Balapan Becak di Bandung Tahun 1971

- Rabu, 5 Januari 2022 | 12:35 WIB
Ragam sejarah Kota Kembang selalu menarik diperbincangkan, termasuk tentang Balapan Becak di Bandung tahun 1971. (Mayapada, No. 116, Th. IV, 6 Mei 1971)
Ragam sejarah Kota Kembang selalu menarik diperbincangkan, termasuk tentang Balapan Becak di Bandung tahun 1971. (Mayapada, No. 116, Th. IV, 6 Mei 1971)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM — Ragam sejarah Kota Kembang selalu menarik diperbincangkan, termasuk tentang Balapan Becak di Bandung tahun 1971.

Secara nasional, perlombaan tersebut masih jadi salah satu hiburan favorit publik. Meskipun mengandung unsur negatif yang menonjolkan suka cita bahwa bahwa masyarakat jelata juga bisa bahagia.

Stigma semacam itu bukan isapan jempol semata. Sebuah majalah yang populer pada tahun 1970-an, Mayapada, juga mendeskripsikan hal serupa.

Menurut Kemala Atmojo, majalah mingguan umum, film dan teater ini terbit pertama kali pada 15 September 1967.  Isinya lebih banyak tulisan-tulisan dan foto untuk orang dewasa. Ada juga humor dan tulisan fiksi, seperti karya Abdullah Harahap.

Baca Juga: Sejarah Film Lutung Kasarung Tayang Perdana di Bioskop Bandung 1926

Begini ulasan pembuka mereka dalam Mayapada, No. 116, Th. IV, 6 Mei 1971:

Rakjat ketcjil banjak d'lupakan di negeri ini. Mereka dibiarkan hidup didunia mereka sendiri. Apakah dengan tjara jang halus, penuh kasih sajang dan terkadang demi hidup dan harga diri, mereka akan dapat berbuat kasar sesekali dan jang meningkat mendjadi datangja gangguan terhadap ketenangan masjarakat.

Dalam "MAYAPADA" beberapa perbitan jang lalu, telah kit ungkapkan salah satu kekerasang jang timbul dan ditimbulkan oleh masjarakat ketjil ini: mereka jang paling banjak memeras tenaga dan membuang waktu, hanja untuk sepuluh dua puluh perak. Siapa lagi kalau bukan abang2 betjak. Belakangan ini mereka didjuluki "Radja."  Radja djalanan, jg. ditakuti dan disegani. Bukan karena wibawa mereka jang patut dihormati, melainkan karena sepak terdjang mereka jang sungguh2 mentjiutkan "njali."

Dua paragraf tersebut sudah cukup mebuka mata pikiran kita tentang bagaimana rakyat jelata dipandang dalam sebuah perlombaan. 

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Esai Sunda: KAKAREN LEBARAN

Jumat, 6 Mei 2022 | 07:24 WIB

Sastra Sunda: NYAI MERTASINGA

Sabtu, 23 April 2022 | 14:08 WIB

Berziarah ke Makam Sembah Dalem Wirasuta Cimahi

Senin, 7 Maret 2022 | 19:24 WIB

Sejarah Jalan Braga di Kota Bandung

Jumat, 18 Februari 2022 | 13:57 WIB
X