Sejarah Paguyuban Pasudan, Wajah Sunda Boedi Oetomo

- Jumat, 23 Juli 2021 | 19:40 WIB
Paguyuban Pasundan didirikan atas inisiatif para siswa Sunda STOVIA yang bertujuan menyejahterakan masyarakat Indonesia.
Paguyuban Pasundan didirikan atas inisiatif para siswa Sunda STOVIA yang bertujuan menyejahterakan masyarakat Indonesia.

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM – Pengalaman pahit sebagai bangsa terjajah mendorong munculnya kesadaran dan harga diri yang kemudian, melahirkan gejolak perjuangan untuk merebut kemerdekaan. Gejolak tersebut asalnya bersifat kedaerahan, yang ditandai dengan berdirinya Boedi Oetomo.

Kelahiran organisasi pemuda Boedi Oetomo (BO) pada 20 Mei 1908, dimotori oleh kebanyakan kaum ningrat Jawa seperti Soetomo, Wahidin, Soedirohoesodo, Radjiman Wedyodiningrat, Goenawan, serta Tjipto Mangoenkoesoemo. Namun, perhimpunan ini cukup menarik perhatian banyak kalangan, termasuk generasi muda asal Sunda.

Pada buku Merumuskan Kembali Kebangsaan Indonesia keluaran tahun 2002, lambat-laun orang-orang Sunda yang tergabung di BO risau. Perhimpunan yang dipelopori para pelajar Sekolah Dokter Pribumi (STOVIA) di Batavia, hanya dianggap memperjuangkan kepentingan orang Jawa bagian tengah dan timur.

Sebab itu, membikin satu per satu orang-orang Sunda menyatakan keluar dari BO. Lalu tiba terpecik gagasan untuk menyempal, membentuk organisasi serupa tapi bersifat dari dan untuk orang Sunda. Tepat 108 tahun lalu, pada 20 Juli 1913 Pagoejoeban Pasoendan (Paguyuban Pasundan) resmi dibentuk.

Paguyuban Pasundan didirikan atas inisiatif para siswa Sunda STOVIA yang bertujuan menyejahterakan masyarakat Indonesia dan atas dasar solidaritas etinis Sunda, khusunya yang berada di Jawa Barat.

Meskipun dimobilisasi orang-orang Sunda, pemimpin pertama Paguyuban Pasundan justru bukan orang Jawa Barat tulen, ia bernama Daeng Kanduruan Ardiwinata. Dari namanya mengalir darah etnis Bugis di Sulawesi Selatan.

Kendati demikian, Ardiwinata tidak sepenuhnya non-Sunda, ibundanya merupakan perempuan asli Sunda. Ia pun lahir di Bandung pada 1866 juga sudah dianggap sebagai sesepuh masyarakat Sunda pada abad ke-20.

Kala guncangan di internal BO semakin mencuat, sejumlah anggota BO yang berasal dari tatar Sunda menemui Ardiwinata di kediamanya di Gang Paseban, Salemba. Mereka berdiskusi sejenak dan menyepakati dibentuknya sebuah organisasi bernama Paguyuban Pasundan pada 18 Juli 1913.

Dua hari kemudian, tepat 20 Juli 1913, Paguyuban Pasundan didirikan secara resmi. Ardiwinata, seorang sastrawan yang saat itu bekerja sebagai pendidik dan menjabat redaktur kepala, dipercaya sebagai ketuanya.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Terkini

Filosofi Arsitektur dan Sejarah Masjid Salman ITB

Kamis, 12 Agustus 2021 | 16:52 WIB

Kisah Huru-hara di Balik Berdirinya Pasar Baru

Rabu, 4 Agustus 2021 | 21:20 WIB

4 Tugu Sister City yang Ikonik di Kota Bandung

Rabu, 14 Juli 2021 | 18:30 WIB
X