Mengungkap Kronologi Lengkap Bandung Lautan Api: 23-24 Maret 1946

- Rabu, 24 Maret 2021 | 11:02 WIB
Monumen Bandung Lautan Api di Jalan BKR, Ciateul, Kec. Regol, Kota Bandung, Jawa Barat.
Monumen Bandung Lautan Api di Jalan BKR, Ciateul, Kec. Regol, Kota Bandung, Jawa Barat.

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM — Bandung termasuk salah satu kota yang memiliki sejarah tersendiri dalam era penjajahan Belanda hingga Jepang, sampai kemudian Indonesia merebut kemerdekaan dan memproklamasikannya.

Peristiwa yang akan selalu tercatat dalam sejarah Bandung pastilah peledakkan atau pembungihangusan Kota Bandung. Peristiwa ini lebih dikenal dengan sebutan Bandung Lautan Api.

Dahulu ketika masih penjajahan oleh Hindia-Belanda, Kota Bandung merupakan kota yang dipilih pemerintah Hindia-Belanda untuk dijadikan Ibukota Hindia-Belanda, sebab Bandung adalah wilayah srategis di Indonesia terutama di Pulau Jawa.

Dibangunnya beberapa gedung penting di Bandung, seperti Gedung Sate, yang akan dipakai sebagai kantor Gubernur Jenderal, Kantor Pos, pabrik senjata, dan kantor pertambangan juga dipindahkan ke Bandung. Serta kekuatan tentara di Indonesia, terutama di Jakarta dan Surabaya, pun dipindahkan ke Bandung, salah satunya Pangkal Angkatan Laut (Lanal Bandung), menjadi penegasan bukti nyata keseriusan Pemerintah Hindia-Belanda demi mewujudkan Kota Bandung sebagai ibu kota.

Namun, pemerintah Hinda-Belanda memilih menyerah dalam mempertahankan Bandung ketika Jepang telah menguasai Bandara Kalijati dan akan membom Bandung.

Kronologi 2 ultimatum sebelum Bandung Lautan Api

Indonesia pun memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945. Dalam kemerdekaan ini, Indonesia mendirikan Tentara Indonesia. Terbentuknya tentara Indonesia ini terbagi dari dua sumber daya manusia. Sumber pertama dari mantan Tentara Kerajaan Hindia Belanda atau Koninklijk Nederlandsch-Indische Leger (KNIL) dan sumber kedua yakni mantan Pembela Tanah Air (PETA).

KNIL isinya sebagian besar oleh orang pribumi Indoensia sebagai prajurit rendahan, twtapi ada pula yang menjadi perwira meski jumlahnya tak seberapa dibandingkan tentara Belanda.

Salah satu tokoh mantan KNIL yang menjadi bagian tentara Indonesia kala itu Kolonel Jenderal Ahmad Haris Nasution, dan Mayjen Didi Kartasasmita. Kolonel Jenderal Ahmad Nasution adalah lulusan dari sekolah tentara tinggi di Bandung, sedangkan Mayjen Didi dulunya merupakan senior Sultan Hamid II di Akademi Militer Kerajasn Belanda (KMA) Breda.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Terkini

Nenek Moyang PT KAI, Perusahaan Kereta Api SS di Bandung

Kamis, 30 September 2021 | 09:30 WIB

Filosofi Arsitektur dan Sejarah Masjid Salman ITB

Kamis, 12 Agustus 2021 | 16:52 WIB

Kisah Huru-hara di Balik Berdirinya Pasar Baru

Rabu, 4 Agustus 2021 | 21:20 WIB
X