Sejarah Lagu Halo Bandung (Hallo Bandoeng), Elegi tentang Kerinduan dan Kematian

- Kamis, 20 Januari 2022 | 10:47 WIB
Terkandung cerita pilu di balik sejarah lagu Halo Bandung (Hallo Bandoeng). Sebuah elegi tentang kerinduan dan kematian seorang ibu. (Wikimedia Commons)
Terkandung cerita pilu di balik sejarah lagu Halo Bandung (Hallo Bandoeng). Sebuah elegi tentang kerinduan dan kematian seorang ibu. (Wikimedia Commons)

Terkandung cerita pilu di balik sejarah lagu Halo Bandung (Hallo Bandoeng). Sebuah elegi tentang kerinduan dan kematian seorang ibu.

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM — Pada tahun 1927, sambungan radio perdana berhasil terjadi antara Bandung dan Den Haag.

Percakapan suara dua arah, dari Hindia-Belanda (Indonesia) dan Belanda, untuk pertama kalinya dapat didengarkan penduduk yang terpisah jarak 11.515 km.

"Hallo Bandoeng! Hier Den Haag!" begitu ucapan pertama dari sambungan radio itu, yang memberitahukan: "Halo Bandung! Ini Den Haag!"

Setelah sambungan itu, teknologi radio komunikasi suara menjadi hal rutin yang digunakan warga Belanda di Indonesia kepada keluarganya di Eropa.

Berawal dari transmisi suara pertama di Stasiun Radio Malabar, di Gunung Puntang, Kabupaten Bandung, kisah-kisah menarik kemudian bermunculan di sampingnya.

Salah satu kisah yang paling terkenal termaktub dalam lirik lagu Hallo Bandoeng (baca: Halo Bandung).

Baca Juga: Bioskop Tertua di Bandung Dahulu Bernama Radio City

Sebuah judul lagu yang sama dengan kalimat pertama dari sambungan radio perdana Bandung—Den Haag.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Esai Sunda: KAKAREN LEBARAN

Jumat, 6 Mei 2022 | 07:24 WIB

Sastra Sunda: NYAI MERTASINGA

Sabtu, 23 April 2022 | 14:08 WIB

Berziarah ke Makam Sembah Dalem Wirasuta Cimahi

Senin, 7 Maret 2022 | 19:24 WIB

Sejarah Jalan Braga di Kota Bandung

Jumat, 18 Februari 2022 | 13:57 WIB
X