Nostalgia: Perubahan Jalan Braga dari Masa ke Masa

- Kamis, 20 Mei 2021 | 19:05 WIB
Ke arah utara Jalan Braga, Tahun 1908.
Ke arah utara Jalan Braga, Tahun 1908.

SUMUR BANDUNG, AYOBANDUNG.COM — Jalan Braga memang tidak terlalu panjang secara fisik. Tetapi, ditilik dari kandungan sejarahnya, jalan terkenal di Kota Bandung ini punya deskripsi yang sama sekali tidak pendek.

Sejak era kolonial Belanda, Jalan Braga sudah jadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Bandung. Ini pernah menjadi jalur lalu lintas warga dalam mengangkut berbagai hasil bumi, sampai kemudian pada masa modern jadi destinasi wisata.

-
Jalan Braga, tahun 1920-an. (Wikimedia Commons (CC))

Banyak bangunan bersejarah di kiri-kanan Jalan Braga yang lebih dikenal sebagai "Herritage Kota Bandung", dengan konsep arsitektur bergaya Eropa saat itu.

Dahulu, Jalan Braga kesohor sunyi karena tidak luas; dan sempat disebut sebagai "Jalan Culik" dan "Jalan Pedati". Tetapi sejak datangnya para pebisnis dari Belanda, barulah kawasan ini berubah menjadi ramai.

-
Jalan Braga antara tahun 1935 sampai 1938. (Wikimedia Commons (CC))

Toko dan Bar dibangun di Kawasan Braga, serta berdirinya butik yang berkiblat pada fesyen di Paris, sehingga Kota Bandung dijuluki Paris van Java pada tahun 1920-an.

Saking terkenalnya kawasan ini, banyak turis dan bangsawan yang berdatangan untuk menikmati Braga saat itu. Untuk datang ke Gedung Societeit Concordia atau sekarang disebut Gedung Merdeka; dan Hotel Savoy Homann menjadi tempat berkumpul mereka.

Nama Jalan Braga Berubah-ubah

-
Jalan Braga tahun 1938. (Wikimedia Commons (CC))

Sebelum menjadi jalan yang kiri-kanannya dihuni oleh toko dan kafe, pada 1800-an, jalan tersebut masih merupakan jalan setapak yang menyusuri tepi aliran sungai hingga ke hulu Sungai Cikapundung.

Berdasarkan keterangan penulis Sudarsono Katam, dalam Nostalgia Bragaweg Tempo Doeloe 1930-1950, jalan yang masih berupa jalan setapak tersebut biasa dilalui orang-orang dengan kendaraan angkut berupa kuda.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Terkini

13 Buku Karya Mohamad Koerdie Alias Sjarif Amin

Jumat, 19 November 2021 | 14:47 WIB

Nenek Moyang PT KAI, Perusahaan Kereta Api SS di Bandung

Kamis, 30 September 2021 | 09:30 WIB

Filosofi Arsitektur dan Sejarah Masjid Salman ITB

Kamis, 12 Agustus 2021 | 16:52 WIB

Kisah Huru-hara di Balik Berdirinya Pasar Baru

Rabu, 4 Agustus 2021 | 21:20 WIB
X