Tekad Mohammad Natsir Melawan Penjajah Lewat Pendidikan di Bandung

- Selasa, 3 Agustus 2021 | 16:35 WIB
Mohammad Natsir, ketika bersekolah di sekolah Belanda yang terletak di Bandung pada masa remajanya, terpicu untuk melawan dampak buruk penjajahan Belanda di Indonesia.
Mohammad Natsir, ketika bersekolah di sekolah Belanda yang terletak di Bandung pada masa remajanya, terpicu untuk melawan dampak buruk penjajahan Belanda di Indonesia.

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM – Mohammad Natsir sang perdana Menteri kelima Republik Indonesia dan pendiri sekaligus pemimpin partai politik Masyumi juga seorang tokoh Islam terkemuka Indonesia, pernah bersekolah di Bandung semasa mudanya.

Diceritakan dalam buku Natsir Politik Santun di Antara Dua Rezim keluaran Tempo (2011), Natsir masuk sekolah Algemene Middelbare School (AMS) pada 1927 di Bandung. AMS, merupakan sekolah menengah umum setingkat sekolah menengah atas sekarang yang tergolong sekolah elite. Berdiri pertama kali pada 1919, AMS diperutunkan bagi lulusan Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) sekolah menengah pertama, yang ingin melanjutkan sekolahnya.

Natsir termasuk yang beruntung karena nilainya tergolong bagus, sehingga ia mendapatkan beasiswa masuk AMS. Anak pensiunan juru tulis ini masuk di jurusan studi Sastra dan Humaniora Barat. Ketika menetap di Bandung, Natsir tinggal di rumah eteknya, Latifah, di Jalan Cihapit.

Tiga bulan pertama di AMS menjadi ujian berat bagi Natsir. Sadar selalu diejek karena tak fasih bercakap Belanda, ia melecut diri. Tiap sore Natsir belajar bahasa Latin, dilanjut sesudah Magrib, memahirkan pelajar sekolah. Nyaris tak ada libur baginya.

Sepulang sekolah tiap hari, Natsir membenamkan diri melahap buku-buku berbahasa Belanda di perpustakaan Gedung Sate. Ia juga memberanikan diri terus bercakap bahasa Belanda.

Saat kemampuan cakap Belandanya bertambah, Natsir mengikuti lomba deklamasi bahasa Belanda, yang digelar AMS pada akhir tahun. Mengambil satu syair karangan multatuli berjudul “De Bandjir”, ia terus berlatih hingga hari lomba tiba.

Natsir sengaja memakai baju adat minang tempat kelahirnya. Sepuluh menit berdeklamasi, tepuk tangan riuh menyambut. Di mukanya tampak Meneer gurunya, dengan tepuk tangan dan senyum sinis memandangnya. Natsir mendapat juara 1 lomba tersebut.

Hati Natsir masih sedikit "panas" jika melihat Meneer gurunya itu. Di kelas V-A (kelas II sekolah menengah atas), ia bertemu lagi dengan si Meneer. Kali ini ia mengajar ilmu bumi ekonomi. Di tengah pelajaran ia suka menyindir pergerakan politik kaum nasionalis.

Maklum, siswa AMS pada tahun itu, 1927-1929, suka ikut bicara soal politik. Dan si Meneer tidak menyukainya. Suatu kali, Meneer memberikan pelajaran pengaruh penanaman tebu dan pabrik gula bagi rakyat di Pulau Jawa. Ia menyuruh muridnya menulis makalah. Butuh dua pekan bagi Natsir untuk menyelesaikan tugasnya.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Terkini

Nenek Moyang PT KAI, Perusahaan Kereta Api SS di Bandung

Kamis, 30 September 2021 | 09:30 WIB

Filosofi Arsitektur dan Sejarah Masjid Salman ITB

Kamis, 12 Agustus 2021 | 16:52 WIB

Kisah Huru-hara di Balik Berdirinya Pasar Baru

Rabu, 4 Agustus 2021 | 21:20 WIB
X