Cerita Pendek: RAHASIA PINTU

- Sabtu, 6 November 2021 | 09:37 WIB
Ilustrasi cerpen Pintu Rahasia. (Heindri Kurniawan)
Ilustrasi cerpen Pintu Rahasia. (Heindri Kurniawan)

Oleh: Fitri Manalu

SUAMIKU yakin bahwa ia melihat sebuah pintu di bawah pohon matoa yang terletak di seberang rumah kami. Ia mengaku telah melihat orang-orang keluar dari pintu itu. Walaupun sudah kukatakan semua itu hanya khayalannya saja, keyakinan suamiku tak tergoyahkan. Ia betah duduk berjam-jam lamanya di beranda hanya untuk mengawasi pintu itu. Kebiasaan itu sudah berlangsung selama seminggu dan membuatku jengkel bukan kepalang.

"Kerjamu cuma buang-buang waktu saja. Lihat, gerbang pagar perlu diminyaki, kupingku sampai sakit mendengarnya," omelku pada suatu sore.

Sudah dua jam suamiku tak beranjak dari kursi plastik hijau kesukaannya. Secangkir kopi di atas meja sudah tandas, tapi ia masih saja duduk memandangi pohon matoa yang tumbuh persis di sebelah dinding rumah tetangga kami.

"Jangan berisik!" sahut suamiku dengan tampang sebal. "Sudah berkali-kali kubilang, tapi kau tetap tak percaya. Aku sedang menunggu lelaki itu. Kemarin ada juga ibu dan anak yang keluar dari pintu itu. Memangnya kau tak penasaran?"

Mungkin lelaki yang sudah tiga tahun menjadi suamiku ini benar-benar gila, batinku resah. Minggu lalu, ia mengamuk gara-gara kucing tetangga berisik. Ketika kukatakan tabiat kucing kawin memang begitu adanya, ia malah memarahiku. Sebagai seorang istri, harusnya kau membelaku! Itulah yang ia katakan saat aku berang karena sapu yang ia gunakan untuk memburu kucing itu malah memecahkan vas bunga kesayanganku.

"Aneh, ditanya kok malah diam seperti patung," cela suamiku. Ia kembali meluruskan pandang ke arah pohon matoa.

Kejengkelanku kembali memuncak. "Lihat saja terus sana, sampai matamu copot," jawabku ketus.

Suamiku tak mengacuhkan kata-kataku. Sambil melanjutkan omelan, aku pura-pura masuk ke dalam rumah, lalu mengintip dari jendela. Sejujurnya, aku juga penasaran, tapi aku menutupinya karena tak ingin ikut-ikutan bertingkah aneh. Lebih baik, aku mengamati tingkahnya diam-diam saja.

Halaman:

Editor: Dudung Ridwan

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Carita Pondok: DINA TUNGTUNG SIMPE

Sabtu, 21 Mei 2022 | 06:14 WIB

Cerita Pendek: SAJAK LI BAI YANG SEKARAT

Sabtu, 14 Mei 2022 | 09:45 WIB

Carita Pondok: SANEKALA

Sabtu, 7 Mei 2022 | 07:39 WIB

Cerita Pendek: PERTEMUAN PADA SUATU MALAM

Sabtu, 30 April 2022 | 11:31 WIB

Cerita Pendek: KISAH YANG TAK BERKESUDAHAN

Sabtu, 16 April 2022 | 10:48 WIB

Sastra Sunda: DEMONSTRASI

Sabtu, 9 April 2022 | 11:25 WIB

Cerita Pendek: PUASA TANPA KEPALA KELUARGA

Sabtu, 2 April 2022 | 14:04 WIB

Sastra Sunda: LALAKON KOPLOK

Sabtu, 26 Maret 2022 | 08:20 WIB

Cerita Pendek: JERAT BUBAT

Sabtu, 19 Maret 2022 | 05:05 WIB

Sastra Sunda: LEUNGITEUN

Sabtu, 12 Maret 2022 | 10:32 WIB

Cerita Pendek: DERA LARA

Sabtu, 5 Maret 2022 | 06:47 WIB

Sastra Sunda: SRIKANDI ZAMAN NOW

Sabtu, 26 Februari 2022 | 15:12 WIB

Lugiena De jadi Pinunjul Hadiah Sastra LBSS 2022

Selasa, 22 Februari 2022 | 08:17 WIB

Cerita Pendek: PERTEMUAN

Sabtu, 19 Februari 2022 | 11:09 WIB

Sastra Sunda: POPOEAN

Sabtu, 12 Februari 2022 | 09:45 WIB

Esai Sunda: Jadi Sato atawa jadi Jalma Mulia?

Rabu, 9 Februari 2022 | 13:26 WIB

Sukab jeung Badut Marsha di Lampu Beureum

Selasa, 8 Februari 2022 | 11:52 WIB

Sastra Sunda: KEMBANG API

Sabtu, 5 Februari 2022 | 08:25 WIB

Cerita Pendek: TARZANI BILANG MAU MATI SAJA

Sabtu, 29 Januari 2022 | 08:00 WIB

Cerita Pendek: PEREMPUAN GELAS RETAK

Sabtu, 15 Januari 2022 | 10:01 WIB
X