Pabrik Kina Bukit Unggul, Industri Warisan Belanda Kini di Ujung Tanduk

- Kamis, 3 Maret 2022 | 17:33 WIB
Pabrik Kina Bukit Unggul boleh dibilang pabrik paling baru karena didirikan sekitar abad 19. Pabrik pertama itu ada di daerah Cinyiruan. (Ayobandung.com/Restu Nugraha)
Pabrik Kina Bukit Unggul boleh dibilang pabrik paling baru karena didirikan sekitar abad 19. Pabrik pertama itu ada di daerah Cinyiruan. (Ayobandung.com/Restu Nugraha)

Pabrik Kina Bukit Unggul boleh dibilang pabrik paling baru karena didirikan sekitar abad 19. Justru pabrik pertama itu ada di daerah Cinyiruan sekitar abad 18.

NGAMPRAH, AYOBANDUNG.COM -- Sebuah bangunan megah bercat kuning dan putih tampak berdiri kokoh di kawasan perbukitan Bandung Utara, tepatnya di Desa Cipanjalu, Kecamatan Cilengkrang, Kabupaten Bandung.

Bangun pabrik peninggalan Belanda itu terlihat sangat terawat. Ia ajek bersama rimbun jutaan pohon di sekelilingnya. Tiga cerobong asap berbagai ukuran masih tegar menantang langit. Tulisan "Pabrik Kina" pada fasadnya juga tetap mentereng jelas dari kejauhan.

Di dalam pabrik, dua tungku penggarangan serta satu mesin penggilingan raksasa warisan Belanda masih berfungsi normal. Dalam sekali kerja, kedua tungku itu mampu mengeringkan 2 ton kulit kina dengan waktu maksimal 4 jam. 

Bangunan lain, yang berada satu kompleks dengan pabrik juga masih berdiri kokoh. Selain bercorak era kolonial, kontruksi gedung dan rumah di kawasan itu punya ciri khas unik karena memanfaatkan kayu kina gelondongan untuk dinding atau kusen-kusennya. 

Meski terlihat masih kokoh dan sangat terawat, bangun-bangun peninggalan Belanda itu sebenarnya sedang berada di ujung tanduk. Kehancuran secara fisik memang tidak terjadi, namun secara fungsi, bangunan ini tengah menunggu ajal. 

Baca Juga: Pabrik Kina Pertama di Kabupaten Bandung Tinggal Puing Tak Berguna

Jika pada masa kejayaan mampu menghasilkan 100 ton kina kering per hari. Saat ini, untuk mendapat 10 ton saja harus menunggu 3 bulan. Begitu pun dengan aktivitas penggilingan di pabrik kina, tak bisa beroperasi tiap hari, tapi 3 bulan sekali saat panen kulit kina telah mencapai 10 ton.

"Memang (pabrik kina) masih beroperasi, tapi karena beberapa faktor kita tak produksi tiap hari. Paling 3 bulan sekali," kata Asisten Afdeling Perkebunan Bukit Tunggul, Nana Sudana saat ditemui baru-baru ini.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Artikel Terkait

Terkini

5 Jejak Sejarah Bung Karno di Kota Bandung

Senin, 6 Juni 2022 | 17:04 WIB

Esai Sunda: KAKAREN LEBARAN

Jumat, 6 Mei 2022 | 07:24 WIB

Sastra Sunda: NYAI MERTASINGA

Sabtu, 23 April 2022 | 14:08 WIB

Berziarah ke Makam Sembah Dalem Wirasuta Cimahi

Senin, 7 Maret 2022 | 19:24 WIB

Sejarah Jalan Braga di Kota Bandung

Jumat, 18 Februari 2022 | 13:57 WIB
X