:32 WIB

Cerita Pendek: DERA LARA

Sabtu, 5 Maret 2022 | 06:47 WIB

Sastra Sunda: SRIKANDI ZAMAN NOW

Sabtu, 26 Februari 2022 | 15:12 WIB

Lugiena De jadi Pinunjul Hadiah Sastra LBSS 2022

Selasa, 22 Februari 2022 | 08:17 WIB

Cerita Pendek: PERTEMUAN

Sabtu, 19 Februari 2022 | 11:09 WIB
X