Mengungkap Kronologi Lengkap Bandung Lautan Api: 23-24 Maret 1946

- Rabu, 24 Maret 2021 | 11:02 WIB
Monumen Bandung Lautan Api di Jalan BKR, Ciateul, Kec. Regol, Kota Bandung, Jawa Barat.
Monumen Bandung Lautan Api di Jalan BKR, Ciateul, Kec. Regol, Kota Bandung, Jawa Barat.

Dalam Tentara Indonesia sendiri masih banyak perbedaan-perbedaan struktural dalam hal pemikiran serta mental. Perbedaan inilah yang akan berpengaruh pada saat Bandung Lautan Api terjadi dan mengapa Bandung bisa dibakar.

Penulis buku Saya Pilih Mengungsi dari Paguyuban Pelestarian Budaya Bandung, Ratnayu Sitaresmi, menjelaskan, setelah Indonesia proklamasi, Inggris datang. Kedatangan Inggris bukanlah sebagai pahlawan kesiangan dalam menengahi perseteruan antara Belanda dan Inggris, melainkan menambah keruh suasana di Kota Bandung.

Belanda dan Inggris akhirnya bersekutu dengan membentuk organisasi yang bernama ABDA. ABDA ini terdiri dari Amerika, British, Dutch, dan Australia.

"Maksud dari kerja sama antara Belanda dan Inggris adalah untuk melucuti tentara-tentara Jepang, tetapi Belanda enggan melepaskan Indonesia, dan salah satunya adalah ingin kembali merebut Bandung," kata Ratna, lulusan S2 Antropologi Universitas Indonesia ini kepada Ayobandung.com pada Senin (22/3/2021).

Tentara Indonesia yang menjaga di wilayah Bandung membuat onar di Bandung, kota yang sangat dipelihara oleh Pemerintah Belanda. Atas keonaran inilah maka Inggris mengeluarkan ultimatum pertama kepada tentara Indonesia, terutama di bagian Bandung Utara, untuk mundur ke Selatan dengan batasnya adalah rel kereta api.

Alhasil, dari ultimatum itu Bandung terbagi menjadi dua bagian, yaitu Utara dan Selatan. Kala itu, seluruh Tentara Indonesia dan para pendukungnya berkumpul di Selatan.

Namun, strategi ini pada kenyataannya adalah blunder tersendiri bagi Inggris dan Belanda.

"Tadinya strategi ini diharapkan dapat menyelamatkan Bandung, bisa mengurung Tentara Indonesia, tapi pada kenyataannya strategi itu malah melemahkan tentara Inggris dan Belanda di Utara, karena pasokan bahan-bahan pokok dari masyarakat yang biasa menjadi sumber mereka itu berkurang drastis, jadi mereka kehilangan pasokan, jadinya mereka mengirim pasokan dari Jakarta, bukan dari Bandung langsung," ujar Ratna.

Selain itu, pihak Tentara Indonesia juga belum menyerah dalam merebut kembali Bandung, sehingga serangan-serangan ke Utara pun terjadi. Atas kejadian ini, lahirlah ultimatum yang kedua dari Inggris.

Terdapat perbedaan antara ultimatum pertama dan kedua. Ultimatum pertama Inggris langsung berbicara dengan komandan yang ada di Bandung, tetapi pada saat ultimatum kedua, Inggris melalui Allied Forces Netherland East Indies (AFNEI) mengatakannya langsung kepada Perdana Menteri (PM) Sutan Sjahrir.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Terkini

13 Buku Karya Mohamad Koerdie Alias Sjarif Amin

Jumat, 19 November 2021 | 14:47 WIB

Nenek Moyang PT KAI, Perusahaan Kereta Api SS di Bandung

Kamis, 30 September 2021 | 09:30 WIB

Filosofi Arsitektur dan Sejarah Masjid Salman ITB

Kamis, 12 Agustus 2021 | 16:52 WIB

Kisah Huru-hara di Balik Berdirinya Pasar Baru

Rabu, 4 Agustus 2021 | 21:20 WIB
X