Bandung Lautan Api, dari Peran Tokoh dan Kacamata Saksi

- Rabu, 17 Maret 2021 | 15:30 WIB
Monumen Bandung Lautan Api di Jalan BKR, Ciateul, Kec. Regol, Kota Bandung, Jawa Barat.
Monumen Bandung Lautan Api di Jalan BKR, Ciateul, Kec. Regol, Kota Bandung, Jawa Barat.

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM — Peristiwa Bandung Lautan Api masyhur lantaran tergolong momen kolosal. Saat itu, 24 Maret 1946, jelang tengah malam, ratusan ribu rumah di Bandung sengaja dibumihanguskan. Rakyat dan tentara berbondong-bondong melakukan operasi sukarela. 

Sebuah pengorbanan bersama. Gaung peristiwa ini terdengar lantang dan masih terus didongengkan hingga saat ini.

Dalam buku Sejarah Bandung (2016), Sejarawan Universitas Padjadjaran Prof. Nina Lubis menulis pembumihangusan itu sebagai strategi agar Bandung gagal menjadi markas strategis militer bagi pasukan Sekutu dan Belanda, yang kembali mengokupasi Indonesia pascakemerdekaan.

Sementara itu, perintah pengosongan wilayah juga merupakan perintah langsung dari Perdana Menteri Sutan Sjahrir. Hal tersebut bagian dari upaya diplomasinya dengan sekutu, demi keselamatan republik.

"Peristiwa ini seolah-olah orang Bandung menyerah kepada sekutu (Inggris) yang juga ada Belanda. Tapi sebetulnya ini taktik saja, karena pemerintah pusat melalui PM Sjahrir sedang melakukan diplomasi dengan NICA dan sekutu,” kata Nina, dikutip dari laman resmi Humas Bandung.

Perjuangan untuk mempertahankan Bandung dari gempuran juga diwarnai pertempuran, yang melibatkan tentara Indonesia melawan tentara sekutu. Upaya untuk mempertahankan Bandung ini tak cuma berlangsung sehari. Sekitar tiga setengah bulan setelah Bandung Lautan Api, terjadi peristiwa dahsyat yang tak kalah mencengangkan lainnya, yakni peledakan gudang mesiu milik sekutu oleh Mohammad Toha.

Peran Toha dalam perjuangan mempertahankan Bandung ini tidak bisa dikecilkan. Pada tanggal 11 Juli 1946, Toha membakar gudang yang berisi 1.100 ton mesiu dan senjata sehingga menimbulkan ledakan dahsyat. Saking kerasnya dentuman, konon, suara ledakan itu terdengar sampai ke Cianjur.

“Penyerangan ini dampaknya nasional karena gudang amunisi itu gudang perbekalan untuk NICA se-Priangan. Jadi dengan hancurnya itu tentu pasukan NICA itu bingung juga amunisinya hancur. Itu yang saya bilang dampak nasional. Memang yang mati di pihak Belanda tidak ada, hanya luka-luka, tapi dampak perjuanganya itu nasional,” lanjut Nina.

Dalam buku yang sama, Nina juga menulis ihwal Panglima Besar Soedirman telah menginstruksikan Panglima Divisi Siliwangi, Kolonel A.H. Nasution, untuk melancarkan “Serangan Umum” pada awal Juli 1946. Perintah tersebut dikeluarkan karena Soedirman menganggap pertahanan militer Jawa Barat bukanlah pertahanan lokal, melainkan pertahanan berskala nasional.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Terkini

13 Buku Karya Mohamad Koerdie Alias Sjarif Amin

Jumat, 19 November 2021 | 14:47 WIB

Nenek Moyang PT KAI, Perusahaan Kereta Api SS di Bandung

Kamis, 30 September 2021 | 09:30 WIB

Filosofi Arsitektur dan Sejarah Masjid Salman ITB

Kamis, 12 Agustus 2021 | 16:52 WIB

Kisah Huru-hara di Balik Berdirinya Pasar Baru

Rabu, 4 Agustus 2021 | 21:20 WIB
X