Sejarah Masjid Salman ITB

- Selasa, 28 Desember 2021 | 16:23 WIB
Menilik sejarah Masjid Salman ITB jadi nostalgia yang unik. Pasalnya, membangun masjid pada masa Orde Lama bukanlah perkara yang mudah. (Wikimedia Commons)
Menilik sejarah Masjid Salman ITB jadi nostalgia yang unik. Pasalnya, membangun masjid pada masa Orde Lama bukanlah perkara yang mudah. (Wikimedia Commons)

Menilik sejarah Masjid Salman ITB jadi nostalgia yang unik. Pasalnya, membangun masjid pada masa Orde Lama bukanlah perkara yang mudah seperti sekarang.

COBLONG, AYOBANDUNG.COM — Sebuah masjid berdiri dengan megah di Jalan Ganesha No.7, Coblong, Kota Bandung, ini memiliki kisah unik yang menarik untuk disimak.

Masjid yang terletak di seberang kampus Institut Teknologi Bandung (ITB) ini menjadi bangunan ikonik kebanggaan warga ITB.

Suasana masjid yang tenang, adem, dan nyaman, selain digunakan sebagai tempat ibadah, juga dijadikan sebagai tempat belajar dan diskusi yang selalu disinggahi oleh mahasiswa maupun dosen.

Masjid ini dinamakan Masjid Salman atas usul Presiden Indonesia sekaligus alumnus ITB yakni, Ir. Soekarno. Dilansir dari laman Masjid Salman ITB, salmanitb.com, Presiden Soekarno kala itu bertanya pada Saifuddin Zuhri, Menteri Agama RI, “Siapa itu sahabat (Nabi Muhammad) yang menggali parit pada saat Perang Khandaq?” sontak dengan sigap sang menteri menjawab “Salman.”

Sebelum ada Masjid Salman, dulu mahasiswa-mahasiswa Muslim di ITB harus bersusah payah berjalan kaki dari ITB ke Masjid Cihampelas untuk menjalankan ibadah salat.

Baca Juga: Sejarah Benteng Gedong Dalapan Bandung, Diyakini Banyak Simpan Harta Karun Belanda

Melihat hal itu, Prof. TM Soelaiman bersama tiga orang sahabatnya yakni Achmad Noeman, Achmad Sadali, dan Ajat Sudrajat mengusulkan kepada Rektor ITB saat itu Prof. Ir. Otong Kosasih untuk mendirikan sebuah masjid di lingkungan ITB.

Namun, Rektor ITB tak setuju dengan alasan: jika orang Islam minta membangun masjid maka orang komunis akan meminta Lapangan Merah di ITB. Prof. TM Soelaiman dan teman-teman tak menyerah untuk menggalang dukungan Presiden Soekarno, yang kemudian memberikan restunya pada 28 Mei 1964 untuk mendirikan rumah ibadah ini.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Esai Sunda: KAKAREN LEBARAN

Jumat, 6 Mei 2022 | 07:24 WIB

Sastra Sunda: NYAI MERTASINGA

Sabtu, 23 April 2022 | 14:08 WIB

Berziarah ke Makam Sembah Dalem Wirasuta Cimahi

Senin, 7 Maret 2022 | 19:24 WIB

Sejarah Jalan Braga di Kota Bandung

Jumat, 18 Februari 2022 | 13:57 WIB
X