Sejarah Gedung Sate: J Gerber Bukan Arsitek Gedung Sate?

- Kamis, 7 Oktober 2021 | 13:00 WIB
Peletakan batu pertama pembangunan Gedung Sate pada 27 Juli 1920. Pembangunan Gedung Sate selesai pada September 1924. Nama J Gerber sebagai arsiteknya pernah disangsikan. (Repro dari buku Balai Agung di Kota Bandung karya Haryoto Kunto)
Peletakan batu pertama pembangunan Gedung Sate pada 27 Juli 1920. Pembangunan Gedung Sate selesai pada September 1924. Nama J Gerber sebagai arsiteknya pernah disangsikan. (Repro dari buku Balai Agung di Kota Bandung karya Haryoto Kunto)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Sejarah Gedung Sate bukannya tanpa misteri. Salah satu misteri yang sempat mengemuka adalah, siapa arsitek Gedung Sate yang sesungguhnya. Her Suganda dalam buku Jendela Bandung menyebut J Gerber sebagai perancang Gedung Sate. Berbagai sumber lain juga menyebutkan bahwa J Gerber adalah arsitek Gedung Sate tapi kenapa ada yang menyangsikannya.

Soal ini sempat ditulis kuncen Bandung Haryoto Kunto dalam buku Balai Agung di Kota Bandung. Dalam buku itu diceritakan, Ben van Leerdam datang ke Bandung pada pertengahan tahun 1988. Saat itu, Leerdam adalah dosen pada Fakultas Teknik di Delft. Leerdam datang ke Bandung untuk napak tilas arsitek Henri Maclaine Pont--arsitek kelahiran Meester Cornelis (Jatinegara, Jakarta) pada 1885--yang merancang bangunan utama kampus ITB.

Kepada Haryoto Kunto Leerdam bilang, “Cobalah selidiki kembali segala sesuatunya tentang Gedung Sate. Masih banyak hal yang saya sangsikan, terutama tentang siapa arsitek perancang bangunan tersebut.” Ada yang mengatakan bahwa arsiteknya berkebangsaan Austria, sementara Gerber adalah orang Belanda.

Baca Juga: Abu Gunung Tangkuban Parahu Sempat Terlihat dari Gedung Sate

Selain Leerdam, ada Ir R Heringa, arsitek asal Bloemendaal, Belanda. Pada Maret 1995, Heringa datang ke Bandung untuk menyelusuri kehidupan kakeknya yang bernama Ir FJL Ghijsels. Ghijsels ini juga arsitek ternama pada zamannya. Bersama Ir Hein von Essen dan F Stlitz, Ghijsels mendirikan biro arsitek sekaligus kontraktor Algemeen Ingenieurs en Architectenbureau (AIA) di Batavia pada 1916. Biro ini membuka cabang di Surabaya (1927) dan Bandung (1932). Biro di Bandung dipimpin FW Brinkman dan GH Voorhoeve.

Menurut Yulianto Sumalyo dalam buku Arsitektur Kolonial Belanda di Indonesia, AIA ini beberapa kali bekerja sama dengan arsitek terkenal CP Wolff Schoemaker misalnya dalam menggarap Vila Isola di Bandung serta International Credit en Handelsvereniging (sekarang Kantor Aneka Niaga) dan Kolonial Bank (sekarang Kantor PT Perkebunan XXI-XXII) di Surabaya. Selain itu juga merancang took dan rumah tinggal baik di Bandung maupun di Surabaya.

Sebelum mendirikan biro AIA, Ghijsels sempat bekerja di departemen pekerjaan umum (department van burgerlijke openbare werken) dan ditempatkan di Bandung. Menurut Heringa, pada 1917, Biro AIA di bawah Ghijsels mengajukan desain rancangan pembangunan gedung Gouvernementsbureaux (jawatan pemerintah) yang lokasinya persis di Gedung Sate saat ini. Keterangan sejenis bisa ditemukan dalam buku Robert PGA Voskuil, Bandung Cita Sebuah Kota.

Baca Juga: Menghitung Biaya Pembangunan Gedung Sate dengan Mesin Waktu

Menurut Voskuil, dari seluruh rencana itu, hanya 2 bangunan yang tereksekusi. Sementara menurut Haryoto, rancangan itu ditolak pemerintah dengan alasan terlalu kebarat-baratan. “Namun ada juga elemen desainnya yang diambil oleh tim arsitek dari Landsgebouwendienst (jawatan gedung-gedung nusantara) pimpinan J Gerber,” tulis Haryoto Kunto dalam buku Balai Agung di Kota Bandung.

Halaman:

Editor: M. Naufal Hafizh

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Nenek Moyang PT KAI, Perusahaan Kereta Api SS di Bandung

Kamis, 30 September 2021 | 09:30 WIB

Filosofi Arsitektur dan Sejarah Masjid Salman ITB

Kamis, 12 Agustus 2021 | 16:52 WIB

Kisah Huru-hara di Balik Berdirinya Pasar Baru

Rabu, 4 Agustus 2021 | 21:20 WIB
X