Sejarah Pabrik Kina Bandung Cuma Hiasan, Gedung Cagar Budaya Itu Malah Terbengkalai

- Jumat, 25 Februari 2022 | 18:08 WIB
Dijelaskan dalam catatan sejarah Pabrik Kina Bandung, bangunan cagar budaya itu didirikan pada 1896 dan bernama Bandoengsche Kininefabriek. (Ayobandung.com/Gelar Aldi S.)
Dijelaskan dalam catatan sejarah Pabrik Kina Bandung, bangunan cagar budaya itu didirikan pada 1896 dan bernama Bandoengsche Kininefabriek. (Ayobandung.com/Gelar Aldi S.)
Dijelaskan dalam catatan sejarah Pabrik Kina Bandung, bangunan cagar budaya itu didirikan pada 1896 dan bernama Bandoengsche Kininefabriek.
 
 
LENGKONG, AYOBANDUNG.COM — Bangunan dengan luas dua hektar atau 13.000 meter itu masih berdiri kokoh di Jalan Pajajaran No. 40-38, Pasir Kaliki, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung, Jawa Barat 40171.
 
Dinding luarnya terlihat kusam, penuh debu yang melekat, dan tak jarang di permukaan dinding tumbuh tanaman-tanaman liar serta lumut.

Tak sedikit dari jendela bangunan itu bolong-bolong dan pecah, setiap pintu yang terpampang di luaran pabrik dengan warna cat yang memudar termakan waktu itu ditempeli stiker "Dilarang Masuk”. 
 
Satu pintu warna abu terdapat di Jalan Pajajaran dari arah Pasir Kaliki, satu pintu lagi berwarna biru berada di Jalan Cicendo, Kota Bandung.

Bila berkendara melalui jalan Pajajaran dari arah Jalan Wastukencana baik menggunakan roda dua atau empat, sekira 300 meter sebelum perempatan, maka akan terlihat corong tinggi belang merah putih bertuliskan "Pabrik Kina".

Sekilas Pendirian Pabrik Kina Bandung
 
Sebelum resmi berdiri, merujuk pada Java-Bode, wacana pembangunan Bandoengsche Kininefabriek sudah beredar sejak 1895. (Ayobandung.com/Gelar Aldi S.)
 
Didirikan pada 1896, kala itu bangunan tersebut bernama Bandoengsche Kininefabriek. Uniknya, sosok pendiri sekaligus pemantau pengoperasian pabrik ini agaknya tidak pernah di Bandung kala zaman Hindia Belanda dulu.
 
Dari Persoonlijkheden in het Koninkrijk der Nederlanden in woord en beeld (1918: 620) susunan N. Japikse dan H.P. van den Aardweg serta situs penyedia kekerabatan di internet, pendiri Bandoengsche Kininefabriek atau Pabrik Kina Bandung adalah Mr. Carel Willem Baron van Heeckeren (1855-1943).
 
Lahir pada 16 Maret 1855 di Doesburg, Provinsi Gelderland, Belanda, Van Heeckeren adalah anak kedua pasangan Robert Adriaan Willem Baron van Heeckeren (1822-1872) dan Sophie Emilie von Weiler (1827-1872).

Sebelum resmi berdiri, merujuk pada Java-Bode, wacana pembangunan Bandoengsche Kininefabriek sudah beredar sejak 1895.
 
Dalam edisi 6 dan 16 Juli 1895 disebutkan, pemerintah Hindia Belanda mendukung upaya pendirian Pabrik Kina di Bandung.

Memasuki tahun 1896, wacana pendirian Pabrik Kina Bandung mendekati kenyataan. Laporan Java-bode (4 Mei 1896) mengabarkan, adanya rapat keenam Naamlooze Vennootschap (N.V., perseroan terbatas) Bandoengsche Kininefabriek yang membahas mengenai statuta, eksekusi bagian teknis pendirian bangunan pabrik, dan bahkan soal pendirian pabrik kedua dan ketiga di dekat Sukabumi.

Dalam De locomotief edisi 19 Oktober 1896, dilaporkan pada 29 Juni 1896, N.V. Bandoengsche Kinine-Fabriek telah didaftarkan di depan notaris B. V. Wouthuysen dengan lokasi yang dipilih untuk pendirian pabrik adalah di Desa Cicendo, seluas 13.000 meter persegi. Arsitek pabrik ini adalah Gmelig Meyling AW.
 

