Bandung Lautan Api, dari Peran Tokoh dan Kacamata Saksi

- Rabu, 17 Maret 2021 | 15:30 WIB
Monumen Bandung Lautan Api di Jalan BKR, Ciateul, Kec. Regol, Kota Bandung, Jawa Barat.
Monumen Bandung Lautan Api di Jalan BKR, Ciateul, Kec. Regol, Kota Bandung, Jawa Barat.

Pendapat Sudirman tersebut telah menguatkan asumsi bahwa peristiwa perebutan kembali Kota Bandung dari sekutu merupakan peristiwa yang berdampak nasional. Maka, menurut Nina, peristiwa ini sudah layak dijadikan sebagai sejarah nasional.

“Ini sebetulnya sejarah nasional kalau melihat dampaknya, peristiwanya memang terjadi di Bandung tapi dampaknya itu nasional,” ungkapnya.

Sebetulnya ada dua Mohammad

Wali Kota Bandung, Oded M. Danial, pernah mengatakan peristiwa Bandung Lautan Api senantiasa memberi arti yang luar biasa atas sejarah dan keberanian dua orang bernama Mohamad. 

"Satu  Mohamad Toha, satu Mohamad  Ramdan. Merek luar biasa mampu mengajak para pemuda yang lain, komponen yang lain untuk melaksanakan sebuah peristiwa heroik kurang lebih 1.100 ton mesiu oleh mereka dibakar, dibumihanguskan," papar Oded.

Dua Mohamad itu mempunyai jiwa patriotisme, karena saat itu  diduga bahwa penjajah ingin mengambil atau menduduki kembali Bandung. Toha dan Ramdan tidak suka mereka dan tidak rela memberikan kota ini kepada penjajah. Oleh karena itu,  terjadilah  peristiwa heroik luar biasa, beberapa bulan setelah Bandung Lautan Api.

Sejarah yang ditangisi

Kolonel Purn. Lily Sumantri masih berusia 20 tahun saat ditunjuk sebagai Komandan Pleton Siliwangi. Meski kini sudah memasuki usia senja, masih jelas di ingatan Lily bagaimana isak tangis warga Bandung saat harus merelakan harta bendanya dibakar. Menurut Lily, peristiwa Bandung Lautan Api merupakan kisah tragis menyedihkan yang terus membekas di benaknya.

“Banyak orang merasa bahwa Bandung Lautan Api merupakan peristiwa heroik yang patut dibanggakan. Padahal, kami (warga Bandung) merasa bahwa peristiwa tersebut adalah peristiwa yang menyedihkan dan meresahkan,” katanya saat ditemui di kediamannya di Jalan Progo, Bandung, Jawa Barat.

“Kami harus kehilangan tempat tinggal, aset, dan segala kekayaan. Saya pun termasuk salah satu yang membakar rumah saya,” kenang  pria berusia 93 tahun tersebut.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Terkini

Sastra Sunda: GRACE DI KAFE SIMPE

Sabtu, 22 Januari 2022 | 05:05 WIB

Bioskop Tertua di Bandung Dahulu Bernama Radio City

Rabu, 19 Januari 2022 | 11:44 WIB

VIDEO 5 Sekolah Horor di Bandung

Selasa, 11 Januari 2022 | 20:24 WIB

5 Sekolah Horor di Bandung, Mana yang Paling Seram?

Kamis, 6 Januari 2022 | 19:19 WIB

Balapan Becak di Bandung Tahun 1971

Rabu, 5 Januari 2022 | 12:35 WIB

Sisa Sejarah Manusia Purba di Goa Pawon

Kamis, 30 Desember 2021 | 15:53 WIB

Sejarah Museum Pos Indonesia di Kota Bandung

Rabu, 29 Desember 2021 | 17:54 WIB

Sejarah Masjid Salman ITB

Selasa, 28 Desember 2021 | 16:23 WIB

Sungai Cikapundung di Mata Orang-orang Sezaman

Rabu, 22 Desember 2021 | 11:12 WIB

Misteri Pembunuhan di Rumah Asep Berlian

Rabu, 22 Desember 2021 | 10:19 WIB

13 Buku Karya Mohamad Koerdie Alias Sjarif Amin

Jumat, 19 November 2021 | 14:47 WIB
X