Cerita Pendek: PEREMPUAN GELAS RETAK

- Sabtu, 15 Januari 2022 | 10:01 WIB
Ilustrasi Perempuah Gelas Retak. (Arsacadipura)
Ilustrasi Perempuah Gelas Retak. (Arsacadipura)

“Itulah bodohnya ibunya si Widuri. Anak hamil tak tahu.”

“Aneh, anak hamil tak tahu. Si Badriah kan tinggal sama-sama.”

“Entah. Aku memarahinya habis-habisan. Ibunya Widuri tak terima. Mengamuk, mengata-ngataiku seperti orang gendeng.”

“Ibunya si kembar tahu kejadian ini?” Namanya Lekah, istri kedua satpam Toyib. Lekah, janda tanpa anak yang dinikahi satpam Toyib. Dari perkawinan siri, mereka memiliki sepasamg anak kembar bernama Pondar dan Pandir. Rosalina membenci Lekah. Satpam Toyib tahu, tak mungkin istri-istrinya akur. Mungkin hanya istri pertamanya, ibunya Badriah yang bisa menerima madu-madunya. Meskipun ketika menikahi Lekah dan Rosalina, satpam Toyib tidak meminta izin pada istri pertamanya.

“Sudah. Si Lekah menyarankan agar aku menikahkan si Badriah dengan mandor kero itu. Padahal aku tak sudi punya mantu kere. Ibune Widuri pasti  juga tak setuju. Kere.”

“Sudah. Bapak tenang saja. Nanti kita pikirkan.”

“Tenang bagaimana? Seminggu lalu istri mandor kero ngelabrak ke rumah ibune Widuri. Ngamuk dan nusuk si Widuri. Untung saja Widuri selamat. Istri si mandor kero kere sekarang meringkuk di penjara.”

                                                                      *** 

Di dalam kamarnya, siang-siang Badriah termenung di depan kaca rias. Usai mandi ia telanjang bulat, memandangi dirinya di balik cermin. Lama-lama. Perutnya semakin tidak rata. Usia kehamilannya menginjak tiga bulan. Sebentar lagi semakin kentara. Orang-orang semakin bergosip buruk tentangnya. Ia sudah menutup telinga. Ia sudah  menebalkan  perasaan. Tak peduli omongan orang tentang dirinya.

Namun, pada kenyataannya, hatinya terasa sakit dan sakit. Entah, mungkin ini salahnya. Mungkin ia terjebak kasih sayang palsu, seperti yang dinasihatkan Mbak Widuri. Hingga akibat perilakunya, Widuri ditusuk dan nyawanya nyaris tak tertolong. Padahal selama ini Widuri sangat baik. Ia kakak yang baik. Ia melindunginya. Saat Ibu memarahinya habis-habisan, Widuri menguatkannya dengan kelembutan hatinya.

Halaman:

Editor: Dudung Ridwan

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Cerita Pendek: SAJAK LI BAI YANG SEKARAT

Sabtu, 14 Mei 2022 | 09:45 WIB

Carita Pondok: SANEKALA

Sabtu, 7 Mei 2022 | 07:39 WIB

Cerita Pendek: PERTEMUAN PADA SUATU MALAM

Sabtu, 30 April 2022 | 11:31 WIB

Cerita Pendek: KISAH YANG TAK BERKESUDAHAN

Sabtu, 16 April 2022 | 10:48 WIB

Sastra Sunda: DEMONSTRASI

Sabtu, 9 April 2022 | 11:25 WIB

Cerita Pendek: PUASA TANPA KEPALA KELUARGA

Sabtu, 2 April 2022 | 14:04 WIB

Sastra Sunda: LALAKON KOPLOK

Sabtu, 26 Maret 2022 | 08:20 WIB

Cerita Pendek: JERAT BUBAT

Sabtu, 19 Maret 2022 | 05:05 WIB

Sastra Sunda: LEUNGITEUN

Sabtu, 12 Maret 2022 | 10:32 WIB

Cerita Pendek: DERA LARA

Sabtu, 5 Maret 2022 | 06:47 WIB

Sastra Sunda: SRIKANDI ZAMAN NOW

Sabtu, 26 Februari 2022 | 15:12 WIB

Lugiena De jadi Pinunjul Hadiah Sastra LBSS 2022

Selasa, 22 Februari 2022 | 08:17 WIB

Cerita Pendek: PERTEMUAN

Sabtu, 19 Februari 2022 | 11:09 WIB

Sastra Sunda: POPOEAN

Sabtu, 12 Februari 2022 | 09:45 WIB

Esai Sunda: Jadi Sato atawa jadi Jalma Mulia?

Rabu, 9 Februari 2022 | 13:26 WIB

Sukab jeung Badut Marsha di Lampu Beureum

Selasa, 8 Februari 2022 | 11:52 WIB

Sastra Sunda: KEMBANG API

Sabtu, 5 Februari 2022 | 08:25 WIB

Cerita Pendek: TARZANI BILANG MAU MATI SAJA

Sabtu, 29 Januari 2022 | 08:00 WIB

Cerita Pendek: PEREMPUAN GELAS RETAK

Sabtu, 15 Januari 2022 | 10:01 WIB

Sastra Sunda: HIBER KA BULAN

Sabtu, 8 Januari 2022 | 07:09 WIB
X