Namun, belum diketahui secara pasti apakah Pabrik Kina Bandung ini dibangun dari lahan yang kosong atau dari persawahan yang dibeli atau memang dari bangunan yang terbengkalai kemudian dioptimalkan menjadi Pabrik Kina Bandung.

Menurut Pegiat Literasi Sunda, Atep Kurnia, bila merujuk peta Hindia Belanda dari situs disc.leidenuniv.n, kawasan berdirinya Pabrik Kina Bandung didominasi oleh persawahan yang luas di sebelah Barat pabrik, kolam-kolam, dan perkebunan kelapa.

“Jadi Kota Bandung pada 1910-an itu masih banyak berupa persawahan, padang ilalang. Jadi daerah situ (pendirian Pabrik Kina Bandung) masih banyak lahan yang kosong,” kata Atep ketika berbincang, Selasa, 22 Februari 2022.
 
Adapun modal perusahaan seluruhnya sebesar 400.000 gulden, kemudian dibagi menjadi 1.600 lembar saham, yang masing-masing bernilai 250 gulden.
 
Dalam jajaran direksi Pabrik Kina Bandung, yang pertama kali muncul adalah Van Heeckeren. Lalu Presiden komisaris dan pengawasnya adalah Gustav Carl Friedrich Wilhelm Mundt. 
 
Komisarisnya Casper Johannes Koch, Frederik Willem Sijthoff, dan Dionys Burger Dionysion. Sementara direktur administratifnya adalah Carel Willem Baron van Heeckeren, dengan wakilnya Hendrik Malthes serta direktur teknisnya adalah Henning Joachim van Prehn.
 
Van Prehn sebagai teknisi kala itu sudah berada di Bandung, Sijthoff dari Ambarawa akan menjadi administratur, dan Van Meeverdem yang mendirikan pabrik tersebut akan terus bekerja di situ.
 
Dari inilah diketahui bahwa pusat usaha Bandoengsche Kininefabriek berada di Semarang, yang berarti berada di sekitar tempat usaha Van Heeckeren, yaitu Semarangsche Administratie Maatschappij.

Pernah Berjaya di Dunia
 
Seiring meningkatnya permintaan terhadap kina, pemerintah Hindia Belanda membangun pabrik kina pada 1896. Pada 1910-1915, area pabrik bahkan sempat diperluas. (Ayobandung.com/Gelar Aldi S.)

Pada pertengahan abad ke-19, malaria banyak menelan korban jiwa di Batavia, termasuk para orang Eropa. Kala itu Batavia bahkan dijuluki Het Graf van Het Oosten atau "Kuburan di Negeri Timur".

Para peneliti kemudian menghasilkan temuan bahwa kandungan yang terdapat dalam pohon kina dapat menjadi obat ampuh malaria. Bagian yang diambil yaitu kulit pohonnya.

Kina lalu diminta untuk dibudidayakan di Pulau Jawa oleh Menteri Jajahan Seberang Lautan Belanda, Ch.F.Pahud. Pada 1851, dia memerintahkan penelti dan ahli botani, Franz Wilhelm Junghuhn untuk mengembangkan tanaman kina di bilangan Malabar, Pangalengan, Kabupaten Bandung.

Sebelumnya, tanaman kina telah berhasil dibawa oleh peneliti lainnya, yakni Justus Karl Hasskarl dari Peru ke Hindia Belanda. Karl memperbanyak kina di Cibodas, Cianjur, namun dia akhirnya mengundurkan diri. Junghuhn naik menggantikan posisinya.

Junghuhn sendiri adalah ahli botani dan seorang dokter militer yang pernah tinggal di beberapa daerah di Indonesia. Dia kemudian merintis perkebunan kina di Lembang, tapi terjadi polemik terkait budidaya dan kualitas kina yang dihasilkan.

Akhirnya pada 1865, pemerintah Hindia Belanda memutuskan untuk membeli benih kina dari Bolivia. Benih ini dinamai Cinchona Ledgeriana Moens, dan berhasil berkembang dengan baik.

