Bandung Baheula: Kampung Kreatif Lokomotif Cicukang dan Kisah Lamanya

- Kamis, 13 Juni 2019 | 07:05 WIB
Monumen Lokomotif Kampung Kreatif Cicukang yang berada di Jalan Ciroyom, Kecamatan Andir, Kota Bandung. (Dok. Ulfah Dalilah)
Monumen Lokomotif Kampung Kreatif Cicukang yang berada di Jalan Ciroyom, Kecamatan Andir, Kota Bandung. (Dok. Ulfah Dalilah)

CICENDO, AYOBANDUNG.COM -- Bandung yang dikenal sebagai kota kreatif memiliki berbagai kampung yang unik, salah satunya Kampung Kreatif Lokomotif Cicukang. Kampung ini terletak di Jalan Ciroyom, Kecamatan Andir, Kota Bandung. 

Kampung Kreatif Lokomotif Cicukang merupakan kampung yang digagas oleh Rahmat Jabaril  yang kini sudah menetap di Kampung Kreatif Dago Pojok. Seorang pelukis asal Bandung yang menggagas kampung ini pada 2010 itu memiliki tujuan menumbuhkan semangat warga kampung Cicukang untuk berkreatitivitas. 

Monumen Lokomotif terlihat berdiri gagah di kampung ini. Bukan tanpa makna, monumen tersebut menunjukkan bahwa aktivitas di kampung ini tidak terlepas dari kereta api karena letaknya yang dekat dengan rel kereta api.

AYO BACA : Bandung Baheula : Secuil Sejarah Jalan Asia Afrika dan Gedung Merdeka

Meski berada di pinggir rel kereta api dengan deretan rumah padat dan gang sempit, siapa sangka dahulu warga kampung ini ternyata memiliki beragam kreativitas unik. Salah satu aktivitas unik mereka adalah menggelar pertunjukan teater.

Pertunjukkan tersebut akan diiringi dengan alunan suara musik yang berasal dari alat dapur yang dimainkan secara meriah oleh ibu-ibu setempat. Semua pertunjukkan ini ditampilkan persis di samping rel kereta api.

Namun sejak sepeninggalan Rahmat, Kampung Cicukang  sudah tidak lagi aktif terhitung sejak 2013. Hal tersebut di ungkapkan oleh Agus Suherman, pemuda Kampung Cicukang saat ditemui Rabu (12/06/2019). 

AYO BACA : Bandung Baheula: Masjid Mungsolkanas, Masjid Tertua di Bandung

"Faktor utama dari tidak lagi aktif Kampung Cicukang karena dari awalnya sudah dilepas oleh penggagasnya, ketika dilepas warga belum sepenuhnya memahami ilmu tersebut sehingga kurangnya pembinaan. Faktor lainnya yaitu  kegiatan kepemudaan terkadang bertolak belakang dengan warga lain tentang keagamaan," ungkapnya.

Halaman:

Editor: Fira Nursyabani

Tags

Terkini

5 Jejak Sejarah Bung Karno di Kota Bandung

Senin, 6 Juni 2022 | 17:04 WIB

Esai Sunda: KAKAREN LEBARAN

Jumat, 6 Mei 2022 | 07:24 WIB

Sastra Sunda: NYAI MERTASINGA

Sabtu, 23 April 2022 | 14:08 WIB

Berziarah ke Makam Sembah Dalem Wirasuta Cimahi

Senin, 7 Maret 2022 | 19:24 WIB

Sejarah Jalan Braga di Kota Bandung

Jumat, 18 Februari 2022 | 13:57 WIB
X