Tekad Mohammad Natsir Melawan Penjajah Lewat Pendidikan di Bandung

- Selasa, 3 Agustus 2021 | 16:35 WIB
Mohammad Natsir, ketika bersekolah di sekolah Belanda yang terletak di Bandung pada masa remajanya, terpicu untuk melawan dampak buruk penjajahan Belanda di Indonesia.
Mohammad Natsir, ketika bersekolah di sekolah Belanda yang terletak di Bandung pada masa remajanya, terpicu untuk melawan dampak buruk penjajahan Belanda di Indonesia.

Pada harinya, Natsir mempresentasikan analisisnya di muka kelas. Ia menyodorkan bukti bahwa tidaklah benar Jawa menerima keuntungan dari pabrik gula di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Yang untung, kata dia, tetap saja kaum kapital dan pejabat bupati yang memaksa rakyat menyewakan tanahnya kepada pabrik dengan harga rendah.

Empat puluh menit menyampaikan analisisnya dengan bahasa Belanda yang rapi, seluruh kelas sunyi-senyap. Meneer itu diam dan Natsir tampak puas. Hidup dalam didikan sekolah Belanda, Natsir sadar terhadap dampak buruk penjajahan Belanda. Api perlawanannya mulai menyala. Masa-masa itu Natsir masuk ke Jong Islamiten Bond (JIB) cabang Bandung. JIB didirkan oleh Haji Agus Salim dan Wiwoho Purbohadijoyo.

Natsir menjadi wakil ketua JIB Bandung pada 1928-1932, disana juga ia bertemu Nur Nahar, perempuan yang kelak menjadi istrinya. Sebagai aktivis politik, Natsir juga rajin berinteraksi dengan tokoh pergerakan waktu itu. Ia pun mendengarkan pidato Soekarno pada rapat umum Partai Nasional Indonesia yang diselenggarakan 17 Oktober 1929 di gedung bioskop Oranje-Casino, Bandung. Saat itu, Soekarno dengan sengaja mengundang para pemimpin organisasi Islam yang ada di Bandung.

Namun Natsir tak sepaham dengan Soekarno soal cara memandang Islam. Ia memilih berjuang dengan caranya, menulis di majalah bulanan Pembela Islam yang tersebar ke seluruh Indonesia. 

Selain itu, Natsir juga melahap habis karya-karya Snouck Hurgronje, di antaranya Netherland en de Islam, buku yang memaparkan strategi Hurgronje dalam menghadapi Islam. Buku ini membuat Natsir bertekad melawan Belanda melalui pendidikan. [Muhammad Rizaldi Nugraha]

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Terkini

Nenek Moyang PT KAI, Perusahaan Kereta Api SS di Bandung

Kamis, 30 September 2021 | 09:30 WIB

Filosofi Arsitektur dan Sejarah Masjid Salman ITB

Kamis, 12 Agustus 2021 | 16:52 WIB

Kisah Huru-hara di Balik Berdirinya Pasar Baru

Rabu, 4 Agustus 2021 | 21:20 WIB
X