Cerpen: BAGAIMANA KITA BERTEMU KEMBALI; BAGAIMANA MEMAKNAI KATA SEHARUSNYA

- Sabtu, 25 September 2021 | 06:09 WIB
Ilustrasi Cerpen Bagaimana Kita Bertemu Kembali. (Arsacadipura)
Ilustrasi Cerpen Bagaimana Kita Bertemu Kembali. (Arsacadipura)

Oleh: Jein Oktaviany

KETIKA pramusaji menyimpan donat yang kupesan, aku meyakini bahwa perempuan yang duduk di meja lama kita adalah kamu. Sungguh, aku tak pernah menyangka akan bertemu denganmu lagi. Aku tak pernah berpikir kamu akan kembali ke kota ini. Apalagi ke sini. Sejenak kemudian, aku tersadar bahwa aku telah memperhatikanmu selama beberapa belas menit. Sampai-sampai lupa mengucapkan terima kasih pada pramusaji.

Dari pertama aku mengamatimu, kamu terlihat begitu nyaman di sudut itu. Seolah tak ada yang berubah sejak terakhir kamu duduk di sana. Aneh. Padahal, warna dinding telah tiga kali dicat ulang, meja yang kamu tempati pun telah dua kali berganti, dan menu-menu serta promo-promo baru nyaris setiap bulan berbeda. Hanya gambar pop-art yang dibingkai besar di belakang meja kita itulah yang tak berubah. Mungkin, kamu tak memperhatikan detail-detail sepertiku. Atau mungkin, masih ada perasaan lampau yang mengikatmu di sana. Atau, mungkin, sesederhana kamu tidak peduli.

Kupalingkan wajah ke arah jendela. Ada sepasang kekasih—setidaknya itu perkiraanku—sedang berbincang. Di belakang mereka, lampu-lampu kendaraan berlalu lalang. Mereka tidak mengingatkanku pada kita. Sama sekali tidak. Pasangan itu duduk dengan saling berhadapan. Sedangkan kita, di masa lalu, selalu duduk bersampingan. Lagi pula kita tak pernah memilih duduk dekat jendela. Kamu selalu sedikit pening jika harus melihat ke arah jalan.

Gadis di dekat jendela terlihat tertawa karena lelucon pria di depannya. Membuatku terpikir bahwa seharusnya aku pindahkan donatku, juga tas hitam berisi komputer jinjing yang berisi semua pekerjaan kantor. Menyimpannya ke atas meja lama kita, kemudian menyapamu atau mengucapkan hai terlebih dulu, atau dor, atau entah apa. Hanya untuk memastikan bahwa itu adalah kamu.

“Apa kabar? Kukira bukan kamu. Boleh duduk di sini?” Kira-kira begitulah yang akan kuucapkan setelah mengumpulkan keberanian melawan rasa gelisah. Aku telah berjanji pada diriku sendiri, jika jawabanmu berada dalam skala di bawah tujuh dari sepuluh, maka lebih baik aku pura-pura salah orang. Setengah jam setelah itu, kurasa aku akan memutuskan untuk pergi dan mencari kedai lain.

Kamu tertawa, “Aku dari tadi memperhatikanmu. Ingin menyapa tapi takut salah orang.” Respons ini bernilai delapan. “Rambutmu baru. Aku suka.” Sejujurnya, aku kurang percaya apakah kamu memang benar menyukainya. Kamu selalu mengatakan itu setiap kali aku berganti gaya rambut.

Kamu mengeser komputer jinjingmu agar donatku bisa disimpan di meja. Aku duduk dan bertanya. “Kamu tidak menjawab semua pertanyaanku. Seperti biasa.”

“Iyakah?”

Halaman:

Editor: Dudung Ridwan

Tags

Terkini

Dongeng Pendek Sunda: Sangu Sesa

Senin, 3 Oktober 2022 | 16:30 WIB

Carita Pondok: LENGLANG-LENGLANG SAWAH URANG

Sabtu, 24 September 2022 | 08:44 WIB

Carita Pondok: MARSIH

Sabtu, 10 September 2022 | 07:18 WIB

Cerita Pendek: TAWA DINI HARI

Sabtu, 3 September 2022 | 09:11 WIB

Carita Pondok: TANGKAL DARAJAT

Sabtu, 27 Agustus 2022 | 10:47 WIB

Cerita Pendek: RADIO

Sabtu, 20 Agustus 2022 | 11:44 WIB

Sapedah Hias

Selasa, 16 Agustus 2022 | 16:34 WIB

Carita Pondok: SAJERONING ATI

Sabtu, 13 Agustus 2022 | 08:54 WIB

Cerita Pendek: DI DEPAN JENAZAH BAPAK

Sabtu, 6 Agustus 2022 | 09:07 WIB

Carita Pondok: MANG INTA MUNGGAH HAJI

Sabtu, 30 Juli 2022 | 06:13 WIB

Cerita Pendek: KADIR DAN SELAWAT KERUPUK UDANG

Sabtu, 23 Juli 2022 | 12:00 WIB

Carita Pondok: NU HARAYANG DITIKAH

Sabtu, 16 Juli 2022 | 10:06 WIB

Cerita Pendek: GARA-GARA TELEVISI

Sabtu, 9 Juli 2022 | 10:10 WIB

Carita Pondok: BOROK

Sabtu, 2 Juli 2022 | 10:26 WIB

Cerita Pendek: TIANG LISTRIK

Sabtu, 25 Juni 2022 | 07:00 WIB

Carita Pondok: MORO SAWARGA

Sabtu, 18 Juni 2022 | 09:13 WIB

Carita Pondok: LATAR LAYAR

Sabtu, 4 Juni 2022 | 10:59 WIB
X