Seiring meningkatnya permintaan terhadap kina, pemerintah Hindia Belanda membangun pabrik kina pada 1896. Pada 1910-1915, area pabrik bahkan sempat diperluas.

Pada perempat akhir tahun 1920, permintaan kini berhenti mendadak. Stok kina waktu perang dunia pertama jatuh ke tangan orang kedua yang tamak. Hanya sedikit kina dari Bandung yang dapat dijual di Eropa.
 
Sebab lainnya adalah situasi ekonomi yang memburuk di daratan Eropa, sehingga banyak yang tak mampu membeli kina. Tapi untungnya Asia menjadi pembeli tetap dan konsumsi di Hindia Belanda terus meningkat. Obat dari kina, terutama yang berbentuk tablet, kian populer di Hindia Belanda.
 
  
Namun, pada musim gugur 1920, keadaan banyak mendorong orang untuk membeli kinin yang berbentuk serbuk (De Locomotief, 11 Agustus 1921 dan De Preanger-bode, 13 Agustus 1921).

Pada 1941, pabrik kina ini disebut mampu menghasilkan hingga 140 ton quinine atau serbuk kina yang setara dengan kebutuhan pasokan kina seluruh dunia saat itu. Kapasitas produksi dari Pabrik Kina Bandung merupakan yang terbesar di dunia.

Hal ini membuat Hindia Belanda menjadi pemasok terbesar kina dunia hingga memasuki Perang Dunia. Selama dikuasai Belanda, sebanyak 90% kebutuhan kina dunia dihasilkan di pabrik ini.

Namun, di masa pendudukan Jepang, pabrik ini diambil alih oleh Angkatan Darat Jepang. Namanya lantas berubah menjadi Rikugun Kinine Seizo Hyo. Produk Kina Bandung yang dihasilkan dipasok untuk Jepang dan tempat-tempat lain selama Perang Pasifik berlangsung.

Ketika Jepang kalah, pabrik ini kembali dikuasai Belanda dengan nama awal yang kembali disematkan. Pemerintah Indonesia kemudian melakukan nasionalisasi perusahaan ini pada 1958, beberapa tahun setelah kemerdekaan diraih.

Nama pabrik kemudian diganti menjadi Perusahaan Negara Farmasi dan Alat Kesehatan Bhinneka Kina Farma berdasarkan SP Menkes tertanggal 18 Juli 1960. Kemudian pada 1971, nama tersebut kembali diubah menjadi PT Kimia Farma berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 16 Tahun 1971.

“Proses nasionalisasi itu tidak berlangsung sekaligus, tapi ada tahapan-tahapan yang mesti dilewati,” ujar Atep tentang perjalanan sejarah Pabrik Kina Bandung.

Berhenti Produksi, Tak Terurus Kemudian
 
Dengan tidak adanya aktivitas di sana, Pabrik Kina Bandung pun perlahan tak terawat dan tak terurus seperti sedia kala. (Ayobandung.com/Gelar Aldi S.)

Setelah nasionalisasi pada 1958, Pabrik Kina Bandung beroperasi seperti biasanya.
 
Barulah sampai tahun 2000, Pabrik Kina Bandung berhenti beroperasi dan seluruh pengoperasian serta pengolahan kina di sana dialihkan ke PT. SIL (Sinkona Indonesia Lestari) yang berada di Subang. PT SIL ini adalah anak dari PT Kimia Farma.
 
Dengan tidak adanya aktivitas di sana, Pabrik Kina Bandung pun perlahan tak terawat dan tak terurus seperti sedia kala. Ayobandung.com berkesempatan menelusuri bagian dalam Pabrik Kina Bandung pada Jumat, 25 Februari 2022.
 
Untuk masuk ke sana, diperlukan izin terlebih dahulu dengan melapor kepada bagian aset dan ristek dari PT Kimia Farma Bandung, yang berlokasi di Jalan Cihampelas Bandung, tepat sebelum apotik Kimia Farma.

Tidak ada kata lain selain tak diperhatikan atau tak terurus. Dinding-dinding bagian dalam pabrik penuh debu, tak sedikit pula yang berlubang, retak dan lainnya. Jendela dibiarkan dihuni oleh tanaman liar, dan atap-atap pabrik bolong.

