Meneropong Sejarah Observatorium Bosscha, Dahulu Bernama Bosscha Sterrenwacht

- Minggu, 1 Agustus 2021 | 08:00 WIB
Dahulu, Observatorium ini bernama Bosscha Sterrenwacht, dibangun oleh Nederlandsch-Indische Sterrenkundige Vereniging (NISV) atau Perhimpunan Astronomi Hindia Belanda.
Dahulu, Observatorium ini bernama Bosscha Sterrenwacht, dibangun oleh Nederlandsch-Indische Sterrenkundige Vereniging (NISV) atau Perhimpunan Astronomi Hindia Belanda.

LEMBANG, AYOBANDUNG.COM  Indonesia merupakan bekas negara jajahan beberapa bangsa Eropa dan Asia. Mulai dari Portugis, Inggris, Belanda, hingga Jepang.

Keindahan dan kekayaan alam Indonesia sejak dulu sudah menjadi daya tarik bagi bangsa lain untuk melakukan pendudukan. Tentu saja, pada masa penjajahan, banyak sekali rakyat menderita di bawah tangan berlumuran sang penjajah bangsa Indonesia.

Penjajahan sangat membekas dalam perkembangan Indonesia. Banyak sekali beberapa hal mulai dari budaya hingga tata kelola negara yang menurun hingga saat ini.

Meski begitu, yang disisakan oleh penjajahan tidak selamanya soal keburukan. Banyak juga buah hasil penjajahan yang melahirkan suatu penemuan atau perkembangan yang sangat menarik untuk kemajuan bangsa Indonesia.

Salah satunya Observatorium Bosscha, merupakan salah satu teropong tertua di Indonesia. Observatorium Bosscha berlokasi di Lembang, Jawa Barat, sekitar 15 km di bidang utara Kota Bandung. 

Observatorium ini berbentuk bundar dan memiliki kubah yang bisa terbuka. Dahulu, Observatorium ini bernama Bosscha Sterrenwacht, dibangun oleh Nederlandsch-Indische Sterrenkundige Vereniging (NISV) atau Perhimpunan Astronomi Hindia Belanda.

Dalam rapat NISV yang memiliki cita-cita untuk mengembangkan dunia astronomi, Hindia Belanda mengambil keputusan untuk membuat sebuah Observatorium. Seorang tuan tanah dari Belanda yang memiliki ratusan hektar kebun teh di kaki Gunung Malabar, Karel Albert Rudolf Bosscha, bersedia menjadi pendonor dana utama untuk pembangunan teropong bintang ini. Sebagi tanda terima kasih atas jasanya, namanya pun disematkan menjadi nama observatorium.

Dilansir dari web resmi Observatorium Bosscha, pembangunan gedung ini memakan waktu hingga 5 tahun, dari 1923 sampai 1928. Lalu di publikasikan kepada dunia Internasional pada tahun 1933.

Lalu, Perang Dunia II berkecamuk, Hindia Belanda pun ikut terkena dampak perang tersebut. Terpaksa, kegiatan-kegiatan di observatorium dihentikan.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Terkini

Filosofi Arsitektur dan Sejarah Masjid Salman ITB

Kamis, 12 Agustus 2021 | 16:52 WIB

Kisah Huru-hara di Balik Berdirinya Pasar Baru

Rabu, 4 Agustus 2021 | 21:20 WIB

4 Tugu Sister City yang Ikonik di Kota Bandung

Rabu, 14 Juli 2021 | 18:30 WIB
X