Bandoeng Baheula: Meluruskan Sejarah Masjid Cipaganti (1)

- Rabu, 12 Desember 2018 | 09:11 WIB
Denah Masjid Cipaganti tahun 1932. Lahan masjid semula akan dijadikan jalan tembus untuk meniadakan masjid dari kawasan yang mulai banyak dihuni orang-orang Belanda itu (Sumber: Sipatahoenan, 29 Oktober 1932).
Denah Masjid Cipaganti tahun 1932. Lahan masjid semula akan dijadikan jalan tembus untuk meniadakan masjid dari kawasan yang mulai banyak dihuni orang-orang Belanda itu (Sumber: Sipatahoenan, 29 Oktober 1932).

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM–Sebetulnya sudah banyak orang yang menulis tentang sejarah Masjid Cipaganti di Bandung, juga arsitekturnya. Sayangnya, mungkin karena keterbatasan sumber, informasinya jadi kurang lengkap. Oleh karena itulah tulisan ini dibuat.

Disebutkan misalnya pembangunan Masjid Cipaganti dimulai pada 7 Februari 1933 dan berdiri setahun kemudian pada 27 Januari 1934. Tanahnya merupakan tanah wakaf dari Nyi Oerki, gadis pribumi yang dinikahi pengusaha Italia, Pietro Antonio Ursone. Nyi Oerki beragama Islam sedangkan Antonio Ursone Katolik.

Tak ada yang menjelaskan bahwa bangunan masjid tahun 1933 itu sebetulnya bangunan baru mengingat bangunan sebelumnya dirobohkan Gemeenteraad sekitar enam tahun sebelumnya.

Informasi tentang sejarah Masjid Cipaganti sebetulnya pernah ditulis dalam koran Sipatahoenan No. 249 yang terbit tanggal 29 Oktober 1932. Ketika itu Sipatahoenan menerbitkan laporan khusus mengenai Masjid Cipaganti yang diberi judul besar “Speciaal Masdjid Tjipaganti-nummer”.

Masjid Cipaganti Sudah Berdiri Sejak Tahun 1830-an, Bukan 1933

Dalam tulisan yang berasal dari investigasi pengurus Masjid Cipaganti ketika itu disebutkan bahwa Masjid Cipaganti sudah berdiri sekitar 100 tahun sebelumnya. Berarti sekitar tahun 1830-an.

Bagaimana bisa berdiri masjid di sana, tak lepas dari dipindahkannya cutak atau asisten wedana dari Merdika ke Cipaganti. Saat itu, wilayah Cipaganti masih berupa perkampungan yang isinya orang-orang pribumi. Karena ada perkampungan, Bupati Bandung pun memerintahkan pembangunan masjid di sana.

AYO BACA : Bandoeng Baheula: Arsitek Wolff Schoemaker, Antara Islam dan Katolik

Seorang tuan tanah yang tinggal di Cipaganti yang bernama Tojib, merelakan tanahnya digunakan untuk masjid. Terlebih bupati berjanji akan mengembalikan tanah itu kepada Tojib kalau masjidnya dibongkar.

Halaman:

Editor: Adi Ginanjar Maulana

Tags

Terkini

13 Buku Karya Mohamad Koerdie Alias Sjarif Amin

Jumat, 19 November 2021 | 14:47 WIB

Nenek Moyang PT KAI, Perusahaan Kereta Api SS di Bandung

Kamis, 30 September 2021 | 09:30 WIB

Filosofi Arsitektur dan Sejarah Masjid Salman ITB

Kamis, 12 Agustus 2021 | 16:52 WIB

Kisah Huru-hara di Balik Berdirinya Pasar Baru

Rabu, 4 Agustus 2021 | 21:20 WIB
X