Trik Dagang Orang Tionghoa: Jago Berniaga kepada Pribumi Sejak Dahulu

- Selasa, 26 Oktober 2021 | 16:31 WIB
[Ilustrasi Pecinan sebagai tempat dagang orang Tionghoa] Ada trik dalam cara berdagang orang Tionghoa, terutama kepada Pribumi. Mereka pun rupanya sudah jago berniaga sejak dahulu. (Pixabay/Phan Minh Cuong An)
[Ilustrasi Pecinan sebagai tempat dagang orang Tionghoa] Ada trik dalam cara berdagang orang Tionghoa, terutama kepada Pribumi. Mereka pun rupanya sudah jago berniaga sejak dahulu. (Pixabay/Phan Minh Cuong An)

Tak mengherankan, jarak sosial-ekonomi yang terlalu jauh dan bahkan minim persinggungan, antara Pribumi—Eropa, menimbulkan ketidakharmonisan. Bahkan, ketidakharmonisan ini juga berlaku antara Tionghoa dan Eropa.

Baca Juga: Di Hotel Tjimahi, Raymond Westerling si Pembantai 100 Prajurit TNI Bersembunyi

Dalam sebuah tulisan di Sin Bin, misalnya, yang terbit di Bandung pada 15 Juli 1925, ketidakharmonisan itu jelas-jelas terlihat. Artikel yang berjudul Jangan Mengukur di Badan Laen Orang memaparkan bagaimana persaingan antara saudagar Tionghoa dengan Eropa: Tapi apalah ia kira, lantaran adanya itu beberapa saudagar Eropa yang kurang ajar, tidak tahu malu, tidak mengenal kesopanan dan kemanusiaan. Tertulis dalam salah satu kalimatnya.

Seakan saling menyerang, sebagai penegasan permusuhan terhadap Tionghoa, penguasa Eropa pada masa kolonialis Belanda juga menerapkan berbagai kebijakan yang membatasi aktivitas ekonomi Tionghoa. 

Dengan pembentukan anti-rentenir, misalnya, orang Eropa mencoba menekan saudagar Tionghoa yang bukan hanya berdagang, tetapi juga mendapatkan untung dari meminjamkan uang. 

"Dan ternyata korban (rentenir)-nya bukan hanya orang Pribumi, tetapi ada juga orang-orang Eropa," singkap Tanti, tentang mengapa orang Tionghoa begitu mengesalkan bagi pemerintah kolonial.

Sebuah Pecinan pada masa Hindia Belanda (litografi berdasarkan lukisan oleh Josias Cornelis Rappard, 1883-1889). (Wikimmedia Commons (CC)/Josias Cornelis Rappard )

Bagi Pribumi yang tidak selalu punya uang di kantong setiap hari, eksistensi pedagang yang sudi memberikan utang itu penting. Terlebih lagi jika mau meminjamkan uang. Satu faktor yang tak kalah penting dari trik jago dagang orang Tionghoa ialah juga kemauan mereka untuk blusukan. 

"Di Bandung, itu juga ada misalnya pedagang Cina yang disebut pedagang kelontong. Mereka berdagang dengan alat bunyi tong tong tong tong. Kemudian yang didagangkan barang-barang kebutuhan PribumiTapi lama-lama memang akhirnya bukan hanya berdagang barang, tetapi meminjamkan uang," pungkas Tanti.

Ya, begitulah trik dagang orang Tionghoa. Setelah memahami dari sudut pandang sejarah, sekarang cukup dipahami mengapa etnis keturunan Tionghoa lazimnya jago berniaga. [*]

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

5 Jejak Sejarah Bung Karno di Kota Bandung

Senin, 6 Juni 2022 | 17:04 WIB

Esai Sunda: KAKAREN LEBARAN

Jumat, 6 Mei 2022 | 07:24 WIB

Sastra Sunda: NYAI MERTASINGA

Sabtu, 23 April 2022 | 14:08 WIB

Berziarah ke Makam Sembah Dalem Wirasuta Cimahi

Senin, 7 Maret 2022 | 19:24 WIB

Sejarah Jalan Braga di Kota Bandung

Jumat, 18 Februari 2022 | 13:57 WIB
X