Cerita Pendek: PERTEMUAN

- Sabtu, 19 Februari 2022 | 11:09 WIB
Ilustrasi cerita pendek Pertemuan. (Dodi Rosadi)
Ilustrasi cerita pendek Pertemuan. (Dodi Rosadi)



Oleh Tati Y Adiwinata

Jakarta, 16 November
Seorang laki-laki tengah duduk di bibir jendela. Pandangannya jauh. Di wajahya terlihat ada keresahan, istrinya selarut ini belum pulang. Tadi malam sebelum ia benar-benar terlelap, sebuah bisikan menyusup ke telinga. Katanya, Ning akan pulang larut karena akan bertemu kliennya di kota Bandung. Klien itu akan membeli sebuah rumah di Jakarta. Ning adalah makelar sebuah agen perumahan.

Semenjak menikahi Ning, ia tak pernah sekali pun melarangnya untuk bekerja. Ia menyadari gaji buruh serabutan tak akan mencukupi kebutuhan hidup mereka dengan layak. Tak ada yang mesti ia khawatirkan, semua akan baik-baik saja.

Ning istri yang baik, walaupun dia bekerja, tak pernah sekali pun merendahkannya atau melupakan kodrat sebagai seorang istri. Dia selalu melayaninya dengan baik. Lalu apa lagi yang mesti ia tuntut? Keturunan? Semua sudah ada yang mengatur. Kalau sekali-kali dia pulang larut dan sebelumnya telah meminta izin, apa yang mesti ia khawatirkan? Kepergiannya demi keberlangsungan sebuah pernikahan.

Ning sangat membenci kota Jakarta. Di kota ini dia tak pernah bisa bernapas dengan tenang. Kota terlalu sibuk dan pikiran pun menjadi sibuk. Dia merasa asing di kota yang gila, semua kebutuhan diukur dengan uang. Pernah suatu kali dia mengajaknya pindah ke kota Bandung.

“Kita pindah saja ke Bandung,” ajaknya suatu kali. Laki-laki itu terdiam.

“Bandung pun akan tumbuh menjadi kota yang gila,” desisnya.

“Tapi, seenggaknya butuh beberapa tahun lagi untuk menjadi gila seperti Jakarta.”

“Untuk apa? Toh, semua kota bergerak menjadi kota yang gila,” kata laki-laki itu lagi.

“Bukan kotanya yang gila, barangkali kita yang sudah menjadi gila,” bisik Ning parau.

Meski sebenarnya mereka tak pernah benar-benar mau pindah dari Jakarta, kota itu telah menawan mereka. Semua dengan mudah didapat. Namun, semua dengan mudah hilang. Laki-laki itu terlalu cinta Jakarta dan Ning terlalu cinta pada pekerjaannya.

Laki-laki itu akhirnya tertidur di atas sofa. Jendela masih terbuka. Desiran angin telah meninabobokannya.

Malam kian larut dan Ning belum pulang.

***

Halaman:

Editor: Dudung Ridwan

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Carita Pondok: BOROK

Sabtu, 2 Juli 2022 | 10:26 WIB

Cerita Pendek: TIANG LISTRIK

Sabtu, 25 Juni 2022 | 07:00 WIB

Carita Pondok: MORO SAWARGA

Sabtu, 18 Juni 2022 | 09:13 WIB

Carita Pondok: LATAR LAYAR

Sabtu, 4 Juni 2022 | 10:59 WIB

Carita Pondok: DINA TUNGTUNG SIMPE

Sabtu, 21 Mei 2022 | 06:14 WIB

Cerita Pendek: SAJAK LI BAI YANG SEKARAT

Sabtu, 14 Mei 2022 | 09:45 WIB

Carita Pondok: SANEKALA

Sabtu, 7 Mei 2022 | 07:39 WIB

Cerita Pendek: PERTEMUAN PADA SUATU MALAM

Sabtu, 30 April 2022 | 11:31 WIB

Cerita Pendek: KISAH YANG TAK BERKESUDAHAN

Sabtu, 16 April 2022 | 10:48 WIB

Sastra Sunda: DEMONSTRASI

Sabtu, 9 April 2022 | 11:25 WIB

Cerita Pendek: PUASA TANPA KEPALA KELUARGA

Sabtu, 2 April 2022 | 14:04 WIB

Sastra Sunda: LALAKON KOPLOK

Sabtu, 26 Maret 2022 | 08:20 WIB

Cerita Pendek: JERAT BUBAT

Sabtu, 19 Maret 2022 | 05:05 WIB

Sastra Sunda: LEUNGITEUN

Sabtu, 12 Maret 2022 | 10:32 WIB

Cerita Pendek: DERA LARA

Sabtu, 5 Maret 2022 | 06:47 WIB

Sastra Sunda: SRIKANDI ZAMAN NOW

Sabtu, 26 Februari 2022 | 15:12 WIB

Lugiena De jadi Pinunjul Hadiah Sastra LBSS 2022

Selasa, 22 Februari 2022 | 08:17 WIB

Cerita Pendek: PERTEMUAN

Sabtu, 19 Februari 2022 | 11:09 WIB
X