Namun bagian dalam masih lebih baik ketimbang bagian luar pabrik. Terlihat dengan jelas sempat ada aktivitas di dalam Pabrik Kina Bandung ini yang harus berhenti. Setidaknya, petunjuk berupa nama ruangan dan tempat pengoperasian kina dapat diketahui dengan adanya poster yang bertempelkan logo dan nama PT Kimia Farma.

Masih banyak mesin-mesin yang sebelumnya digunakan untuk pengoperasian kina dibiarkan di bagian dalam pabrik. Semua terpasang sebagaimana mestinya. Hanya saja lantai pabrik yang penuh kotoran baik itu dari debu yang menebal ataupun yang keluar dari mesin.
 

Uniknya, ketika menelusuri lebih dalam, Ayobandung.com melihat sampel obat yang dibiarkan di sana. Obat itu ada yang cairan di dalam botol dan juga tablet. Belum diketahui secara pasti berapa jumlah obat tersebut, tapi yang jelas mereka dibungkus dengan beberapa kardus.
 
Masuk ke ruang Utility, sama seperti ruangan lainnya kotor, banyak mesin yang rusak dan dibiarkan begitu saja, tapi ada satu hal yang menarik perhatian. Di sana ada papan tulis yang berisikan ‘Jadwal Pengolahan Kulit Kina Sistem 3 Oli’. Belum tahu secara pasti maksud dari tulisan itu, tapi di sana tertulis jadwal berupa jam berapa masuk kulit hingga pencucian ekstraktor.

Salah seorang warga asli Pajajaran, yang kediamannya tidak jauh dari lokasi Pabrik Kina Bandung, Najarudin Sutisna (26) juga pernah masuk ke bagian dalam pabrik walau bukan dengan urusan penting.

Dia menyadari bahwa Pabrik Kina Bandung ini memiliki nilai sejarah di balik pendiriannya sehingga kini pabrik itu menjadi bangunan cagar budaya di Bandung.

Maka, lanjut Najar, dia menyayangkan Pabrik Kina Bandung kini tak terawat dengan baik dan minimnya perhatian baik itu dari Pemerintah Daerah maupun dari PT Kimia Farma, BUMN yang membawahinya.

“Jika Pabrik Kina adalah cagar budaya, maka seharusnya Pemerintah lebih bisa memperhatikan. Apalagi Pabrik Kina ini dikelola oleh BUMN yang seharusnya bisa lebih baik untuk dikembangkan,” ungkap Najar.

Bangunan Cagar Budaya Berdaya Ekraf
 
Gagasan untuk menjadikan Pabrik Kina Bandung menjadi zona ekonomi kreatif dan taman wisata seolah mengambang tanpa ada kepastian. (Ayobandung.com/Gelar Aldi S.)

Berusia hampir 126 tahun, Pabrik Kina Bandung pun dikukuhkan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Bandung menjadi bangunan cagar budaya golongan A.

Bukan tanpa alasan Pabrik Kina Bandung menjadi bangunan cagar budaya gol. A. Merujuk pada Peraturan Daerah (Perda) Kota Bandung Nomor 7 Tahun 2018, terdapat lima kriteria untuk penggolongan bangunan cagar budaya Kota. Kelima kriteria itu antara lain:
 
- Umur minimal 50 tahun
- Nilai arsitektur
- Nilai sejarah
- Nilai ilmu pengetahuan; dan
- Nilai sosial budaya

Menurut Ketua Tim Ahli Cagar Budaya Bandung, Harastoeti, ketika suatu bangunan terdapat empat nilai kriteria yang terpenuhi, maka termasuk ke dalam golongan A dan merupakan Cagar Budaya yang dikategorikan sebagai istimewa.

Dan untuk mengkategorikan suatu bangunan cagar budaya itu adalah golongan A, lanjut Harastoeti, dilihat dari yang paling penting berdasarkan usia bangunan. Menurut dia, Pabrik Kina Bandung ini adalah bangunan terlama dan secara arsitektur mewakili gaya dan zaman tertentu, atau bisa dibilang Pabrik Kina pertama yang paling istimewa di Bandung.

“Pabrik Kina Bandung kalau tidak salah punya empat atau lima nilai,” kata Harastoeti ketika berbincang, Rabu, 23 Februari 2022.

