Sungai Cikapundung di Mata Orang-orang Sezaman

- Rabu, 22 Desember 2021 | 11:12 WIB
Warga Dago, Bandung awal abad ke-20 masih memanfaatkan Sungai Cikapundung untuk kegiatan marak (mencari ikan dengan cara membendung sungai). Soal ini diceritakan dalam buku Mangle yang terbit tahun 1902. (Rahim Asyik)
Warga Dago, Bandung awal abad ke-20 masih memanfaatkan Sungai Cikapundung untuk kegiatan marak (mencari ikan dengan cara membendung sungai). Soal ini diceritakan dalam buku Mangle yang terbit tahun 1902. (Rahim Asyik)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM – Bagimana pandangan orang-orang sezamannya tentang Sungai Cikapundung? Ada masa ketika warga memanfaatkan Sungai Cikapundung sebagai sumber listrik bagi Kota Bandung.

Ada juga masanya ketika sungai itu dijadikan tempat warga kampung terjun berburu ikan-ikan yang kini sudah tak ada. Sejumlah penyair di era belakangan menunjukkan wajah Sungai Cikapundung yang sudah berubah.

Bagi warga Bandung dulu, jasa Sungai Cikapundung sangatlah besar. Di sungai inilah beroperasi pembangkit listrik tenaga air yang dikelola NV Cultuur Maatschappij Tjikapoendoeng yang listriknya menerangi Kota Bandung.

Baca Juga: Tim Gober Temukan Granat Nanas di Sungai Cikapundung

Awal abad ke-20, ikan di Sungai Cikapundung juga masih melimpah. Tak heran kalau sungai itu dijadikan tempat marak warga setempat.

Soal marak alias mencari ikan dengan cara membendung sungai ini pernah diceritakan dalam buku berjudul Mangle. Buku ”roeparoepa tjarita reudjeung tjonto pikeun sakola Soenda” itu disusun oleh W Van Gelder. Buku terbitan ”Kantor Tjitak De Swart En Zoon”, Den Haag, itu sudah cetakan keempat pada tahun 1902.

Kegiatan Marak di Kawasan Dago Bengkok, Sungai Cikapundung

Buku berisi 35 tulisan pendek tentang aneka hal. Mulai dari permainan anak-anak zaman baheula seperti ”oetjing-oetjingan, andjang-andjangan, kokoletjeran, ambil-ambilan, toetoeroetjingan”. Ada pula tulisan mengenai pelajaran hidup seperti ”noe rajoengan, boedak tjëtjërëmed, boedak angon, boedak tjoelika, boedak hawëk, boedak bageur, anoe bangor sok meunang tjilaka”, dan ”ngora keneh tapi pintër”.

Dalam tulisan berjudul “Marak”, setting-nya adalah Sungai Cikapundung. Diceritakan, marak dilakukan warga Dago saat kemarau panjang. Soalnya, saat kemarau panjang itu volume air menyusut.

Sehari sebelum marak, warga rapat merundingkan lokasinya, yakni di aliran Sungai Cikapundung yang melintasi Lembur Bengkok. Pada hari-H, hampir seisi desa datang ke lokasi yang ditentukan. Ada yang membawa cangkul, linggis, dan korang. Selain itu, ”aja noe ngelek boboko djeung noe mawa ajakan, lambit, gobag, boeboe, soesoeg; sawareh aja noe mawa timbël atawa tjongtjot pibëkëleun.”

Baca Juga: Revitalisasi Sungai Cikapundung Harus Dimulai dari Sanitasi

Di lokasi marak, aliran Cikapundung terbagi dua. Satu ke selatan, satu lagi ke barat. Kegiatan marak dimulai dengan membendung sungai yang mengarah ke selatan. Setelah sungai terbendung, para penduduk turun mengambil ikan. Saat itu, ikan-ikan yang hidup di Cikapundung masih beragam.

Terbukti dari tangkapan warga. Ada yang beroleh ”nilém (Osteochilus vittatus), lele (Clarias batrachus), badar (Rasbora argyrotaenia), kehkel (Glyptothorax platypogon), beunteur (Puntius binotatus), laoek ëmas (Cyprinus carpio), bogo (Channa striata),” dan ”bëloet” (Monopterus albus).

Marak diakhiri dengan dibersihkannya lagi sungai. Batu-batu disingkirkan, bendungan dibuka lagi. Sebagian beristirahat sambil makan bekal yang dibawa dari rumah. Sebagian menyalakan api untuk membakar ikan. Sisa ikannya lalu dibawa pulang.

Halaman:

Editor: M. Naufal Hafizh

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Cerita Pendek: TANGAN YANG DIBUNGKAM

Sabtu, 21 Januari 2023 | 10:58 WIB

Bojong Kunci: Sejarah Cita Rasa Opak

Jumat, 16 September 2022 | 19:40 WIB
X