Kisah Huru-hara di Balik Berdirinya Pasar Baru

- Rabu, 4 Agustus 2021 | 21:20 WIB
Pasar Baru pernah dinamakan Pasar Baroeweg dan berpusat di daerah Ciguriang (sekitar Jalan Kepatihan). Pasar Baru mulai didirikan setelah adanya kerusuhan dan kebakaran yang terjadi di Pasar Ciguriang pada 30 Desember 1842.
Pasar Baru pernah dinamakan Pasar Baroeweg dan berpusat di daerah Ciguriang (sekitar Jalan Kepatihan). Pasar Baru mulai didirikan setelah adanya kerusuhan dan kebakaran yang terjadi di Pasar Ciguriang pada 30 Desember 1842.

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM – Pasar Baru Trade Center merupakan salah satu pusat perbelanjaan tertua yang masih eksis hingga saat ini.

Berada di pusat Kota Bandung tepatnya di Jalan Otto Iskandar Dinata No. 70, Pasar Baru menjadi tempat yang strategis untuk melakukan aktivitas jual beli yaitu berada di dekat Alun-Alun Bandung dan Stasiun Kereta Api Bandung.

Tak ayal, Pasar Baru menjadi pasar yang selalu ramai dikunjungi masyarakat. Terlebih lagi, Pasar Baru sendiri memiliki keunikan pada bangunannya yang bernuansa jadul ,yang menarik wisatawan domestik maupun non-domestik.

Meski begitu ramai, di balik ramainya Pasar Baru sebenarnya tersimpan sejarah menyedihkan. Sudah Tahu?

Berdasarkan rangkuman Ayobandung.com dari berbagai sumber, ketika masa kolonial Belanda masih menduduki Indonesia, Pasar Baru dinamakan Pasar Baroeweg dan berpusat di daerah Ciguriang (sekitar Jalan Kepatihan). Pasar Baru mulai didirikan setelah adanya kerusuhan dan kebakaran yang terjadi di Pasar Ciguriang pada 30 Desember 1842.

Kisah kerusuhan dan pembakaran Pasar Ciguriang tercatat buku berjudul Wawacan Carios Munada karya Edi S. Ekadjati, dkk. Diceritakan peristiwa ini disebabkan oleh tindakan sengaja seorang pedagang kecil yang terlilit hutang bernama Munada.

Munada digambarkan sebagai orang yang cakap berbicara sehingga berhasil mendekati Asisten Residen Bandung Carl Wilhelm August Nagel untuk memberikan modal bisnis menjadi kontraktor penyedia hewan seperti kuda, kerbau dan dokar untuk transportasi.

Namun, akibat kebiasaan buruk Munada yang suka menghambur-hamburkan uang untuk berjudi, bermain perempuan, bahkan menghisap candu, ia pun terlilit hutang sebesar tiga ratus gulden. Jika dihitung, jumlah ini setara dengan 300 juta rupiah pada masa sekarang. Hal inilah yang membuat Nagel memburu Munada untuk menagih hutangnya yang sudah jatuh tempo.   

Terdapat dua versi alasan kenapa Munada membakar Pasar Ciguriang. Ketiga versi ini tercantum dalam buku Wawacan Carios Munada.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Terkini

Filosofi Arsitektur dan Sejarah Masjid Salman ITB

Kamis, 12 Agustus 2021 | 16:52 WIB

Kisah Huru-hara di Balik Berdirinya Pasar Baru

Rabu, 4 Agustus 2021 | 21:20 WIB

4 Tugu Sister City yang Ikonik di Kota Bandung

Rabu, 14 Juli 2021 | 18:30 WIB
X