Dia juga mengakui bahwa kini Pabrik Kina Bandung seolah-olah hanya berwujud bangunannya saja tanpa ada aktivitas di dalamnya sehingga mengakibatkan bangunan tak terurus dengan baik.

“Tapi ini tetap menjadi tanggung jawab Kimia Farma. Jadi, itu seharusnya yang bertanggung jawab, terutama pada Cagar Budaya golongan A,” tegasnya.

Ayobandung.com sempat menelusuri jejak digital mengenai bangunan cagar budaya Pabrik Kina Bandung ini. Saat Ridwan Kamil masih menjadi Wali Kota Bandung periode 2013-2018, tepatnya 2017, pria yang kerap disapa Emil ini pernah menggagas Pabrik Kina Bandung untuk direvitalisasi kemudian dijadikan zona ekonomi kreatif dan tempat wisata.

Gagasan itu dia munculkan tanpa menghilangkan nilai sejarah dan keaslian dari arsitektur bangunannya. Nantinya, kata Emil, Pabrik Kina akan dijadikan tempat bagi warga Bandung untuk berkreasi dan berkarya, serta akan disediakan spot-spot kuliner.

Namun konsep tersebut rupanya diaplikasikan lebih dulu oleh PT KAI dengan rencananya yang membangun Laswi City Heritage.
 
Gagasan untuk menjadikan Pabrik Kina Bandung menjadi zona ekonomi kreatif dan taman wisata seolah mengambang tanpa ada kepastian.

Ternyata gagasan dari Emil yang sekarang menjadi Gubernur Jawa Barat ini pun didengar oleh Kementerian BUMN.
 
 
Menurut Danang — nama samaran—, sumber terpercaya dari Aset dan Ristek Kimia Farma Bandung mengatakan, gagasan dari Emil ini sedang digodok oleh jajaran direksi dari Kimia Farma.

Kata Danang, 90 persen bangunan Kimia Farma di Bandung adalah bangunan cagar budaya. Kimia Farma juga, lanjut Danang, telah menunjuk konsultan bisnis properti untuk kemudian merumuskan konsep bagi empat blok di Bandung yang seluruhnya merupakan aset dari BUMN bidang farmasi tersebut.

“Konsepnya sedang digodok oleh PT LAPI ITB dan sekarang lagi berjalan untuk blok Pabrik Kina Bandung,” kata Danang ketika ditemui di kantornya, Jumat, 25 Februari 2022.

Danang berharap, dengan gagasan bangunan cagar budaya berdaya ekonomi kreatif ini tidak ada campuran unsur politik dari mana pun, sehingga nanti hasilnya dapat memperlihatkan keaslian dari Bandung.

“Kalau Cagar Budaya cuma bangunan saja, sayang saja seperti bangunan berhantu, terbengkalai. Bahkan saya mikirnya harus ada museum mininya. Minimal ada penunjukan proses dari tanaman kina, garam kina, serbuk kulit kina sampai ke kristalisasi,” ungkap Danang.

Namun sayangnya, ketika Ayobandung.com mencoba mengonfirmasi hal ini kepada Disbudpar Kota Bandung, tidak ada respons satu pun meski sudah dihubungi via pesan singkat maupun panggilan sejak Selasa hingga Kamis, 22–24 Februari 2022.
 
Amat disayangkan bangunan yang jadi bukti perjalanan sejarah Pabrik Kina Bandung itu kini tak layak dikunjungi khalayak. [*]
 
Artikel ini bagian dari liputan khas Susur Bandung di Ayobandung.com.

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

5 Jejak Sejarah Bung Karno di Kota Bandung

Senin, 6 Juni 2022 | 17:04 WIB

Esai Sunda: KAKAREN LEBARAN

Jumat, 6 Mei 2022 | 07:24 WIB

Sastra Sunda: NYAI MERTASINGA

Sabtu, 23 April 2022 | 14:08 WIB

Berziarah ke Makam Sembah Dalem Wirasuta Cimahi

Senin, 7 Maret 2022 | 19:24 WIB

Sejarah Jalan Braga di Kota Bandung

Jumat, 18 Februari 2022 | 13:57 WIB
X