Mengungkap Kronologi Lengkap Bandung Lautan Api: 23-24 Maret 1946

- Rabu, 24 Maret 2021 | 11:02 WIB
Monumen Bandung Lautan Api di Jalan BKR, Ciateul, Kec. Regol, Kota Bandung, Jawa Barat.
Monumen Bandung Lautan Api di Jalan BKR, Ciateul, Kec. Regol, Kota Bandung, Jawa Barat.

Pada saat rapat, diputuskan rencana 24 Maret 1946 pukul 00.00 akan ada ledakan pertama dengan granat di Gedung Kantor BRI, lokasinya ada di pojokan sebelah Selatan dari alun-alun sebelah Gedung Pendopo Wali Kota, dahulu bernama Indische Restoran. Lalu kantor-kantor di Bandung Selatan itu akan dihancurkan/dibakar. Jadi, TNI sudah diberi bekal granat dan bom molotov. 

Namun, rencana akan ada ledakan pukul 00.00, ternyata pukul 20.00 WIB (23 Maret 1946) itu sudah ada ledakan di Indische Restoran, dan belum ada yang tahu siapa yang meledakkannya. Dan gara-gara ada ledakan pukul 20.00, maka rencana pukul 00.00 tanggal 24 batal dan rencana dimajukan. Semua tentara maju membakar gedung-gedung. Gedung-gedung yang dibakar di sekitar alun-alun adalah Kantor Pos yang digranat dan diberi molotov.

Yang menarik dari pembakaran Kantor Pos, dahulu belum ada korek api, jadi mereka menggunakan batang kayu yang ujungnya dikasih lumlum (getah pohon). Pun dengan belerang yang digesek dengan besi, lalu api yang muncul dikenakan ke lumlum tadi sehingga kayu yang terbakar dimasukkan ke botol berisi bensinnya.

Kemudian sebelah timur alun-alun (sekarang mal), juga dibakar karena dulu merupakan bioskop. Jadi, ada beberapa gedung yang hancur hanya dari kaca dan kusen, karena betonnya kokoh jadi tidak terbakar habis, tetapi Bandung tetap membara, api tetap ada.

Lalu pembakaran juga meliputi markas-markas tentara, rumah-rumah yang dibangun dari kayu. Masyarakat ikut andil dalam pembakaran. Sementara Gedung-gedung startegis yang menjadi target pembakaran memang menjadi tugas dari TNI, masyarakat fokus ikut membakar rumah-rumah dan markas-markas kecil.

Sebetulnya, masyarakat sipil ini sudah mengungsi dari siang hari pada 23 Maret 1946, sudah ada yang mengungsi dan tentara-tentara masih ada di dalam kota.

Ada cerita dari tentara pelajar bernama Dakarnas, ketika diwawancarai oleh Tim Paguyuban Pelestarian Kebudayaan Bandung, pada 5 Juni 1997:

Saya mendapat perintah pembakaran jam 22.00 (23 Maret 1946) teman-teman saya masih memasang dinamit dan mempersiapkan pembakaran. Sejak pukul 15.00 sampai 20.00 masih persiapan dan pemasangan, karena masih ada yang belum selesai, tapi tiba-tiba ada ledakan pada 20.00, para pejuang lebih memerhatikan aba-aba ledakan pertama ketimbang memerhatikan jam, maka mulailah pembakaran dan ledakan, tetapi banyak ledakan yang gagal karena belum selesai dipasang dan alat-alatnya macet, dan sebenarnya kami kecewa banyak gedung-gedung vital yang tidak meledak.

Sampai keesokan harinya, 24 Maret 1946 pukul 02.00 WIB, Kolonel Nasution bercerita sudah sampai di daerah bukit-bukit tinggi di Bandung Selatan. Ia melihat ke arah Bandung. Kota itu dipenuhi oleh merah api menyala.

"Perintah mundur dari kota Bandung dilaksanakan pas Magrib, waktu itu saya sedang memindahkan pemancar radio dari Rancaekek ke Ciparay, terus ke Majalaya, Garut, dan Tasikmalaya, menggunakan truk rampasan dari burka, saya tidak melihat suasana kota pada saat itu, tapi terlihat dari Majalaya langit di Bandung tampak merah sekitar pukul 00.00 sampai shubuh [24 Maret 1946]," ujar Mashudi, mantan Wakil Gubernur Jawa Barat, kepada Paguyuban Pelestarian Kebudayaan Bandung, pada 24 Januari 1997. [*]

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Terkini

Nenek Moyang PT KAI, Perusahaan Kereta Api SS di Bandung

Kamis, 30 September 2021 | 09:30 WIB

Filosofi Arsitektur dan Sejarah Masjid Salman ITB

Kamis, 12 Agustus 2021 | 16:52 WIB

Kisah Huru-hara di Balik Berdirinya Pasar Baru

Rabu, 4 Agustus 2021 | 21:20 WIB
X