Mengungkap Kronologi Lengkap Bandung Lautan Api: 23-24 Maret 1946

- Rabu, 24 Maret 2021 | 11:02 WIB
Monumen Bandung Lautan Api di Jalan BKR, Ciateul, Kec. Regol, Kota Bandung, Jawa Barat.
Monumen Bandung Lautan Api di Jalan BKR, Ciateul, Kec. Regol, Kota Bandung, Jawa Barat.

"Pada 17 Maret 1946 Panglima Tertinggi AFNEI di Jakarta, Letnan Jendral Sir Philip Christison memberikan ultimatum kepada Perdana Menteri Sutan Sjahrir, supaya memerintahkan pasukan bersenjata RI meninggalkan Bandung Selatan sampai radius 11 km dari pusat kota, hanya pemerintah sipil, polisi, dan penduduk sipil, yang diperbolehkan tinggal," jelas Ratna.

Batas ultimatum kedua ada pada 24 Maret 1946 pukul 24.00 WIB. Apabila ultimatum tidak dilaksanakan, maka Inggris akan memborbardir Bandung Selatan, ini dianggapnya sebagai gertakan karena Belanda juga tidak mau kota kesayangannya usak. Kemudian PM Sutan Sjahrir menerima tuntutan itu

Pertimbangan Sutan Sjahrir pada saat itu adalah karena sebuah negara yang baru dibangun Tentara merupakan modal berharga untuk pemerintahan. Akan beda cerita ketika dipaksakan untuk perang, maka Tentara Indonesia akan habis saat perang.

Inilah yang dimaksud dengan adanya dua kerangka berpikir. Bagi tentara yang merupakan lulusan sekolah tentara, mereka berpikir bahwa mereka mau berdiplomasi, mau bertarik ulur dengan ultimatum Inggris, sementara tentara dari lulusan "mantan PETA" mereka lebih mendahulukan keberanian untuk tidak takut kalah.

Jadi, ada dua kubu di dalam TNI. Dan ketika Ahmad Nasution diwawancarai, beliau mengatakan, beliau harus mempertimbangkan kedua belah pihak ini yang mana yang bisa menguntungkan.

Lalu dilakukanlah rapat-rapat pada 23 Maret 1946 di Bandung. Pengumuman tidak hanya dari tentara, tetapi juga dari Wali Kota Bandung saat itu, R. Syamsoerizal yang isinya sama seperti ultimatum kedua Inggris.

Namun pada kenyataannya, dengan adanya semangat yang menggelora dan beredarnya isu-isu sensitif pada masa itu, siapa yang tidak menginggalkan Bandung akan disebut sebagai pronika (tentara Belanda yang masih di Indonesia yang kembali merebut Indonesia) dan bagi yang mengungsi itu pro Indonesia. Pronika ini risikonya adalah nyawa, bisa dibunuh, disingkirkan, dicap sebagai pengkhianat.

TNI ini didukung oleh laskar-laskar sipil yang bukan TNI resmi, tetapi membawa senjata meski hanya bambu runcing. Padahal saat yang sama, Wali Kota Samsoerizal sudah memberi tahu kepada para laskar sipil untuk tidak mengungsi. Dalam rapat-rapat yang dipimpin oleh Kolonel Ahmad Nasution dan laskar-laskar sipil dan beberapa batalion memberikan usulan untuk membakar Bandung, telah disepakati untuk tidak memberikan Bandung secara mentah-mentah.

Di sisi lain, Kolonel Nasution mendinginkan suasana dan kembali kepada jalur untuk taat kepada perintah pemerintah sipil. Kata-kata mentaati pemerintah sipil itu adalah pertanda atau simbol bahwa Negara Republik itu terbentuk. NKRI itu dipimpin oleh pemerintah sipil yang memiliki struktur ketentaraan sebagai pendukung tentara. Artinya, siapa pun yang ada di bawah pemerintahan sipil harus mentaati pemerintahan sipil tersebut.

Kronologi pembakaran dua hari Bandung Lautan Api

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Terkini

Nenek Moyang PT KAI, Perusahaan Kereta Api SS di Bandung

Kamis, 30 September 2021 | 09:30 WIB

Filosofi Arsitektur dan Sejarah Masjid Salman ITB

Kamis, 12 Agustus 2021 | 16:52 WIB

Kisah Huru-hara di Balik Berdirinya Pasar Baru

Rabu, 4 Agustus 2021 | 21:20 WIB
X