Bandung Lautan Api, dari Peran Tokoh dan Kacamata Saksi

- Rabu, 17 Maret 2021 | 15:30 WIB
Monumen Bandung Lautan Api di Jalan BKR, Ciateul, Kec. Regol, Kota Bandung, Jawa Barat.
Monumen Bandung Lautan Api di Jalan BKR, Ciateul, Kec. Regol, Kota Bandung, Jawa Barat.

Menurut Lily, rumah warga di Bandung kala itu belum seperti sekarang. Saat itu rumah di Bandung masih banyak yang terbuat dari kayu dan bambu sehingga mudah dibakar.

Dengan perbekalan yang sangat minim, para pejuang yang dipimpin Letnan Kolonel Omen Abdurahman berangkat menuju wilayah pinggiran kota Bandung. Beberapa bulan setelah kejadian tersebut, Lily dan kolega kembali ke Bandung. Mereka mendapati kampung halamannya yang sudah habis tak bersisa. Saat mereka kembali, Bandung sudah dihuni oleh orang-orang Tiongkok yang lebih dulu pulang dari pengungsian.

Peristiwa Bandung Lautan Api terjadi pada 24 Maret 1946. Berdasarkan arsip Daftar Cuplikan Sejarah Penting Dalam Periode Perjuangan Merebut dan Membela Kemerdekaan Indonesia yang ditulis langsung oleh Lily, peristiwa Bandung Lautan Api dilatarbelakangi oleh pihak Sekutu yang dibutakan amarah dan rasa dendam karena berulang kali menderita kekalahan telak pada pertempuran di Bandung dan Sukabumi.

Pertempuran pertama terjadi pada 9 Desember 1945. Saat itu konvoi truk tentara Sekutu yang membawa peralatan logistik dari Jakarta menuju Sukabumi diserang secara membabi buta oleh pihak Tentara Keamanan Rakyat (TKR).

Resimen TKR Sukabumi yang dipimpin Kolonel Eddie Sukardi mengerahkan empat batalion di bawah pimpinan Mayor Yahya Baheam, Mayor Harry Sukardi, Mayor Yunus, dan Mayor Abdurahman. Mereka ditugaskan untuk berjaga di jalan raya sepanjang 81 kilometer di Kota Sukabumi.

Kemudian mereka menyiapkan berbagai perangkap dan ranjau darat di daerah Bojongkokosan sebagai wilayah killing ground. Sesampainya di sana, rencana pun berhasil. Tank Shermon milik Inggris terjerembab jatuh ke dalam perangkap. Konvoi sekutu pun dihujani ribuan bom molotov dan granat. Sekutu pun mundur ke Cimahi dengan babak belur. Tercatat tiga tentara Inggris dan 24 pasukan Gurkha tewas dan lebih dari 80 tentara sekutu menderita luka berat.

Kekalahan sekutu yang kedua terjadi pada 10 Maret 1946. Tak jera dengan kekalahan pertama, konvoi besar-besaran lagi-lagi dilakukan pihak Sekutu. Mereka berencana membawa peralatan logistik dari Jakarta menuju Bandung, melalui Bogor dan Sukabumi. Sekutu kembali menerima hujan granat dan molotov ketika sampai di Sukabumi. Tercatat delapan orang tewas dan 25 orang luka berat pada pertempuran yang berlangsung dari malam hingga fajar tersebut.

Pada tanggal 11 Maret 1946, pihak Sekutu berencana memindahkan basis militernya dari Jakarta ke Bandung. Konvoi terpanjang dari gabungan terbesar tentara Sekutu pun dihadang di perjalanan. Pertempuran pun bergolak selama lima hari. Pada 15 Maret 1946, Sekutu datang ke Bandung dengan babak belur. Tercatat sekitar 115 tentara sekutu luka parah, 20 di antaranya tewas.

Didasari pada kerugian perang tersebutlah, Inggris memberikan ultimatum melalui pesawat perang untuk mengosongkan kota Bandung selambat-lambatnya tengah malam 24 Maret 1946. Hal tersebut juga didasari oleh rencana Sekutu yang ingin menjadikan Bandung sebagai basis militer yang baru.

Menanggapi ultimatum tersebut, Perdana Menteri Sutan Syahrir mewakili pemerintah pusat memerintahkan TKR untuk menuruti perintah Sekutu, dengan alasan militer Sekutu lebih kuat dibanding TKR.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Terkini

Bioskop Tertua di Bandung Dahulu Bernama Radio City

Rabu, 19 Januari 2022 | 11:44 WIB

VIDEO 5 Sekolah Horor di Bandung

Selasa, 11 Januari 2022 | 20:24 WIB

5 Sekolah Horor di Bandung, Mana yang Paling Seram?

Kamis, 6 Januari 2022 | 19:19 WIB

Balapan Becak di Bandung Tahun 1971

Rabu, 5 Januari 2022 | 12:35 WIB

Sisa Sejarah Manusia Purba di Goa Pawon

Kamis, 30 Desember 2021 | 15:53 WIB

Sejarah Museum Pos Indonesia di Kota Bandung

Rabu, 29 Desember 2021 | 17:54 WIB

Sejarah Masjid Salman ITB

Selasa, 28 Desember 2021 | 16:23 WIB

Sungai Cikapundung di Mata Orang-orang Sezaman

Rabu, 22 Desember 2021 | 11:12 WIB

Misteri Pembunuhan di Rumah Asep Berlian

Rabu, 22 Desember 2021 | 10:19 WIB

13 Buku Karya Mohamad Koerdie Alias Sjarif Amin

Jumat, 19 November 2021 | 14:47 WIB
X