[Lipkhas] Kisah Patung Bugil Citarum, Tanda Terhubungnya Bandung-Den Haag

- Rabu, 22 September 2021 | 17:24 WIB
Monumen penanda terhubungnya komunikasi suara Bandung-Den Haag via Stasiun Radio Malabar. Monumen yang dibangun di sekitaran Jalan Citarum tersebut kini berdiri menjadi Masjid Istiqomah. (Istimewa)
Monumen penanda terhubungnya komunikasi suara Bandung-Den Haag via Stasiun Radio Malabar. Monumen yang dibangun di sekitaran Jalan Citarum tersebut kini berdiri menjadi Masjid Istiqomah. (Istimewa)

REGOL, AYOBANDUNG.COM -- Sebelum Masjid Istiqomah hadir di Kota Bandung, area di tempat masjid tersebut berdiri merupakan Lapangan Citarum atau dinamai Tjitaroemplein. Di lapangan itu, terdapat sebuah monumen tematik dengan bentuk yang cukup unik.

Monumen tersebut berbentuk sebuah bola besar dengan dua pria yang mengapit di sisi kanan dan kirinya. Kedua pria tersebut dibuat tanpa busana, dengan perawakan kekar khas patung-patung di era Romawi. Bagian bokongnya yang terbuka disebut cukup menyedot perhatian, sehingga monumen ini pun kerap disebut sebagai "monumen pantat bugil" atau blotebillen monument.

Bila ditelisik lebih saksama, kedua patung pria dalam monumen tersebut nampak tengah berkomunikasi dengan salah satunya dibuat berteriak dengan tangan di mulutnya. Sementara patung pria di seberangnya dibuat sedang menaruh tangan di telinga pertanda mendengarkan hal yang diteriakkan dari seberang.

Di tengah-tengahnya terdapat bola dengan untaian tulisan dalam Bahasa Belanda yang berbunyi :

Eenzam in trotsche natuur ligt zijn schepping op Malabar’s steilte: ‘t Woord harer machtige stem klink door tot de einden der aarde.

‘t Scheppend genie van De Groot verbonds trots d’oorlogsbezwaren, Nederland en Indie, zo ver uiteen, door den trillenden aether.

Bila diterjemahkan bebas, ungkapan puitis tersebut secara umum menggambarkan keberhasilan De Groot membuat "suara dapat terdengar ke ujung bumi".

Monumen Pencapaian

De Groot tak lain adalah seorang ilmuwan elektro berkebangsaan Belanda yang membangun Stasiun Radio Malabar, yakni pemancar gelombang radio terbesar di Hindia Belanda yang dapat menyampaikan pesan suara dari Hindia Belanda ke negeri Belanda. Stasiun radio tersebut dibangun di Gunung Puntang, Kabupaten Bandung dan resmi beroperasi pada 1923.

Halaman:

Editor: M. Naufal Hafizh

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Nenek Moyang PT KAI, Perusahaan Kereta Api SS di Bandung

Kamis, 30 September 2021 | 09:30 WIB

Filosofi Arsitektur dan Sejarah Masjid Salman ITB

Kamis, 12 Agustus 2021 | 16:52 WIB

Kisah Huru-hara di Balik Berdirinya Pasar Baru

Rabu, 4 Agustus 2021 | 21:20 WIB
X