Trik Dagang Orang Tionghoa: Jago Berniaga kepada Pribumi Sejak Dahulu

- Selasa, 26 Oktober 2021 | 16:31 WIB
[Ilustrasi Pecinan sebagai tempat dagang orang Tionghoa] Ada trik dalam cara berdagang orang Tionghoa, terutama kepada Pribumi. Mereka pun rupanya sudah jago berniaga sejak dahulu. (Pixabay/Phan Minh Cuong An)
[Ilustrasi Pecinan sebagai tempat dagang orang Tionghoa] Ada trik dalam cara berdagang orang Tionghoa, terutama kepada Pribumi. Mereka pun rupanya sudah jago berniaga sejak dahulu. (Pixabay/Phan Minh Cuong An)

Ada trik dalam cara berdagang orang Tionghoa, terutama kepada Pribumi. Mereka pun rupanya sudah jago berniaga sejak dahulu.

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM — Kecakapan dagang orang-orang Tionghoa sebenarnya bukanlah suatu hal misterius, apalagi bersifat magis. Secara historis, mereka memang punya trik yang mumpuni, yang membuat orang-orang Pribumi di Nusantara (baca: Indonesia) jatuh hati.

Bukan rahasia sebenarnya bahwa pada masa kolonialis Belanda, orang-orang Pribumi cenderung lebih dekat dengan Tionghoa. Sebuah hubungan yang tidak terjalin dengan orang-orang Eropa.

Orang Tionghoa punya faktor yang tidak dimiliki oleh Eropa sebagai pedagang. Hal inilah yang menentukan kecemerlangan perniagaan mereka, terutama di Bandung, Jawa Barat.

"Orang-orang Tionghoa tuh mereka dianggap paling mengerti apa kebutuhan dari Pribumi," ungkap Tanti Restiasih Skober, sejarawan Universitas Padjadjaran, yang membahas sejarah orang Tionghoa di Bandung (1930-1960) dalam tesisnya, saat dihubungi ayobandung.com beberapa waktu lalu.

"Dalam sebuah iklan, misalnya, ketika mendekati Idulfitri, itu kebutuhan Pribumi untuk Idulfitri lebih bisa dipenuhi oleh orang-orang Tionghoa."

Di sini terlihat bahwa hubungan intensif pedagang Tionghoa dengan konsumen Pribumi membuat mereka lebih mengenal kebutuhan dan selera golongan rendah. Konsep dagang itu amat berbeda dengan sikap pedagang Eropa, yang menurut Tanti "terlalu ekslusif" untuk kelas atas dan tidak terjangkau rakyat biasa di tingkat bawah. 

"Di Bandung memang banyak toko-toko orang Eropa. Tetapi kalaupun Pribumi (ada yang membeli) ya Pribumi kelas atas," lanjut tanti.

"Kemudian juga bagaimana orang Eropa di Jalan Braga lebih mengutamakan untuk (konsumen) orang Eropa Sendiri, sedangkan orang Tionghoa itu lebih dekat dan mengetahui kebutuhan orang Pribumi."

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

13 Buku Karya Mohamad Koerdie Alias Sjarif Amin

Jumat, 19 November 2021 | 14:47 WIB

Nenek Moyang PT KAI, Perusahaan Kereta Api SS di Bandung

Kamis, 30 September 2021 | 09:30 WIB

Filosofi Arsitektur dan Sejarah Masjid Salman ITB

Kamis, 12 Agustus 2021 | 16:52 WIB

Kisah Huru-hara di Balik Berdirinya Pasar Baru

Rabu, 4 Agustus 2021 | 21:20 WIB
X